Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

WRITING, REPORTING, STORY TELLING

Blog EntryFeb 20, '11 9:23 PM
for everyone

Suka Duka Mantan TKI di Saudi Arabia

"Saya duapuluh empat tahun tinggal di Jeddah, Saudi Arabia, Pak.  Tak pernah berganti kota dan tak pula berganti majikan. Setia sebagai supir pada seorang perwira tentara Saudi,"  Supir taxi tersebut bercerita kepada saya di tengah padatnya jalanan Jakarta.  Memang takdirnya saya bertemu dia di taxi bermerk 'x' ini. Saya biasanya hanya menggunakan Blue Bird atau Express, lain tidak. Tapi Ahad siang 20 Februari 2011 itu hanya ia yang melintas. Maka, daripada terlambat tiba di tempat tujuan, saya asal naik saja. Not too bad, sama-sama Toyota Vios (Limo).

"Saya pulang sekali setiap dua tahun. Istri saya pernah empat tahun tinggal bersama saya tapi kemudian pulang ke Bogor. Maka, saya yang rutin pulang setiap dua tahun.  Sampai suatu waktu istri saya menyuruh saya pulang. Kasihan anak, katanya. Masa tumbuh besar bertahun-tahun tanpa didampingi ayahnya.  Apalagi mereka sudah besar dan sudah kuliah sekarang," lanjut Pak Supir tua yang rambutnya sudah mulai keperakan.

"Maka sayapun pulang. Alhamdulillah selama dua empat tahun di Saudi saya sudah delapan kali naik haji.  Kalau umrah sih sudah tak terbilang banyaknya, maklum jarak Jeddah dan Makkah kan dekat, kurang dari dua jam...", tutur Pak Supir , yang bikin saya ngiri berat.  Haji delapan kali dan umrah tak terbilang banyaknya, siapa yang tak ngiri?

Lalu saya iseng bertanya, "Bapak kuat juga ya pulang setiap dua tahun, gak kangen dengan istri dan anak-anak di rumah Pak?"  Pertanyaan tersirat sebenarnya. Saya ingin tahu, bagaimanapun dia laki-laki, bagaimana ia bisa mengelola kebutuhan biologisnya?

"Saya juga laki-laki Pak. Kalau untuk masalah yang itu sih, kalau untuk ngebuang 'tai macan' aja sih  bisa 'ngeteng' Pak. Saya kan lama disitu jadi tahu jalur-jalurnya.  "Ngeteng  apa sih Pak? saya pura-pura polos.  "Ya ngeteng Pak, tinggal pilih perempuan mana, Lebanon, Philippines, Sri Lanka...kalau Indonesia sih jangan ditanya, kita sudah tahu sama tahu," jawab Pak Supir kalem.  "Dinikahi tidak, tanya saya penasaran?"  ya nggak lah Pak, namanya juga ngeteng..."

"Itu di Jeddah Pak?  gak mungkin kan kalau di Mekkah atau Madinah yang haramain? tanya saya penasaran.  "Sebenarnya dimana-mana gak mungkin karena pelacuran formal tak mungkin ada di Saudi, tapi saya kan sudah lama disana, jadi tahu jalur-jalurnya."  Ada juga perempuan Indonesia asal daerah timur yang pernah bikin saya marah.  Saya sedang thawaf di Masjidil Haram, eh dia malah menawarkan dirinya, saya marah berat.  Kamu gila apa? ini Ka'bah tahu !

 "Bahkan saya pernah ketika sedang isi bensin di Jeddah tahu-tahu ada perempuan Lebanon masuk mobil saya tanpa permisi. Dia tanya dalam bahasa Arab, punya kamar tidak?  saya bilang punya, memang kenapa?  saya ikut kamu kata perempuan Lebanon itu. Saya kaget juga, karena saya tak kenal sama sekali dengan dia.  Dan, Bapak tahu kan kecantikan perempuan Lebanon?  Tamara Bleszynski aja sih lewat....   Saya juga kebetulan masih muda ketika itu, ya sudah saya bawa ke kamar saya saja..."

Hmmm...saya speechless.  Lalu Pak Supir ini bicara lagi, "majikan saya sama saja Pak. Dia tentara dan istrinya satu. Tapi suka nakal juga.  Saya pernah antar dia ke Lebanon. Pakai mobil saja, BMW X6.  Dalam delapan belas jam tiba di Beirut. Kami lewat Yordania dan Suriah. Disana dia bukan dalam rangka dinas atau apapun, mencari kepuasan saja...

Blog EntryJun 18, '10 11:32 PM
for everyone
SEXTING, PETERPORN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Heru Susetyo
Staf Pengajar Hukum Perlindungan Anak Fakultas Hukum UI

 

“Tuhan Maha Penerima Taubat Tapi Internet Tidak” (Peri Umar Farouk, 2010)

 Jessica Logan bukan siapa-siapa dan tak dikenal siapa-siapa. Hanya seorang remaja SMA biasa di Amerika.  Namun pada bulan Juli tahun 2008 gadis 18 tahun yang tinggal di Cincinnati, Ohio ini membuka mata dunia tentang bahaya sexting. Jessie yang ketika itu berada di tingkat akhir Sycamore High School tewas bunuh diri di kamar mandi. Sebabnya, foto telanjang Jessie yang semula hanya untuk konsumsi sang pacar, belakangan disebarkan oleh sang pria ketika hubungan pacaran mereka putus. Tak sekedar beredar di antara teman-temannya, foto tersebut beredar ke tujuh sekolah di sekitar Cincinnati, bahkan meluas hingga ke tiga negara bagian di Amerika Serikat.  Kenyataan ini membuat Jessie merasa amat malu, terhina, tertekan dan sekaligus menderita.  Apalagi teman-teman putrinya banyak yang melakukan bullying dengan menjulukinya sebagai 'pelacur’ ataupun ‘wanita murahan.’  

