 | Category: | Books | | Genre: | Health, Mind & Body | | Author: | Consumer Association of Penang (CAP) |
Kenapa kita harus bersepeda? buku ini memaparkan bahwa sepeda adalah mesin yang paling efisien yang pernah diciptakan. Apabila nilai kalori dikonversi ke bensin, maka sepeda hampir sama dengan 3000 miles per gallon. Pengendara sepeda yang bersepeda setiap hari memiliki tingkat kebugaran sepadan dengan orang yang sepuluh tahun lebih muda usianya. Di London, bersepeda adalah lebih cepat daripada mobil, bus, ataupun taksi. Pengendara sepeda hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk mencapai jarak 5 miles, sementara kendaraan bermotor di atas lebih lama. Di Bangkok, para pengendara kendaraan bermotor rata-rata menghabiskan 44 hari kerja dalam setahun di mobilnya, tanpa bisa bergerak kemana-mana, karena kemacetan yang maha dahsyat.
Apa keuntungan bersepeda ria? buku ini menjelaskan bahwa bersepeda adalah murah, sederhana, dan dapat diandalkan. Sepeda tidak memerlukan pajak, lisensi, asuransi, bensin, dan mudah dibuat serta dipelihara. Menggalakkan penggunaan sepeda akan mengurangi pengeluaran rumah tangga dan negara untuk kendaraan bermotor. Penggunaan sepeda juga dapat membakar kalori lebih banyak dengan energi yang lebih sedikit, dibandingkan pejalan kaki. Selanjutnya, sepeda tidak mencemarkan udara, lebih aman untuk pejalan kaki (kesenggol sepeda jelas lebih baik daripada kesenggol mobil atau bus), dan menghemat tempat. Kota dapat menghemat space dan uang untuk mengkonstruksi highway, tempat parkir mobil, flyover. Satu tempat parkir mobil dapat dihuni oleh sekitar 20 sepeda,
Apa yang pemerintah dapat lakukan untuk menggalakkan penggunaan sepeda ? 1. Membuat kebijakan khusus tentang penggunaan sepeda. 2. Merubah mindset masyarakat yang menjadikan mobil sebagai prioritas. 3. Men-discourage penggunaan mobil di dalam masyarakat. 4. Melaksanakan kampanye dan pendidikan penggunaan jalan yang sehat dan selamat antara pengguna mobil dan sepeda. 5. Mengalokasikan biaya khusus untuk membangun sistem dan fasilitas transportasi ramah sepeda. 6. Membangun fasilitas untuk sepeda dan pengguna sepeda di tempat-tempat publik. 7. Melaksanakan kampanye keselamatan bersepeda yang didukung kebijakan dari pemerintah.  Sanju-roku or sam sib hok keduanya bermakna `tiga enam` dalam bahasa Jepang dan Thai, dua bahasa yang belakangan tengah saya akrabi. Kenapa tiga enam, karena konon menurut penanggalan Masehi, pada 13 Januari 2008 saya tepat berusia tiga puluh enam tahun. Jelas usia yang sudah tidak muda lagi, walaupun juga tak bisa disebut tua. Beberapa teman yang berusia tigapuluhan ke atas kadang malu menyebut usianya selain mengatakan ...I`m thirty something.
Masalah yang lebih penting adalah pencapaian apa yang telah dicapai pada usia ini, jangan bandingkan dengan Alexander the Great yang usianya berhenti pada 33 tahun namun telah menaklukkan Yunani Kuno, Asia Barat, Mesir, Persia, sampai batas negeri India. Atau Benazir Bhutto yang menjadi PM pada usia 35 tahun, atau Soekarno-Hatta yang menggagas kemerdekaan Indonesia pada usia twenty something... Catat saja amalan mana yang lebih banyak so far, apakah amalan buruk ataukah amalan baik.
