Heru's posts with tag: chusnul

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag chusnul
Pengantar :
Berikut tips menarik memperoleh beasiswa berdasakan pengalaman dan pengetahuan Dr Chusnul Mar'iyah, pengajar Ilmu Politik FISIP UI dan mantan anggota KPU (sumber : ISNET mailing list)

wassalam,

Heru Susetyo

------------ --------- ------

Chusnul Mariyah <cmariyah2004@ yahoo.com> wrote:

Menjemput Beasiswa (3 tulisan)

Dari beberapa diskusi ada beberapa pertanyaan tentang beasiswa. Saya
ingin membagi pengalaman menjemput beasiswa. Paling tidak sejak SPG
(Sekolah Pendidikan Guru) sampai mengambil pendidikan Ph.D saya selalu
mendapatkan beasiswa.

1. Pada saat SPG (setingkat SMA) saya menerima beasiswa selama 2 tahun
terakhir. Kualifikasi mudah sekali selama kita bisa menunjukkan ranking
1 sampai 3, kita mendapatkan beasiswa. Ada juga scheme beasiswa untuk
orang miskin.

2. Pada saat pendidikan Sarjana di FISIP UI, saya menerima beasiswa
 dari
Diknas sejak tingkat 2, setelah tentu saja kita menunjukkan prestasi
akademik.

3. Pada saat saya menjadi anggota Senat Mahasiswa FISIP UI, dengan
 Ketua
Senat sdr. Imam Prasodjo, kebetulan saya memegang posisi ketua bidang
pendidikan. Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses
transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan
beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu
rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah
 saja).
Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya
langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke
mahasiswa. Akhirnya saya dapat pindah beasiswa ke Toyota Foundation.
Maka saya sangat kaya saat menjadi mahasiswa waktu itu. Penguasa,
termasuk di universitas, biasanya tidak memberikan informasi jauh hari
kepada mahasiswa. seringkali tinggal beberapa hari, sehingga kita tidak
dapat mengurus beasiswa tersebut karena sudah ditutup.

4. Pada saat yang sama saat di SM FISIP UI, saya juga menjadi
 Sekretaris
Komisariat HMI FISIP UI. Saya melihat bahwa banyak anggota HMI ternyata
miskin-miskin. Bersamaan dengan program SM FISIP UI, saya yang miskin
dan sudah dapat beasiswa, saya panggil orang-orang miskin tsb dan
membuat strategi untuk mendapatkan beasiswa. Belajar diperbaiki,
kualifikasi akademik diperbaiki. Alhamdulillah kita yang miskin-miskin
akhirnya menjadi pinter-pinter dan mendapatkan beasiswa.

5. Pada saat selesai kuliah saya ingin ke luar negeri. Posisi
 Sekretaris
Jurusan Ilmu Politik FISIP UI saya manfaatkan untuk membangun relasi
dengan berbagai lembaga beasiswa. Saat itu juga saya memiliki teman
 anak
Menteri Pendidikan. Saya bilang bahwa saya membutuhkan beasiswa. Dia
 mau
bantu, tapi saya menolaknya. Saya katakan kalau 3 kali saya menjemput
beasiswa dan gagal barulah saya akan meminta katabelece dari teman yang
anak Menteri Pendidikan tsb.  

6. saya mendapatkan beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk
mengambil MPhil Houners Degree di Sydney University. AII ini sebetulnya
tidak tertarik untuk memberikan program beasiswa yang lama (2 tahun).
Program AII menurut saya hanya untuk mendapatkan nama di media sehingga
programnya lebih berupa short visit, seperti  memberi beasiswa kepada
Christine Hakim, Gunawan Muhammad dkk mereka. Alhamdulillah saya
mendapatkan beasiswa tersebut selama 2 tahun dan itu satu-satunya
program AII sampai saat ini.