Sebelum tewas bunuh diri, pada medio Mei 2008 Jessie sempat melakukan wawancara dengan stasiun TV setempat. Ia mengatakan bahwa ia merasa sangat malu, terhina dan digoda dimanapun ia berada. Tidak sekedar sekolah, namun juga di lingkungan rumah dan kemanapun ia pergi. Jessie berharap semoga tak ada lagi orang yang harus menjalani keadaan seperti ini. Sama halnya dengan orangtua Jessie. Cynthia Logan. Jessie adalah anak tunggal.  Maka kepergiannya begitu diratapi sang Ibu.  Cynthia  mengatakan bahwa ia amat kecewa dengan para orangtua yang membiarkan saja anak-anaknya untuk melakukan apapun dan mengatakan apa yang mereka inginkan.

Sayangnya, sepertinya Cynthia masih akan terus kecewa, karena fenomena sexting ternyata telah begitu mewabah di dunia.  Termasuk di negeri yang bernama Indonesia. Kasus peredaran video ‘mirip artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari’ atau beken dengan istilah ‘Peterporn” adalah salah satunya.

Indonesia tidak bisa dibilang santun dan bersih dalam perilaku sexting. Sudah cukup banyak warga Indonesia yang melakukannya. Remaja, pemuda, hingga kaum dewasa. Fenomena 'peterporn' hanyalah salah satu yang menyeruak ke permukaan. Banyak lagi yang belum terungkap. Video dewasa yang melibatkan orang 'mirip Ariel', 'mirip Luna Maya', dan 'mirip Cut Tari' menjadi fenomena karena mereka adalah populer dan tokoh publik. Bagaimana dengan mereka yang bukan artis dan bukan tokoh publik?

Kendati video porno tersebut konon tidak disebarkan oleh orang yang 'mirip dengan ketiga artis tersebut' namun itu adalah sexting. Bisa dilacak, barangkali, tanpa harus melakukan razia, di handphone maupun email-email dan situs-situs internet yang pernah diakses anak-anak Indonesia.

Sebagai contoh, dengan penelaahan sederhana melalui www.google.com/trends, dimana semua orang dapat melakukannya, nampak jelas bahwa hit-hit untuk content 'porno' tertentu memang dipimpin oleh para netters Indonesia. Sebagai contoh, hit untuk content ber- keywords (kata kunci) ‘sex video’, ‘porn video’, ‘pornstar’, ‘miyabi’, dan ‘making love’ adalah didominasi oleh para netters Indonesia (data diperoleh melalui www.google.com/trends pada 3 Juni 2010).

Peri Umar Farouk (2009) mensinyalir bahwa  banyak kasus perederan pesan, gambar, dan video berkonotasi seksual yang belum terungkap di Indonesia.  Ia mengatakan, di tahun 2009 terdapat sekitar 700 mini video porno asli remaja Indonesia, dan ribuan gambar yang telah beredar di ruang maya, yang di antaranya adalah hasil sexting yang sengaja ataupun tidak sengaja bocor ke publik yang lebih luas melalui berbagai media elektronik.

 Tentang Sexting

Sexting yang berasal dari kata sex dan texting  mungkin bisa disebut terminologi baru dalam dunia komunikasi Indonesia.  Ia adalah suatu aktivitas mengirimkan pesan berupa teks kepada orang lain dengan harapan dapat melakukan aktivitas seksual di kemudian hari. Pengertian lain sexting adalah suatu terminologi yang dibuat oleh media untuk menjelaskan fenomena pengiriman atau penyebaran pesan-pesan seksual apakah berupa tulisan, gambar, dan video (www.urbandictionary.com).  

Pengertian lain adalah gejala mengambil foto atau video bugil dengan menggunakan kamera ponsel, kemudian menyebarkannya. Beberapa kalangan lebih luas lagi mengartikan Sexting termasuk penyebarannya melalui teknologi internet, seperti melampirkan di dalam email atau membubuhkannya sebagai profil atau di galeri dalam situs jejaring social (social networking), misalnya situs-situs: Myspace, Facebook, Multiply, Friendster, Hi5, dan lain-lain (Peri Umar Farouk, 2009).

