


Saya bukan ahli ikan apalagi peneliti masalah perikanan. Hanya pengamat dan penikmat (makan) ikan. Di negara makmur, yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, score Human Development Index lumayan, kesejahteraan rakyat terjamin, dll ternyata tak hanya manusia, ikan -pun nyaman untuk hidup. Memang sih tak bisa digeneralisasi. Saya hanya melihat di dua negara, yaitu Jepang dan Thailand. Ikan-ikan di kedua negara ini terlihat `bahagia`. Di Senba-ko, Mito-Ibaraki ikan-ikan air tawar beraneka warna tampak berebutan makanan yang dilemparkan pengunjung. Mereka tampak sehat, warna kulitnya cerah dan sangat tidak takut dengan manusia. Terkesan `bahagia`.
Pemandangan yang sama saya temukan di tiga sungai di Thailand. Sungai Kwai di Kanchanaburi, Sungai Don Wai di Nakorn Pathom dan Sungai Chao Phraya di Bangkok. Di kedua sungai ini beribu-ribu (Berjuta barangkali karena tak ada sensus ikan) ikan berukuran besar dan `eatable` semacam gabus, betok, ataupun mujair hidup `bahagia`. Mereka begitu friendly dengan manusia. Badannya pun nampak sehat (walaupun tak pernah check up). Sekali melempar makanan ke sungai maka akan berebutan mereka melahapnya. Tak berprasangka buruk dengan manusia. Hidup dan berenang ria ke mana-mana dengan riangnya. Tak takut pula dipancing manusia. Mengapa? karena orang Thai memang tak mau memancing di sembarang tempat dan tak mau makan ikan tertentu. Konon karena bagian dari kepercayaan Buddhist dan larangan dari otoritas kuil (wat) tertentu. Maka, memancing-pun tak bisa di sembarang tempat. Malahan mereka lebih sering membuang ikan ke sungai sebagian bagian dari kepercayaan `menambah rezeki dan menolak bala`. Sekali mereka buang ikan jenis tertentu ke sungai, maka selamanya mereka tak akan makan ikan tersebut.
Maka, tak heran ikan-ikan tersebut hidup `bahagia`. Dipancing tidak, dimakan tidak, dipelihara iya. Apakah dengan alasan ekologis maupun keyakinan religius.
Barangsiapa yang menyayangi mereka yang di dunia maka akan disayang pula oleh Yang Di Langit.