Yang jelas, ulang tahun adalah saat tepat untuk bermuhasabah. Bahwa usia semakin tua, ajal barangkali semakin dijelang, dan pengadilan hari akhir tengah menanti. Maka, ucapan happy birthday saja tak berarti apa-apa apabila tak membuat hati menangis dan mata bersembab, karena tak jelas kapan akan menghadapi pengadilan hari akhir. Seperti drama sakitnya Soeharto, program Channel News Asia TV yang kerap saya tonton setiap hari hampir setiap sehat menyajikan kondisi kesehatan Soehartondi RSPP, mujlai dari `critical`, `very critical`, `multiple organ failures`. Sampai-sampai news reader TV tersebut mengakatakan pada Jum`at malam 11 Januari 2008 : "Vice President Jusuf Kalla, highest official in Indonesia now since President SBY flew to Malaysia, has paid a visit to Soeharto`s, he is acting as an official witness from Indonesian government to witness Soeharto`s death". Sang pembaca berita membaca dengan tenang dan saya terkesiap dan bertanya, kok tahu-tahunya sang pembaca berita mengatakan bahwa Soeharto akan segera mati? Nyatanya, Malaikat Izrail memang belum memanggil Soeharto hari Jum`at kemarin, pun dua hari setelahnya. Maka, jelas tak ada yang tahu kapan hari dan saat meninggal seseorang selain Zat Yang Maha Tahu. Maka, jelas juga tak ada manusia yang memberi selamat pada sesamanya : Selamat Hari Kematian...karena ketiadaan informasi yang jelas kapan seseorang akan mangkat.
Selamat bermuhasabah dan bermutaba`ah, karena kullu nafsin dzaaiqatul maut...
 Hari Jum`at 11 January 2008 saya menghadiri kuliah umum Dr. Mary Callahan (Univ. of Washington) di Faculty of Liberal Arts, Thammasat University, Phra Chan Campus, persis di tepi sungai Chao Phraya. Tema kuliah ini adalah "Human Rights Violation and Poverty in Burma." Berikut excerpts dari kuliah Mary :
Rally/ long march akbar yang dilakukan oleh para Burmese monks pada 18 - 25 September 2007 adalah salah satu cara untuk menyampaikan message pada dunia bahwa rakyat Burma tengah berada dalam penderitaan. Dan ini bukan hal yang pertama kali. Sejak tahun 1962, saat dimana General Ne Win memegang tampuk kekuasaan, rakyat Burma mulai memasuki era mimpi buruk. Tahun 1988 kondisi semakin buruk ketika junta militer, dipimpin beberapa Jenderal Senior (Than Shwee) merebut tampuk kekuasaan. Padahal pada tahun 1950-an Burma adalah negara paling modern di Asia Tenggara (in a state of modernity), lebih maju daripada Thailand bahkan. Long march bulan September silam dilakukan oleh para progressive monks. Dimana mereka sebelumnya juga menolak pemberian darma dari militer dan keluarganya (alm bowl). Padahal, adalah suatu tradisi dimana setiap pagi hari monks berkeliling untuk mengumpulkan derma dalam piring sebagai kesempatan bagi Buddhist people untuk beramal baik. Misi lain dari protes para monk adalah untuk mengatakan pada dunia bahwa mereka menghendaki pergantian rezim/ junta militer yang kini ditampu oleh Senior General Than Shwee, pimpinan SPDC (State Peace and Development Council). Juga untuk pembebasan pemimpin informal Burma- National League for Democracy, Daw Aung San Suu Kyi, yang telah 12 tahun menjalani tahanan rumah (house arrest).