 Menurut Wikipedia (2005), kemunculan fenomena sexting dilaporkan paling awal pada tahun 2005 oleh Sunday Telegraph Magazine, dan setelah itu mendapat perhatian luas di seluruh dunia, utamanya di UK, Australia, New Zealand, USA dan Canada.
Pada survey yang dilakukan tahun 2008 pada 1280 remaja dan pemuda baik laki-laki maupun perempuan oleh Cosmogirl.com terungkap temuan sebagai berikut : 20% remaja (13 - 19 tahun) dan 33% pemuda (20 - 26) pernah mengirimkan foto-foto porno atau semi porno diri mereka secara elektronik. Kemudian, 39% remaja dan 59% pemuda pernah mengirimkan SMS-SMS bernada seks/ porno.

Penelusuran penulis sendiri menemukan bahwa ada 7.720.000 links untuk kata kunci ‘sexting’ di mesin pencari google.com dan tersedia 3070 video berkata kunci ‘sexting’ di www.youtube.com (per Jum’at 18 Juni 2010).

Sebagai tambahan data berkenaan dengan fenomena sexting, Parry Aftab, seorang ahli pengamanan di internet dan aktivis yang memperjuangkan perlindungan remaja di ruang maya, mengklaim bahwa: 44% pelajar putra pernah mendapatkan materi porno teman pelajar putri satu sekolahnya. Dan 15% pelajar putra menyebarkan materi porno kekasihnya setelah hubungan pacaran mereka putus (Peri Umar Farouk, 2009).

 Kehancuran Akibat Sexting

Sexting boleh jadi menyenangkan, menggairahkan, membuat penasaran, walaupun banyak pihak mengutuknya sebagai kejahatan bahkan perbuatan dosa juga.  Sisi yang lebih pasti adalah penyebaran teks, gambar, maupun video ke ruang publik, entah dilakukan pelakunya ataupun tidak telah menyebabkan ‘kehancuran’.  Bagi sang pelaku, bagi sang penyebar, bagi semua orang yang pernah mengakses.  Termasuk anak-anak Indonesia.

Di luar kasus Peterporn yang membuat Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari  kini berada dalam masa-masa yang sulit, banyak lagi kasus lain yang menimbulkan kehancuran yang sama. Kasus Edison Chen misalnya. Aktor muda Hong Kong ini gemar merekam adegan seks-nya dengan para artis cantik Hong Kong seperti Gillian Chung, Bobo Chan dan Cecilia Cheung, dan banyak lagi. Sampai suatu waktu senjata makan tuan. Film-film yang direkam dalam laptop-nya tersebut berpindah ke ruang publik ketika sang laptop direparasi. Peredaran video-video tersebut begitu massif. Sehingga di tahun 2008 tersebut ia menjadi trending topic di google.com China dan menjadi tokoh nomor dua terpopuler di Hong Kong setelah Barrack Obama.

Maka, Edison-pun lari ke Amerika dan menyangkal habis-habisan keterlibatannya. Namun alat bukti terlalu kuat. Akhirnya iapun mengaku dan meminta maaf. 
Edison Chen boleh menyesal, namun karir terlanjur hancur.  Iapun meninggalkan dunia keartisannya di Hong Kong.  Dan internet bukanlah pihak yang mudah memaafkan. Pun untuk para gadis yang direkamnya. Masih ingat dalam benak penulis, Gillian Chung menangis dan menyesal luar biasa atas peristiwa tersebut. Dalam siaran di Channel News Asia tahun 2008, Gillian Chung sambil menangis mengatakan bahwa ia masih muda ketika itu,  tak terlalu banyak tahu,  menyesal sekali dan tak akan mengulanginya lagi.

Kasus lain adalah skandal seorang anggota DPR bernama YM dengan seorang artis (ME). Akibat bocornya video skandal seks mereka pada tahun 2004 yang terungkap ke hadapan publik pada tahun 2006, hancurlah karir politiknya.  Tak sekedar mengundurkan diri dari DPR, kini YM nampak tiarap, entah berada dimana.  Yang jelas menjadi korban juga adalah keluarganya. Sukar dibayangkan bagaimana nasib keluarga YM menanggung 'musibah' seperti ini.

Pada tahun 2001 muncul satu video dengan nama Bandung Lautan Asmara alias "Itenas 2001'. Video ini adalah rekaman pribadi sepasang muda-mudi Bandung ( A dan N) Bandung yang merekam adegan seksual merekademi merayakan ulang tahun perpacaran-nya. Karena kelalaian ' sang pria yang ingin memindahkan sang film ke format VCD melalui jasa transfer VCD maka terungkaplah video pribadi tersebut ke ruang publik.

Mereka berdua kemudian diperiksa polisi namun tak pernah ditahan. Pelaku penyebarannya yang kemudian ditahan. Kendati demikian mereka telah terhukum secara moral dan sosial. Sang pria dan wanita kini hilang tak tentu rimbanya. Keluarganya pun bisa dibayangkan amat berat menanggung musibah ini.

 Perlindungan Anak

Yang kini patut jadi perhatian, terlepas apakah sexting termasuk dosa ataupun kejahatan, ataupun kedua-duanya, ataupun tidak kedua-duanya, merekam dan menyebarkan aktivitas seksual -entah dilakukan yang bersangkutan ataupun melalui tangan orang lain-  yang mestinya amat pribadi, kini menjadi konsumsi publik. Menjadi konsumsi mata-mata yang tidak berhak. Termasuk mata-mata anak-anak Indonesia.