7. Saya menyadari kebencian saya terhadap bahasa Inggris, karena dari
SPG Lamongan, kuliah di FISIP UI, teman-teman saya kalau dilihat tempat
lahirnya, London, Washington, Manila, Maroko, Amsterdam. Nah, sebagai
orang ndeso Babat tembak langsung ke Jakarta, sebel juga saya dengan
Bahasa Inggris, walau di mata kuliah Bahasa Inggris tetap mendapat
 angka
8 (delapan). Sangat disadari bahasa inggris yang pas-pasan tersebut.
Alhamdulillah saya lumayan IELT nya. Setelah 5 bulan benar-benar
konsentrasi belajar bahasa Inggris, meninggalkan aktivitas LSM dan
lain-2nya. Untuk dapat masuk di Sydney University paling tidak harus
 7,5
IELT yang harus didapatkan. Saya termasuk yang tidak mendapatkan 7,5,
saya lupa mungkin hanya 6,5 IElT tapi tetap dapat masuk di Sydney
University (the first university in Australia).

8. Satu tahun di program Department of Government (Politics), saya
ditawari untuk upgrade ke Ph.D Program yang kebetulan ketua
Departemen-nya Prof. Michael Leigh adalah ahli Asia Tenggara (Malaysia)
istrinya ahli Aceh. Saya tinggal dengan keluarga tersebut. Supervisor
saya tidak mengerti Indonesia, karenanya saya menulis tentang Urban
Politics in Australia. Secara administrasi saya tidak mendapatkan surat
dari Dikti. Saya sudah menunggu setiap hari selama 2 minggu tapi Dikti
tidak memberikannya. Saya bilang ya sudah, langsung ke Kedutaan
Australia, saya katakan masalah saya, dan langsung dibuatkan surat.
 Saya
mendapatkan tambahan 5 tahun beasiswa dari AUSAID. Saya tidak memiliki
degree Master tapi langsung mendapatkan Ph.D walau pada awalnya bahasa
inggris pas-pasan.

Bagian 2

Menjemput beasiswa (2): Informasi beasiswa tidak merata

1. Sebagai Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI 2000-2003,
saya mencoba untuk secara afirmatif membantu mahasiswa untuk
 mendapatkan
beasiswa dengan mencarikan melalui kerjasama maupun mencarikan
 informasi
dari lembaga-lembaga beasiswa yang ada. Alhamdulillah, pada periode
 saya
menjadi Ketua Program Pascasarjana, banyak mahasiswa yang mendapatkan
beasiswa. Kalau tidak bisa memperoleh beasiswa, saya punya program
mahasiswa dapat hutang ke Program Pascasarjana dan kemudian membayarnya
secara bertahap. Kalau tidak bisa membayar, saya memberikan pekerjaan
 di
Program Pascarasjana supaya hutangnya bisa dilunasi.
 
2. Beasiswa dari USAID, saya melihatnya sangat elitist. Tapi saya belum
pernah mencoba. Pertama, yang mendapatkan beasiswa adalah mereka yang
memiliki bahasa inggris sangat bagus. Tidak ada program untuk training
Bahasa Inggris, sepengetahuan saya. Mungkin saya salah. Itu info yang
dahulu kala saya akan coba. Kedua, koneksi menjadi sangat penting,
sirkulasi elit sangat penting (sirkulasinya elit terbatas). Silahkan
dari teman-teman yang telah mendapatkan beasiswa dari USAID dapat
 share.
Saya sendiri setelah selesai mendapat Ph.D baru mendapatkan beasiswa ke
Amerika Serikat untuk short course program yang 3 bulanan tentang
Federalism and Scholarly Aproaches pada tahun 1997. Pada waktu itu di
kantor USAID di washington saya katakan perlunya untuk memperluas
 target
beasiswa agar merata untuk Indonesia dari Merauke sampai Sabang.

3. Beasiswa ke Inggris, koneksi menjadi penting, selain Bhs Inggris
 juga
penting. Saya membantu beberapa asisten dosen saya baik yang bahasa
Inggrisnya pas-pasan maupun yang sudah bagus untuk dapat beasiswa ke
Inggris. Alhamdulillah sebagian besar lolos.