Wajah Burma di masa Junta Militer sungguh mengenaskan. Indeks HDI (Human Development Index) Burma adalah menempati urutan no. 132 dari total 177 negara. 90% dari penduduknya berpenghasilan kurang dari 65 cents/ hari. 70% rumah tangga mengalami kekurangan pangan. Rakyat tewas setiap hari karena penyakit yang tak dapat dicegah. 60.000 anak-anak tewas karena diare dan gangguan pernapasan setiap tahunnya. Sepertiga anak-anak di bawah usia lima tahun mengalami malnutrisi. Setengah dari jumlah anak-anak tidak menamatkan pendidikan dasar. Rakyat juga mengalami minim akses terhadap listrik, akses yang terbatas terhadap air bersih, dan 90% penduduk tak bisa mengakses layanan perbankan karena sistem perbankan collapsed pada tahun 2003. Hal ini membuat Burma menjadi negara termiskin di tengah kawasan terkaya dunia, Asia Tenggara.
Ironisnya, pada tahun 2006, General Than Shwe menyelenggarakan pernikahan putrinya yang menyedot biaya tiga kali lebih besar dari anggaran kesehatan Burma. Total wedding gift yang diterima pengantin baru tersebut senilai dengan USD $ 50 juta.
Di sisi lain, junta militer terus menangguk rezeki dari kekayaan alam Burma. India, Thailand, China, Singapore dan MNCs lainnya, memiliki kerjasama dagang yang baik dengan Burma utamanya di bidang perkayuan, minyak dan gas bumi.
Apakah solusi terbaik untuk Burma? Mary Callahan tak sepakat bila berwujud sanksi ekonomi, karena sanksi tersebut lebih sering mendera rakyat yang tak berdosa daripada sang junta militer. Maka, smart sanctions yang designate only to juntas adalah salah satu alternatif.
Disamping itu, yang wajib menjadi perhatian adalah kondisi minoritas muslim Burma yang tinggal di Arakan/ Rohingya, bagian barat Burma berbatasan dengan Bangladesh. Kondisi mereka sungguh menyedihkan. Berstatus stateless, tak diakui sebagai warga oleh rezim Burma. Jumlahnya sekitar 100.000 jiwa, kendati menurut muslim Burma jumlah mereka adalah 10% dari total populasi Burma. Kendati minim pengakuan, namun minoritas muslim Burma turut berjuang bersama para monk untuk pergantian rezim di Burma.
 assalamualaikum wr wb Sekedar peduli politik lokal... Hasil pemilu Thai hari Ahad 23 Des kemarin bak buah simalakama bagi rezim PM Surayud. Ternyata pemenangnya PPP pimpinan Samak Sundaravej mengalahkan Partai Demokrat pimpinan Abhisit Vejjajiva. Namun demikian PPP masih kekurangan 7 atau 8 kursi untuk dapat membentuk pemerintahan/ kabinet (at least 240 kursi out of 480 kursi parlemen). Therefore, PPP mesti berkoalisi dengan partai lain. Yang menarik, suara pemilih muslim sepertinya lebih condong ke Partai Demokrat daripada PPP. Karena Demokrat unggul telak di Zone 8 (Nakhon Si Thammarat, Krabi, Phang Nga, Phuket, Surat Thani, Songkhla, Satun, Trang, Phatthalung, Pattani, Yala, Narathiwat,) dan unggul sedikit di Bangkok Area (Bangkok city, Nonthaburi, Samut Prakan). Statistik menunjukkan bahwa mayoritas muslim Thai berdomisili di Patani, Yala, Narathiwat, dan Satun (>70%) Songkhla (>50%) Krabi, Phang Nga, Phuket, Nakhon Si Thammarat, dan Bangkok area (10% - 30%). Maka, dapat disimpulkan bahwa muslim Thai lebih banyak memilih partai Demokrat. Sebaliknya, PPP unggul telak di North dan Northeast Thailand, dan unggul tipis di Central Thailand. http://203.150.244.10/reports/eng/zone.php?zone=8&http://203.150.244.10/reports/eng/area.phpMengapa mayoritas muslim memilih partai Demokrat? wallahua'lam wassalam, Heru  Dalam sepekan terakhir ini warga Thailand gemar mengenakan baju hitam. Pasalnya, kakak Raja Bhumibol yang bernama Galyani Vadhana meninggal persis pada malam pergantian tahun 1 Januari 2008. Maka rakyat dititahkan menggunakan pakaian hitam dalam rangka berduka.