Satu institusi yang paling diuntungkan tentu media. Televisi ramai-ramai memberitakan kasus tersebut, penonton membuncah, acara infotainment menjadi
laris manis. Rating meninggi. Dan tentu saja saat-saat demikian banyak dilirik pengiklan. Situs-situs internet juga begitu, tiba-tiba traffic pengunjung melonjak  tajam. Sepadan dengan industri pertelevisian, mereka juga diuntungkan dengan kasus tersebut. Oknum pengambil keuntungan lain ada juga. Seperti penjaja video bajakan di Glodok yang menjual video diduga “Ariel VS Luna Maya & Cut Tari” dengan harga murah. Laris manis.  Atau, pengelola blog gratisan yang menampung koleksi video-video porno tersebut  dengan harapan banyak pengunjung yang datang kemudian mengklik iklan google adsense sehingga mendapatkan dollar dari google (Yons Achmad, 2010).

 Tapi untuk anak-anak Indonesia, Peterporn dan maraknya sexting ini jelas bukan berkah. Lebih layak disebut musibah.  Berbeda dengan Jessie Logan yang kemudian bunuh diri karena merasa malu, tak jelas apakah para pelaku dan penyebar sexting di Indonesia tersebut juga merasa malu dan tertekan.  Sexting mungkin fun, flirt, and sexy, namun berapa jiwa lagi yang harus dikorbankan? berapa banyak lagi para Jessica Logan yang akan menyusul bunuh diri, menyusul terhina dan menderita lahir bathin, berapa banyak lagi jiwa yang karir dan karakternya harus hancur? Berapa banyak lagi anak-anak yang kini 'mirip dewasa' karena maraknya persebaran sexting tersebut?

 

Anak-anak di Indonesia bisa merupakan pelaku, penyebar, penikmat, ataupun sekedar penasaran ingin melihat sexting. Namun sejatinya mereka semua adalah korban.  Masa anak-anak yang mestinya dinikmati dengan bermain, ber-olahraga, belajar bersama, bergembira ria, bisa terpuruk menjadi lamunan panjang, kesedihan dan frustrasi mendalam, terkurung di bilik warnet, asyik masyuk dengan content di handphone, hingga terkurung di terali besi akibat pelecahan seksual yang mereka lakukan.  Dan ini nyata,  kejahatan kedua terbanyak yang dilakukan para Napi Anak di Lembaga Pemasyarakatan  Pria Tangerang (Data Mei 2010) adalah kejahatan yang terkait dengan seksual.

 Maka, kini saatnya melakukan pendidikan media (media literacy) untuk anak-anak Indonesia. Supaya baik orangtua maupun anak dapat memilah-milah mana media yang sehat untuk anak dan mana yang tidak.  Kedua, mendorong media (baik pers maupun lembaga penyiaran) untuk turut berperan serta dalam perlindungan anak dari content dalam media maupun lembaga penyiaran yang berbahaya bagi anak-anak dan remaja (sebagaimana mandat dari UU Perlindungan Anak tahun 2002, UU Pers tahun 1999 dan UU Penyiaran tahun 2002).  Ketiga, meningkatkan budaya malu, yang sudah semakin hilang dari negeri ini.  Karena ketika semua orang sadar dan tinggi rasa malu-nya, maka tak perlu peran hukum negara dan kontrol sosial masyarakat untuk,  fenomena sexting bisa berkurang dengan drastis. Semoga.



Attachment: Sexting Peterporn dan Perlindungan Anak - opini Heru Susetyo.pdf


Dimuat di majalah Tarbawi Juni 2010
Attachment: The Forgotten People Keturunan Indonesia di Sri Lanka.pdf
Attachment: forgotten people2.pdf

Blog EntrySep 15, '09 11:06 PM
for everyone

I’TIKAF-LAH SELAGI ADA MASJID

By : Heru Susetyo

Pernahkah anda frustrasi karena ingin itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan,  namun tak menemukan masjid atau menemukan masjid namun tak dapat digunakan untuk i’tikaf??

Alhamdulillah, sudah sejak masa kuliah S1 di Depok  (rada terlambat ya) saya menyadari pentingnya I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan.  Mengingat begitu luasnya limpahan rahmat, barakah, dan maghfirah, serta janji turunnya malam yang lebih baik daripada seribu bulan.  Memang sih, saya belum pernah menamatkan sepuluh hari full tanpa keluar masjid, namun hampir setiap malam-malamnya jarang pula saya lewatkan tanpa menghampiri masjid. Untuk berdiam, shalat, dzikir, dan tilawah di dalamnya, kendati hanya beberapa jam sesudah tarawih dan  menjelang sahur.

Tapi saya terpaksa menelan ludah.  Kalau tak bisa dibilang frustrasi. Ramadhan tahun 2002 saya habiskan di Chicago, American Midwest, tanpa beritikaf di masjid. Padahal, cukup banyak masjid di Chicago area, namun tak ada masjid yang terjangkau oleh kemampuan transportasi saya. Mahasiswa perantauan dengan kemampuan finansial pas-pasan. Pun, beberapa masjid yang saya kenal dan berada dalam jangkauan tak juga menyelenggarakan I’tikaf.  Ada yang buka hanya pada jam kerja saja, karena berlokasi persis di kompleks perkantoran.  Pertama saya kesal tapi akhirnya memahami,  negeri ini baru saja mengalami horror 9/11 setahun sebelumnya.  Yang membuat orang datang dan keluar masjid di tengah malam malah menjadi perkara.  Yang membuat parkir memarkir mobil di area public sekitar masjid di gelap malam malah mengundang tanya. Yang membuat pria berjanggut dan muslimah berjilbab hilir mudik saat orang terlelap malah menjadi pemandangan yang aneh, dan mencurigakan.

