


Bahasa Indonesianya masih sangat baik. Jelas dan memenuhi kaidah EYD. Logatnya amat mirip dengan perempuan Indonesia asal Papua. Namun ia bukan orang Papua. Namanya Cecilia Fonseca. Asli Timor Leste (ini nama resmi negara mantan propinsi ke 27 Indonesia ini, bukan East Timor apalagi Timor Timur). Ia datang ke Davao, Philippine untuk Womanhood Conference. Sama seperti saya. Bedanya,ia bercakap tentang duka dan pemberdayaan wanita Timor Leste pasca konflik dalam bahasa Inggris yang lancar. Saya bicara masalah hukum perceraian di Indonesia.
Cecilia datang mewakili Alola Foundation, NGO yang di ketuai oleh istri PM Xanana Gusmao dan bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Alola alias Juliana adalah nama asli seorang perempuan Timor Leste yang menjadi korban perkosaan milisi pasca kerusuhan 1999, saat masih berusia 14 tahun.
Cecilia bertutur bahwa Timor Leste saat ini tidak bertambah baik. Penembakan Ramos Horta, konflik sipil antar pendukung Mari Alkatiri dan Horta/ Xanana kian meruyak. Diperburuk dengan konflik antar polisi Timor Leste yang berasal dari dua sisi yang berbeda, Barat dan Timor pada tahun 2006 yang berujung pada lengsernya PM Mari Alkatiri dan tertembaknya Horta.
Elit politik bertikai rakyatlah yang menjadi korban. Rakyat Timor Leste, utamanya perempuan dan anak-anak, kini hidup dalam kesengsaraan. Mata uang yang digunakan adalah US Dollar ($). Beras susah didapat. Dulu diimpor dari Indonesia, kini dari Thailand dan China dengan harga yang melambung.
Untuk membeli baju layak pakai, penduduk menanti second hand clothes dari Australia atau Singapore, atau dari barang2 jualan Mas-Mas asal Jawa yang harganya, tutur Cecilia, di atas Rp 50.000,-
"Saya biasa belanja ke Bali. Saya tahu tempat belanja yang baik di Bali. Sebaliknya, saya jarang ke Jakarta. Terakhir tahun 2003. Kalau saya ke Jakarta, biasanya orang mengidentifikasi saya sebagai orang Papua," ujar Cecilia.
"Saya nyaris kuliah di Jogja kalau tidak terhalang peristiwa 1999. Kakak saya dulu studi di Jogjakarta. Saya sendiri lulusan Universitas Timor.
Selama conference, Cecilia lebih banyak mingle dengan partisipan asal Indonesia yang berjumlah lima orang. Kendati negara sudah berbeda dan batas fisik sudah tersedia antara Indonesia dan Timor Leste, namun batas kultural adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan. Betapapun kultur Timor Leste pernah cukup kuat dipengaruhi oleh Indonesia. Iapun berbatasan alam dengan NTT.
Rakyat Timor Leste masih cukup banyak yang berbahasa Indonesia. Kami pernah mengikuti seminar di New Zealand pada tahun 2004, seminar mana dihadiri pula oleh dua orang jurist Timor Leste, satu advokat dan satu lagi hakim. Satu lulusan UGM yang lainnya lulusan Udayana. Uniknya, dalam conference tersebut, sang jurist membawa kamus Inggris-Indonesia, bukan Inggris-Tetun atau Inggris-Portuguese. Cecilia menambahkan, bagaimana tidak berbahasa Indonesia, wong anak-anak Timor Leste saat ini lebih sering menonton sinetron2 Indonesia di TV mereka...