4. Beasiswa ke Australia, memiliki model target yang lebih jelas, 50%
untuk perempuan, Bhs Inggris so so, karena Australia memiliki program
untuk memberikan training bhs Inggris sampai 5 bulan di Indonesia.
Bahkan masih dapat ditambah 8 minggu Bridging Course di Australia.
Konteks dari Indonesia Timur dan Aceh (sekarang banyak sekali beasiswa
untuk Aceh baik ke Australia maupun ke Amerika). Walaupun akhirnya
 bukan
orang Aceh yang mendapatkannya. Koneksi atau rekomendasi dari dosen di
Australia menjadi sangat penting untuk keberhasilan beasiswa tersebut.
Bagaimana caranya, tulis email saja langsung dengan professor atau
 dosen
di perguruan tinggi Australia yang topiknya mirip dengan studi yang
 akan
diambil. Kemampuan untuk membuat proposal yang akan dinilai. Apakah
topiknya seksi atau tidak? Contoh, akan mudah mendapatkan beasiswa
 kalau
anda mengambil topik tentang politik Papua, Timor Timur atau Aceh. Ada
kawan saya yang mengambil topik pemikiran politik berkali-kali tidak
pernah bisa lolos. Dengan peta politik isu teorisme menjadi isu
primadona untuk penerima beasiswa. Apalagi sekarang, baik AUSAID maupun
USAID kelihatannya sangat senang untuk memberikan beasiswa dari IAIN
atau kelompok Islam. Anda yang dari HMI dapat menggunakan kesempatan
ini. Di Australia, sebagian besar yang ambil Master dan Ph.D Ilmu
Politik berlatar-belakang dari IAIN.

5. Makanya dalam Miriam Budiardjo Lecture yang diselenggarakan oleh
IAIPI di LIPI bulan lalu, saya dalam lecture tersebut mengatakan bahwa
profesi Ilmu Politik sudah diambil alih oleh IAIN, bahkan anggota KPU
diketuai oleh Doktor dari IAIN (dari dua prof di KPU, satu IAIN satunya
lagi pertanian). Mudah-2an 3 lulusan IAIN di KPU tersebut Iqra terlebih
dahulu. Bagi anda yang lulusan IAIN sekarang sedang seksi sekali karena
Islam dianggap  sumber "teroris" so, mereka akan memberikan beasiswa
untuk topik-2 politik Islam. Itu analisa saya. There is no such a free
lunch. Beasiswa juga demikian. Penerima beasiswa harus percaya diri,
jangan kemudian lupa kepada akar dan bangsanya sendiri.

6. Saya pernah menjadi bagian untuk menentukan beasiswa dari Belanda.
Sayangnya saya harus berhenti karena mereka menganggap saya koruptor di
KPU. Anyway, Belanda juga memiliki program untuk kelompok Islam dari
Ambon, tapi tidak banyak informasi tersebut yang sampai ke kelompok
Islam. Menurut mereka, mereka menyadari memberikan beasiswa hanya
 kepada
kelompok Kristen tidak menjawab persoalan konflik Islam-Kristen di
Ambon. Belanda melalui Studenet-nya cukup banyak memiliki beasiswa
 untuk
program-program pendek yang dapat dirancang sendiri. Walaupun ke
 Belanda
juga harus tetap memiliki bahasa inggris minimal.

7. Dari berbagai Negara, Perancis, Jepang, Jerman, negara Skandinavia
(seperti Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia), keberhasilan studi di
negara-negara yang bukan berbahasa inggris adalah kemampuan kita untuk
secara cepat belajar bahasa setempat. Seperti di Jepang, kalau kita
belajar social sciences, perpustakaan yang ada dalam bahasa Jepang
semua. Tentu saja mereka juga punya bahasa inggris. Kecuali bagi mereka
yang belajar science dan technology. Demikian pula di Jerman, adik saya
yang katanya sebelum berangkat dikatakan 50% akan menggunakan bahasa
inggris, pada prakteknya 75% bahasa Jerman. Silahkan teman-teman yang
lulusan dari negara tersebut berbagi pengalamannya. saya sendiri pernah
ke Jepang ke Hosei University hanya untuk program pendek saja.