Ramadhan tahun 2006 saya habiskan di Jepang.  Di Kyoto tepatnya.  Bersyukur kota cantik ibukota Jepang masa silam ini punya sebuah masjid.  Bentuknya memang tidak seperti masjid, lebih tepat ruangan kantor yang dijadikan masjid. Tapi tidak terlalu buruk juga, alhamdulillah tetap bisa digunakan untuk shalat fardhu dan shalat Jum’at.  Juga untuk shalat tarawih. 

Tapi tidak untuk I’tikaf (minimal di tahun tersebut). Pertimbangannya lagi-lagi security dan toleransi dengan tetangga.  Mengingat Islamic Cultural Center ini berlokasi di tengah-tengah permukiman, kendati berada tak jauh juga dari Kyoto University.

Maka, karena tak ingin frustrasi lagi dan kangen mereguk nikmat I’tikaf saya mesti mencari masjid yang lebih terbuka.  Dan masjid terdekat berada di Osaka (1 jam perjalanan) atau Kobe ( 1 ½ - 2 jam perjalanan).   Alhamdulillah kedua masjid ini lebih terbuka.  Masjid Osaka berada dekat Osaka University.  Berada di tengah permukiman namun memiliki lahan parkir sendiri.  Dari luar memang tak seperti masjid dan jangan berharap ada adzan dikumandangkan dari minaret-nya. Karena memang masjid ini tanpa minaret dan tak dapat mengumandangkan adzan secara terbuka.  Atau akan mengundang protes dari para tetangga.   Alhamdulillah cukup banyak jama’ah beritikaf disini.  Disamping rekan-rekan dari Indonesia (mahasiswa, dosen, peneliti, maupun trainee) ada juga beberapa wajah timur tengah, Asia Selatan, dan warga Jepang sendiri. 

Karena saya punya tradisi berpetualang masjid, malam berikutnya saya mencoba beri’tikaf di masjid Kobe. Masjid yang benar-benar berbentuk masjid lengkap dengan kubahnya. Yang menyimpan kenangan hebat karena tetap kukuh berdiri ketika gempa meluluhlantak-kan bangunan-bangunan di sekitarnya pada gempa Kobe 17 Januari 1995. Malam tersebut jama’ah yang beri’tikaf amat sedikit. Hanya beberapa orang saja. Namun  suasana tetap syahdu.  Gelap namun sakral. Cocok untuk ber-uzlah dengan Sang Rabb.   Namun, berbeda dengan suasana malam, saat sahur tiba, masjid menjadi semarak dan kami dapat bersahur gratis dengan limpahan makanan dari para Brothers Asia Selatan.

Usai Osaka dan Kobe, saya ‘menjajal’ tiga masjid lain.  Satu di Hamamatsu dan dua di Tokyo. Di Hamamatsu ramai para Brothers dari Asia Selatan (Bangladesh-India-Pakistan) disamping puluhan trainee (kenshusei) dari Indonesia yang menyempatkan diri menghabiskan malam-malam Ramadhan-nya untuk beritikaf di tengah-tengah padatnya jadwal kerja sehari-hari.   Saya bisa memahami,  cukup sulit untuk berpuasa dan menegosiasikan waktu shalat dengan para majikan yang awam dengan ajaran Islam.  Masjid di Tokyo sendiri cukup akomodatif untuk itikaf.  Apalagi yang berlokasi di luar permukiman.  Juga, jangan khawatir kelaparan ketika berbuka maupun sahur.  Selalu ada muhsinin yang gemar bershadaqah untuk mencukupi ifthar dan sahur para shaimin.

Ramadhan 2008.  Dua puluh delapan hari saya habiskan di Bangkok.  Dan tidak ada alasan untuk tidak itikaf disini.  Di negeri gajah putih ini muslim memang minoritas.  Namun bukan berarti masjid-pun jarang ditemui.  Ada sekitar 165 masjid di Bangkok area (belum termasuk masjid di KBRI Petchburi, masjid Indonesia di Soi Ruam Rudee Lumpini, dan masjid Jawa di Sathorn). 

Sayangnya, di tempat saya tinggal, Salaya Nakorn Pathom, tak ada masjid.  Konon masjid terdekat berjarak 20 km dari kediaman kami.  Ada sih mushala kecil di dalam kampus.  Berukuran 3 X 4.5 m.  Tapi mana ada itikaf di dalam mushola?  Belum lagi listrik mesti dimatikan jam segitu dan sang satpam akan dengan santunnya menghalau para mahasiswa (termasuk dari mushala) untuk kembali ke dormitory-nya.