Dan rakyat nurut. Nurut secara otomatis tanpa reserve. Sama seperti mereka seketika menggunakan pakaian warna kuning sejak tahun 2006 sebagai pertanda loyal pada Sang Raja pasca kudeta tak berdarah tahun 2006. Kenapa kuning? karena raja lahir di hari Senin dan warna hari Senin adalah kuning. Maka, setiap hari Senin di Thailand, utamanya di Bangkok, bertebaranlah warga berkuning-ria.
Warna lain yang mengemuka adalah pink. Sejak raja sakit dan dirawat nyaris sebulan di Siriraj Hospital medio Oktober - November 2007, rakyat berduka abis. Maka, ketika raja keluar dari rumah sakit dengan mengenakan kaos berwarna pink, rakyat pun seketika menggunakan warna pink. Baik lelaki maupun perempuan.
Bukan itu saja, setiap hari Jum`at rakyat mengenakan baju biru, untuk mengapresiasi sang Ratu Sirikit yang lahir hari Jum`at dan warna untuk hari Jum`at adalah biru. Banyak juga yang menggunakan warna ungu pada hari Kamis, karena hari Kamis adalah hari kelahiran Putri Mahkota Sirindhorn, dan warna hari Kamis adalah ungu!
so, what colour do you like?  Diskriminasi Penertiban Motor di Jalur Cepat
Selaku pengendara motor yang setia melewati ruas jalan Mampang Raya Jaksel sejak tahun 1999 saya menyambut baik adanya penertiban yang dilakukan polisi untuk motor yang melalui jalur cepat sepanjang jalan Buncit Raya sampai Mampang Raya. Memang sudah semestinya jalur motor adalah di jalur lambat.
Namun, yang membuat saya kecewa adalah penertiban tersebut berlaku diskriminatif. Kasus pertama adalah pada 15 Januari 2006 sekitar pukul 08.15. Saya menyaksikan sendiri puluhan pengendara motor besar (moge) dengan lampu dinyalakan dengan arogannya melewati jalan Mampang Raya di jalur cepat tanpa ada penindakan sedikit-pun dari polisi. Kedua, pada 8 Maret 2006 sekitar pukul 08.15 saya menyaksikan sendiri seorang pengendara motor yang melaju di jalur cepat tidak distop polisi, ia hanya melambai saja, sementara empat motor di depannya sudah distop polisi dan ditilang. Ternyata ia adalah polisi juga (terbukti dari seragamnya) namun menggunakan motor berplat hitam (jenis RX King, nomor telah kami catat). Setahu kami, polisi maupun TNI ketika menggunakan motor sipil, tidak dalam rangka dinas (pengawalan, voojriders, dll) tetap tak diperbolehkan melaju di jalur cepat.
Kemudian, kamipun melihat itikad dari pihak kepolisian dalam penertiban ini lebih cenderung kepada ‘penjebakan’ daripada pencegahan pelanggarannya. Karena, polisi ketika menindak tidak berdiri di muka jalan melainkan di ujung jalan sebelum jalur cepat berakhir. Padahal kalau ia berdiri di depan ia bisa langsung memerintahkan pengendara motor yang akan ke jalur cepat untuk segera berpindah ke jalur lambat. Perlu diketahui, saya bukanlah korban dari penindakan ini, bahkan saya alhamdulillah belum pernah ditilang polisi dalam lima tahun terakhir. Saya hanya kecewa bahwa penertiban ini berlaku diskriminatif. Terimakasih
Heru Susetyo Pusat Advokasi Hukum dan HAM Indonesia Jl. Siaga I No. 8 Jakarta Selatan
PERNYATAAN SIKAP PENGURUS PUSAT BULAN SABIT MERAH INDONESIA (BSMI) ATAS EMBARGO POLITIK DAN EKONOMI DUNIA BARAT TERHADAP NEGARA PALESTINA
Segala puji hanya bagi Allah Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi, Pemilik Segala Kekuatan dan Penolong hambaNya. Sholawat dan Salam atas Rasulullah beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak langkahnya hingga Hari Akhir.