8. Dari negara-negara Timur Tengah, saya tidak terlalu tahu, kecuali
saya pernah berbicara dengan kedutaan Iran untuk memberikan beasiswa
untuk mempelajari politik Iran. Sayang belum sempat saya lanjutkan
pembicaraan tersebut.

9. Beasiswa dari lembaga-lembaga dalam negeri, dulu ada OTO Bapenas
(loan sifatnya, tapi negara yang membayar). Saya pernah untuk beberapa
tahun terlibat untuk menentukan beasiswa dari Ford Foundation. OSI
 (Open
Society Institute) juga memberikan beasiswa untuk Master ke Budapest
(Central European University) dsb.

10. Masih ingat beasiswa BPPT dari sejak Lulus SMA? itu sifatnya hutang
atau loan. Negara memang yang membayar bukan penerima beasiswa. Ke mana
lulusannya? Menurut saya mustinya lulusan beasiswa tersebut harus dapat
melakukan kerja dengan disebar ke kabupaten/kota, dan negara memberi
insentif dan program untuk teknologi terapan. Bisa anda bayangkan para
insinyur lulusan luar negeri membangun teknologi di kabupaten/kota di
Indonesia? Dengan demikian kabupaten/kota se Indonesia akan berkembang.
Daripada di kantor BPPT dan di Bandung (perusahaan pesawat terbang yang
selalu demo terus-menerus) . Tidak tahu bagaimana pemerintah
menyelesaikan masalah tersebut? Kenapa tidak ditawarkan ke
 daerah-daerah
saja? Kasihan Pak Habibie terpaksa harus mencarikan kerja bagi mereka
 di
Jerman, Perancis atau Belanda? Padahal mereka dibayar oleh uang rakyat
Indonesia, bukan?

Bagian 3 (terakhir)
 
Sukses mendapatkan beasiswa dan sukses studinya

1. Untuk sukses studi terdapat berbagai factor, di antaranya dapat
memilih topik yang sedang diminati oleh kebijakan dari negara pemberi
beasiswa. Hal tersebut terutama untuk social sciences. Apa yang sedang
diminati dan membuat topik yang sesuai dengan yang diminati serta
 sesuai
dengan minat kita. Paling tidak harus ada kompromi. Menulis proposal
harus pula jelas dan tajam. Jangan malu-malu bertanya.

2. Bahasa Inggris, menjadi hambatan untuk kita yang biasanya dari
daerah-2. Nah, kita perlu belajar dengan rajin mendengarkan berita
 dalam
bahasa Inggris, misalnya. Juga harus ada keinginan yang besar dan niat
yang kuat untuk bisa bahasa Inggris. Saya yakin kita semua bisa.
 Apalagi
yang memiliki kemampuan multi bahasa, ada bahasa Jawa, bahasa
 Indonesia,
bahasa Arab, atau bhs lainnya. Belajar bahasa Inggris tidak sulit.