Maka, saya mesti hijrah mencari masjid untuk beritikaf.  Alhamdulillah di tahun tersebut saya bisa menghabiskan dua malam di Masjid KBRI, satu malam di Masjid Darul Aman Soi 7 Petchburi, dan empat malam di Islamic Center Khlong Tan, Ramkhamhaeng Soi 2.

Yang terakhir ini adalah masjid favorit saya di Bangkok.  Masjid terbesar di Bangkok yang berarsitektur unik.  Mirip kelopak bunga yang akan mengembang. Tanpa AC namun tetap sejuk karena beratap tinggi dan tanpa dinding permanent dari material padat. Tidak itu saja, setiap Ramadhan masjid ini berubah jadi pasar rakyat Bangkok.  Banyak kedai makanan dan pakaian buka hingga larut malam, bahkan hingga menjelang sahur.  Juga, hampir setiap saat berbuka hingga seusai tarawih, parkiran masjid penuh sesak dengan mobil jama’ah yang merk-nya bervariasi.  Mulai dari Mercedez Benz seri terakhir, Nissan Teana, Toyota Vios-Altis, hingga mobil-mobil SUV dan pick up double cabin kesukaan warga Thai.

Bukan itu saja,  di sepuluh hari terakhir, shalat malam dilakukan pada larut malam secara berjama’ah dengan imam-imam Melayu lulusan Timur Tengah – Mesir.  Berwajah Melayu namun hafal qur’an dan bersuara indah. Mirip suara-suara indah murottal qur’an di kaset-kaset yang pernah saya miliki.  Mereka membaca satu juz setiap malamnya dengan suara tartil.  Memang lama dan pegal. Namun tetap indah. Apalagi kalau kita memahami isi Al qur’an dan bahasa Arab…

Maka,  beritikaf-lah selagi ada masjid.  Kalau tak ada masjid di sekitar kita, carilah masjid di tempat yang lebih jauh.  Sepertinya, hampir semua negeri di dunia ini memiliki masjid, walaupun hanya satu.  Kalaupun tak menemui masjid atau sulit ber-itikaf di sepuluh malam terakhir, niatkanlah untuk ber-itikaf dan jadikanlah semua tempat yang layak dan bersih dari najis sebagai ‘masjid’ dan ‘tempat beritikaf’. 

Shalat-lah, tilawah-lah, dzikir-lah, cerap-lah dan bagi-lah ilmu dengan sesama, serta  mampukan-lah zakat-infaq-shadaqah kita.  Tak akan habis harta karena shadaqah.  Tak akan miskin orang karena berinfaq. Jangan sia-siakan kesempatan emas dan bulan bonus ini.  Karena kita tak pernah tahu apakah akan menemui ramadhan lagi tahun depan atau tidak…


Jakarta,  26 Ramadhan 1430 H
-nasehat untuk diri sendiri di hari ke 26 dan menjelang malam 27 Ramadhan 1430H,
special thanks untuk Brother Lovely Son yang menemani itikaf di Osaka dan Kobe-


 


Blog EntrySep 1, '09 10:28 PM
for everyone
AL QUR’AN-NYA BERBEDA YA?

Sebelas hari pertama bulan Ramadhan 1430 ini saya habiskan di Jepang. Ini tahun kedua Ramadhan di Jepang. Sebelumnya, tahun 2006, saya alhamdulillah sebulan penuh puasa di negeri matahari terbit ini. Berbeda dengan tahun 2006, kali ini saya berpuasa di Ibaraki area dan Tohoku area. Keduanya berlokasi di sisi utara/timur pulau Honshu. Padahal, tiga tahun silam, saya lebih banyak sahur, ber-ifthar, dan beritikaf di Kansai Area (Kyoto, Osaka, Kobe dan sekitarnya).

Karena kepergian ke Jepang kali ini dalam rangka course dan symposium Victimology di Tokiwa University, Mito, maka sepuluh hari pertama Ramadhan ini saya lewatkan di kota kecil nan cantik ini. ALhamdulillah saya pernah empat kali ke kota ini sebelumnya, so sudah lumayan akrab. Ada dua situs cantik yang saya gemari di ibukota prefektur Ibaraki ini, masing-masing adalah Kairakuen Park (Kairaku-en) dan Senba Lake. Senang rasanya memanjakan mata di dua spot indah tersebut.

Maka, bayangan indah tentang Ramadhan ceria di Mito sudah menggelayuti pikiran dan hati saya jauh-jauh hari sebelum pergi ke Mito. Terbayang akan pergi tarawih dan buka bersama di mushala Mito. Terbayang akan sahur bersama dengan sesama course participants ini di dormitory/ international hall milik kampus Tokiwa.

Dan, saya semakin senang ketika mendapati kenyataan ada beberapa wajah Melayu, Bangladesh, India, Pakistan, Iran, bahkan Palestina di antara partisipasan simposium ini. ALhamdulillah, berarti ada teman sahur dan buka bersama di negeri minim masjid ini.

Sayang sekali, ternyata saya terlalu berprasangka baik. Ketika menanyakan kapan waktu buka puasa dan sahur di Mito area, rekan Bangladesh saya, yang sudah tinggal di Mito area sekitar setahunan, malah berkata : “ wah saya tak pernah berpuasa. Dari kecil saya tak pernah puasa, badan saya terlalu lemah,’ ujarnya santai.

