
Kamis 10 April 2008, untuk kesekiankalinya saya turut mewisuda Mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul-Jakarta Barat, tempat dimana saya menjadi pembantu dekan bidang akademik di fakultas hukum lima tahun terakhir, sekaligus salah seorang anggota Senat Akademik Universitas.
Rasa senang menyelimuti saya. Dosen mana sih yang tidak senang mahasiswanya lulus studi dan diwisuda? Namun, di sela-sela keriaan itu ada juga rasa galau. Galau karena masa depan para lulusan baru ini penuh ketidakpastian. Apalagi salah seorang teman berbisik : "Iya elo sekarang senang diwisuda, tapi besok nganggur lo !"
Memang, nasib dan masa depan tidak sepenuhnya ditentukan manusia. Ada Zat Maha Rahman yang menentukan segalanya. Namun , tetap saja hati ini galau. Karena lulusan-lulusan tahun sebelumnya (tidak hanya di kampus ini) belum juga mendapat pekerjaan, ataupun belum juga dapat menciptakan pekerjaan.
Terkadang ada semacam kegelisahan. Bahwa universitas hanya membekali ilmu seorang mahasiswa namun tidak menyiapkannya untuk mengimplementasikan ilmu tersebut. Universitas hanya mencetak sarjana, namun 'gagal' mencetak profesional atau entrepreneur yang siap kerja atau siap meng-create pekerjaan.
Dan tidak hanya mahasiswa yang baru lulus. Para sarjana-pun sama. Sebagai pembantu dekan bidang akademik, sudah tak terhitung banyaknya saya menerima lamaran untuk menjadi dosen di kampus ini. Padahal, semua juga paham bahwa pendapatan sebagai dosen saja seringkali juga tak mencukupi.
Di sisi lain, angka pengangguran di Indonesia terus meningkat. Angka kemiskinan meningkat. Harga-harga meroket, sebaliknya daya beli semakin melemah. Human Development Index Indonesia masih terpuruk (urutan 107 dari 177 negara) dan prestasi korupsinya masih tinggi (ketiga terkorup di Asia versi PERC 2008). Di sisi lain kriminalitas dan kemaksiatan tak kunjung berkurang. Climate change, global warming dan bencana alam serta bencana transportasi turut menambah duka bangsa.
Memang, tak guna bersikap pesimis. Lebih baik berkepala tegak dan memandang optimis masa depan bangsa dengan segala potensi dan kesempatan yang dimiliki. Seperti yang diajarkan juga oleh buku-buku self help, personal development, dan achievement motivation.
Banyak negeri yang tak seberuntung Indonesia dalam hal SDA, sebutlah Korea, Taiwan, Jepang, New Zealand dan Nordic Countries, namun toh jauh lebih maju dari Indonesia.
Maka, bersenang-senang saat wisuda saja tak cukup. Hadapi masa depan dengan tiga hal : kerja keras, kerja keras dan kerja keras (dan tentu saja do'a).
Jadi teringat masa lalu, saya pernah dua kali menolak ikut wisuda. Pertama saat diwisuda Diploma Politeknik Universitas Indonesia tahun 1996 (ini karena alasan sosiologis dan ekonomis) dan kedua saat wisuda program Master of Law -LL.M di Northwestern Law School Chicago tahun 2003 (ini karena alasan ideologis, bentuk penentangan terhadap invasi USA ke Irak).
wallahua'lam