3. Saya sendiri berangkat dengan bahasa Inggris pas-pasan. Bahkan ada
professor serta teman mengatakan, kamu berani sekali mengambil Ph.D
dengan bahasa Inggris pas-pasan. Well .. jangan takut, EGP saya dapat
beasiswa kok. Asal anda mau belajar, semua menjadi mudah. Saya punya
strategi sendiri. Setelah di Australia, saya tidak tinggal dengan orang
Indonesia, ya kalau orang Indonesia numpang beberapa waktu di tempat
saya iya juga, tapi tidak lama. Tidak terlalu banyak bermain dengan
orang Indonesia. Maaf, walau sering dianggap sombong, wah ya biarkan
saja. Ini mau belajar, bahasa Inggris yang pas-pasan itu, kalau dengan
orang Indonesia ya bahasa Inggrisnya tidak maju-maju. Termasuk saya
dapat memaksa para ahli Indonesia tidak berbicara bahasa Indonesia
dengan saya. Masuk di kelas malam sebelumnya harus banyak membaca
 supaya
besoknya mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dosennya. Harus ada
minat yang kuat dan mempraktekkan bahasa tsb. Jangan takut salah. Bisa
dihitung satu dua saja orang asing yang menulis tesis dalam bahasa
Indonesia, kita menulis tesis dalam bahasa Inggris. Jadi masih lebih
bagus kan? Percaya diri harus bisa bahasa Inggris. Tapi jangan sok
pinter. Intinya belajar, belajar, dan belajar, baca, baca dan baca.
Bangun pagi alarmnya, news dalam bahasa Inggris. Paling tidak
membutuhkan 6 bulan proses tersebut. Setelah 6 bulan, alhamdulillah
membaca buku, artikel, berteman dengan orang Indonesia dan bicara Bhs
Indonesia, sudah tidak takut bahasa inggrisnya hilang. Bahkan pada
semester 3 saya sudah ditawari untuk menjadi tutor mata kuliah South
East Asian Politics di Sydney University (selama lima tahun) yang
memiliki mahasiswa sampai 70 orang, artinya sampai memiliki 5 kelas
tutorial. Nah, terpaksa harus berbicara bahasa Inggris kan? Gramar
 salah
tidak usah takut, tapi tetap harus belajar.  

4. Menulis disertasi atau tesis itu sendirian, lama dan lonely, makanya
memang harus memilih topik yang menarik. Menulis disertasi di luar
negeri harus mengubah budaya di Indonesia. Mahasiswa kebiasaannya hanya
menulis pada satu tahun terakhir. Di luar negeri, kalau bisa sejak
berada di negeri tersebut imannya harus kuat, topik jangan berubah-ubah
namun boleh terus-menerus dipertajam, menulis langsung dalam bahasa
inggris, jangan bahasa Indonesia terus diterjemahkan. Jangan
 menggunakan
kamus Inggris-Indonesia, tapi gunakan kamus Inggris-Inggris. Hal
tersebut akan membantu anda dalam menulis dan memahami. Cintailah
 bahasa
inggris tersebut supaya lebih cepat dapat mengerti.

5. Rekomendasi menjadi penting. Contoh, kenapa dari kelompok pemuda NU
sekarang banyak yang sekolah ke luar negeri dibandingkan pemuda
Muhamadiyah? Kelompok laki-lakinya tentu lebih banyak dari perempuan?
Kelompok Kristen lebih banyak dibanding Muslim (secara prosentase)?
Sekarang IAIN mendapatkan prioritas diterima. Kesemuanya itu adalah
berhubungan dengan rekomendasi, baik dari Indonesia maupun dari team
dari negara pemberi beasiswa. Saya yakin kelompok HMI memiliki akses
rekomendasi di seluruh dunia. Di sini penting bagaimana rekomendasi
tersebut dapat menarik atau dapat "menjual diri" dengan baik. Saya
dahulu karena rekomendasi dari Prof. Richard Chauvel, bahkan beliau
sampai mencarikan siapa yang akan menjadi pembimbing saya. Prof.
 Richard
Chauvel adalah dosen tamu yang mengajar politik Australia di UI selama
 4
tahun. Pertemanan dengan beliau sudah banyak menghasilkan lulusan
Australia.