“Ok, kalau begitu dimana letak mushala di Mito, tiga tahun lalu saya pernah shalat di mushola Mito. Saya ingin tarawih di mushola Mito, masih berada di dekat Mito Station tidak?” tanya saya lagi penasaran. Sang mahasiswa Bangladesh lalu menjawab :” Wah saya juga tak tahu dimana letak mushala di Mito. Saya juga tak pernah tarawih sejak kecil. Saya hanya tarawih di malam ke 27 saja,” , Gubrakkk (jilid 1).

Putus asa dengan sang mahasiswa Bangladesh, esok harinya saya bertemu dengan seorang partisipan asal India. Perempuan dari New Delhi. Masih muda dan mirip artis Bollywood. Tak sengaja saya bertemu dengannya di dapur dormitory kampus. Setelah berbasi-basi sedikit saya menjelaskan bahwa saya akan berpuasa sebentar lagi. Dan bahwasanya ini bulan Ramadhan dan setiap muslim wajib berpuasa. “Lho, saya juga muslim kok !’ ujar Mbak Bollywood tersebut. “Muslim juga?” spontan saya bertanya heran. Iya heran, karena penampilan fisiknya tak mengesankan ia muslim (tapi tentu saya hanya bertanya dalam hati). “Bagus, kalau begitu kita bisa masak bersama dengan teman-teman yang lain,” ajak saya. “Kita bisa masak bersama untuk sahur maupun berbuka puasa di dapur ini,” tambah saya lagi bersemangat. Bersemangat karena menemukan rekan untuk berpuasa bersama.

Tapi ternyata saya harus menelan kekecewaan lagi. Dengan aksen Inggris khas India, sang Mbak Bollywood berkata : “Oh sorry Heru, maaf saya tak berpuasa disini. Saya terlalu lemah untuk berpuasa. Terimakasih atas tawarannya…” Gubrakk ! (jilid 2)

Sehabis menelan dua kekecewaan ini, saya jadi agak berhati-hati dan tak proaktif menanyakan bersahur dan berbuka dimana, masak apa, kapan waktu maghrib dan subuh, dimana letak masjid, dan seterusnya.

Namun, sikap kehati-hatian ini hanya bertahan dua hari. Karena dua hari kemudian datang seorang Professor dari Palestina. Seorang pakar dalam dunia victimology. “Dia tinggal di West Bank, dan akan tinggal bersama saya di kamar sebelah,” ujar A, mahasiswa Bangladesh yang pernah bersua dengan saya.

Alhamdulillah, saya bertahmid dalam hati. Berarti ada kesempatan untuk belajar dari pribadi ini. Karena sudah lama saya kagum dengan figur orang-orang Palestina. Nama-nama pejuang seperti Syekh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantissi, Izuddin Al Qossam, Marwan Hadid, dan lain-lain pernah dan masih mengisi memory saya. Maka, sayapun penasaran ingin ngobrol dan mengajak sang Professor Palestina untuk bersahur dan berbuka puasa bersama. Kapan lagi bisa bersua dengan pejuang Palestina?

Tapi, lagi-lagi saya harus kecewa. Ketika kami semua, partisipan dari Indonesia dan Malaysia, berpuasa di hari kedua, dan mesti menahan dahaga di tengah-tengah pembukaan konferensi di hotel internasional Mito, sang Professor Palestina dengan tenangnya minum beer dan di luar gedung tampak merokok. Lha, tak berpuasa dia? Saya protes dalam hati kemudian mengkonfirmasi ke room-mate saya, seorang professor India-Amerika yang kini bekerja di Abu Dhabi.

“Dia muslim kok, tapi memang tak berpuasa, katanya ia sedang jadi musafir jadi tak perlu berpuasa,” ujar rekan Professor India ini. “Kemarin saya mengetok kamarnya untuk mengajak sahur jam dua pagi, eh yang bangun malah rekannya yang Srilanka muslim, sementara dua temannya sang Palestina dan Bangladesh, malah terkesan marah dibangunkan malam-malam,” lanjut professor India ini. Gubrakk! (jilid 3)

Habis sudah kesabaran saya. Sejatinya saya adalah amat toleran dan menghargai hak asasi orang lain. Saya biasa hidup di situasi multikultural sejak kecil dan kinipun masih jadi akademisi dan praktisi HAM. Namun saya tetap kurang bisa menerima alasan seorang muslim tidak berpuasa di bulan puasa. Apalagi tampak luar fisiknya amat sehat dan kuat. Kalau mereka berusia 70 tahunan ke atas dan memiliki maag akut, ataupun penyakit yang memaksa mereka meminum obat secara periodik, saya masih dapat memahami. Juga, menjadi musafir di Jepang di jaman internet ini tak sulit-sulit amat, insya ALlah. Hampir semua moda transportasi Jepang, apakah bus kota, subway, kereta biasa, hingga super express dan kereta peluru shinkansen, semuanya nyaman, bersih, dan mesti ber-AC.