Keprihatinan mendalam telah terjadi pada bangsa dan negara Palestina akibat tekanan yang dilakukan oleh dunia barat (Amerika dan Uni Eropa) dengan cara menghentikan bantuan dana pada pemerintahan baru Palestina pimpinan PM Ismail Haneeya untuk tunduk dan patuh pada keinginan dunia barat yang cenderung memaksakan agenda mereka sendiri atas nama perdamaian Israel – Palestina. Embargo ini, kendati tak membuat perjuangan bangsa Palestina surut langkat, telah menimbulkan dampak serius bagi kelangsungan hidup dan tatanan sosial bangsa Palestina.
Krisis keuangan, kekosongan kas Negara dan beban hutang warisan pemerintah sebelumnya yang sengaja diciptakan Amerika Serikat dan Negara Eropa ini telah menggiring rakyat Negara Palestina menuju bencana serius. Stok bahan makanan hanya untuk 20 hari, obat-obatan diboikot masuk, fasilitas pelayanan kesehatan yang makin memburuk, dan susu untuk anak-anak semakin menipis telah menarik Bangsa Palestina memasuki pintu bencana kemanusiaan. Situasi ini akan membuka peluang terjadinya bencana kelaparan, meningkatnya kriminalitas, memicu konflik sosial yang disertai situasi keamanan yang tidak menentu yang pada akhirnya akan semakin menambah beban penderitaan dan kesulitan hidup rakyat Negara Palestina. Sehingga, perdamaian di Palestina akan semakin sulit terwujud.
Menyadari situasi ini dengan sepenuh hati, sebagaimana telah menjadi Asas dan Tujuan serta Visi dan Misi Bulan Sabit Merah Indonesia untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia tanpa membedakan agama, bangsa, sukubangsa, golongan, warna kulit, jenis kelamin, dan bahasa, maka bersama ini Pengurus Pusat Bulan Sabit Merah Indonesia menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut :
1. Menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas situasi dan kondisi yang dialami bangsa Palestina hingga saat ini. 2. Mengecam keras terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia atas tindakan Amerika dan Negara Eropa yang dengan sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di wilayah berdaulat Negara Palestina dan menghambat proses perdamaian di Palestina. 3. Menyerukan kepada segenap bangsa Indonesia dan dunia Internasional untuk mengerahkan segala potensi untuk membantu meringankan beban penderitaan bangsa Palestina. 4. Mendukung pernyataan Persatuan Ulama Dunia (al itthihad al ‘alami li’ulama’ al muslimin) dengan mendorong negara-negara dan bangsa-bangsa muslim di seluruh dunia untuk membantu bangsa dan Negara Palestina dan pemerintahannya yang dipilih secara demokratis di dalam menghadapi pemboikotan dana dari negara-negara dan lembaga-lembaga barat. 5. Mendukung pelaksanaan dari fatwa Ketua Persatuan Ulama Dunia, Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi yang menegaskan wajibnya membantu orang-orang Palestina. 6. Menyerukan kepada Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) untuk segera meningkatkan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada Rakyat Palestina. 7. Mengerahkan segenap kemampuan Bulan Sabit Merah Indonesia untuk membantu meringankan beban penderitaan bangsa Palestina.
Demekian pernyataan sikap Bulan Sabit Merah Indonesia atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Negara Berdaulat Palestina. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa memperbaiki dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia di seluruh penjuru dunia.
Pengurus Pusat Bulan Sabit Merah Indonesia
Dr. H. Basuki Supartono, SpBO, FICS
| |