6. Menurut saya para alumni harus membangun institusionalisasi beasiswa
dengan membuat lembaga pemberi beasiswa, atau dapat berbicara dengan
negara pemberi beasiswa. Oleh karena itu perlu dimulai pembentukan
lembaga untuk mengumpulkan dana abadi untuk dapat memberi beasiswa.
 Saya
agak risi kalau setiap awal semester harus meyakinkan kepada senior
bahwa mahasiswa ini membutuhkan beasiswa untuk membayar uang SPP kalau
tidak akan di DO.

7. Alumni yang ada di pemerintahan dapat pula bernegosiasi untuk
membangun network dengan negara pemberi beasiswa. Hal ini dapat
dilakukan melalui kegiatan2 selain diskusi-2 seperti biasanya. Contoh,
Wakil Presiden dan para direktur-2nya. Katakan, kalau AUSAID memberi
sampai 500 beasiswa, kenapa tidak Wakil Presiden meminta 10 saja dengan
menentukan scheme sendiri. Untuk Australia bisa ada scheme ADS, ALA,
APS, Alison Sudrajat, atau yang langsung dengan universitas yang
bersangkutan. Ada beasiswa lengkap dengan biaya hidup, ada yang hanya
tuition fee. Demikian pula dengan beasiswa dari berbagai departemen
seperti Departemen Keuangan yang sangat kaya itu. Mustinya semua
departemen melakukannya. Kenapa jadinya Departemen Pendidikan bingung
menghabiskan dana 20% APBN? Saat ini Departemen Pendidikan sedang
memberikan beasiswa yang sangat banyak bagi model Sandwich program 1
tahun di luar negeri untuk S3 atau S2 juga? Lembaga dapat memberikan
fasilitas untuk informasi tersebut.

8. Sebagai Ketua Program Pascasarjana Politik FISIP UI pada tahun
2000-2003 dulu, saya seringkali dikeluhkesahi oleh mahasiswa yang tidak
dapat uang dari senior-seniornya. Saya berfikir kenapa senior lebih
 suka
memberi uang kepada mahasiswa sekali-kali, dibandingkan kepada lembaga
yang memberikan beasiswa tersebut? Mungkin senior akan dapat membangun
konstituen atau klik atau apa saja dengan memberikan uang kepada
mahasiswa tersebut, semacam balas budi? Kenapa tidak dilakukan
institusionalisasi untuk dapat memberikan beasiswa dengan visi dan
misinya? Tentu saja tidak dilarang tetap memberikan zakat berupa
beasiswa kepada mahasiswa tertentu.

9. Beasiswa untuk program jangka pendek sangat banyak sekali. Silahkan
rajin-rajin mengikuti program pendek tersebut. Bahkan saat ini setelah
selesai dengan KPU, saya mendapatkan ALA Research Fellowship di
 Victoria
University, Melbourne. Karena seorang kolega saya (lagi-lagi Prof.
Richard Chauvel) sangat prihatin dengan kondisi saya di KPU pasca
 pemilu
2004. Beliau dengan Prof. Michael Meigh dan Dr. Barbara Leigh
mencarikan jalan untuk dapat mengundang saya ke Australia, untuk
 disuruh
membaca, menulis dan memberi kuliah. Mereka sangat menghargai
 pengalaman
politik kita, walau saya berfikir kok bangsa sendiri malah seringnya
hanya menghujat dan meremehkan ya? Itu namanya nasib dan takdir
barangkali ya?

10. Semua beasiswa dari negara-negara maju dapat diakses melalui
internet. Silahkan cek saja melalui Google, anda akan mendapatkan
informasi beasiswa apapun. Jangan terlambat. Saya yakin banyak orang
yang memiliki pengalaman yang sama dalam hal ini dapat share
pengalamannya. Bagi mereka yang ingin mendapatkan beasiswa dan sekedar
bertanya dengan senang hati dapat langsung beremail kepada saya.
 Selamat
untuk menjemput beasiswa dan selamat belajar.

Salam,
Chusnul Mar'iyah
www.chusnulmariyah. or.id
cmariyah2004@ yahoo.com

     
Melbourne, 13 April 2008
Chusnul Mar"iyah



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help