Saya jadi teringat pengalaman istri saya dan saya yang selalu ‘memaksa’ anak-anak kami untuk berlatih puasa, kendati masih di TK ataupun SD kelas 1 dan 2. Juga, teman-teman Indonesia saya di Jepang, Amrik, Eropa, Australia, dan lain-lain, yang kerap melatih anak-anak mereka berpuasa sedari dini dengan iming-iming menambah celengan sang anak, ataupun melatih mereka shalat di masjid dengan membonceng sang anak di malam buta yang amat dingin lima kilometer jauhnya.

Maka, amat wajar, apabila beberapa hari kemudian, seorang Bhiksu Buddha asal Bangladesh (di Thai kerap disebut monk), yang juga partisipan simposium Victimology ini, dan kerap mengenakan kain berwarna saffron, bertanya penasaran kepada kami, partisipan asal Indonesia. “Saya melihat sebagian di antara anda ada yang berpuasa disini, sebagian lagi tidak. Dan kalian datang dari berbagai negara yang berbeda-beda. Memang Al Qur’an kalian berbeda ya sehingga kewajiban puasanya berbeda?”

Dan kamipun speechless. Ingin sekali menjawab bahwa Al Qur’annya sih sama tapi pemahamannya yang berbeda….

Selanjutnya saya jadi sadar, bahwa wajar saja umat ini belum memperoleh kemenangan, wong untuk memenangkan dirinya sendiri saja di bulan Ramadhan ini banyak yang enggan…padahal ini bulan bonus multi barokah yang bukan tak mungkin tak akan dijumpainya kembali di tahun depan. Naudzubillahi min dzalika, maafkan kami semua ya Allah SWT...sayapun tak lebih baik dari mereka...

Beruntunglah, alhamdulillah, bersama saya ada partisipan dari Indonesia dan Malaysia, seorang professor India-American, serta dua orang Srilankan muslim, yang berpuasa. Kendati selera makan dan jenis masakannya berbeda, kami kerap sahur dan berbuka bersama di kitchen campus dormitory. Khususnya untuk dua Srilankan brothers ini saya amat salut. Berasal dari negara miskin sarat konflik serta menjadi minoritas yang berjumlah kurang dari sepuluh persen saja di Srilanka, toh tetap menjaga puasanya.

Ramadhan mubarak for All !

Salaya, 310809


AISYAH ADINDA KITA :
YANG BUKAN SEKEDAR PEKERJA MIGRAN

Tangan kanannya sigap memencet tombol-tombol ponsel Nokia-nya, sementara tangan kirinya mencencang tas laptop berisi laptop Acer keluaran terbaru. Setiap lima menit ia mengkontak dan dikontak orang melalui ponsel merah maroon tersebut. Di sela-sela pembicaraan, ia mengeluarkan laptop, memasang modem seukuran flash disk, dan segera menuju jendela untuk mencari sinyal terbaik bagi akses internet-nya. Usai mendapat koneksi, kedua tangan kecil itu bergantian memencet keyboards dan meluncurkan ratusan kata-kata kreatif di layar laptop mini-nya. Di antara kegiatan mengetik, ia beberapa kali mengeluarkan Olympus digital camera-nya dan mengambil gambar teman-temannya yang ikut bergadang di dinihari malam Ramadhan tersebut

Malampun merambat pelan, dinihari sudah akan dijelang, namun pemilik tangan lincah itu terus menekuri keyboard laptopnya. Tak sedikitpun ia tampak lelah. Sepertinya ia tengah dikejar deadline. Siapakah ia? Wanita entrepreneur? Professional muda? Career woman? Salesperson?

Bukan, wanita muda super sibuk berjilbab rapi itu adalah pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Sebut saja namanya Aisyah. Pagi hingga menjelang maghrib ia sibuk bekerja di rumah tangga warga Chinese Hong Kong di Kowloon. Mengerjakan tugas-tugas khas domestic worker, atau housekeeper, atau maid, atau bahasa Indonesianya adalah PRT (Pekerja Rumah Tangga ataupun Pembantu, btw sudah lama saya menghindari penggunaan kata ini karena terkesan kurang manusiawi). Disana, Aisyah seharian penuh memasak, berbelanja, mengantar anak majikan, mencuci, mensetrika, dan lain-lain pekerjaan rumah tangga lainnya.

Menjelang malam, Aisyah kembali ke laptop Acer-nya. Mengetik, menulis, mem-browsing perkembangan jagat dari bilik kecilnya. Terkadang, ketika majikan berangkat kerja dan anak-anak sudah diantar sekolah, iapun kembali bekerja dengan laptopnya. Beruntunglah, banyak majikan di Hong Kong yang ikhlas domestic worker-nya memiliki laptop ataupun meminjam computer milik majikan. Juga, ikhlas sang housemaid mem-browsing dunia maya melalui internet, yang di Hong Kong aksesnya amat cepat dan bukan perkara yang luar biasa mewah. Tentunya, ini berkah buat Aisyah. Karena rekan-rekan senasibnya di Malaysia, Saudi Arabia, apalagi di Indonesia belum tentu dapat menikmati teknologi ini. Karena, jangankan berinternet dan ber-fesbuk ria, banyak majikan di Indonesia yang ‘super gerah’ melihat PRT-nya ber-ponsel ria di sela-sela mencuci dan mensetrika (padahal apa salahnya ya, PRT juga manusia).

Sepintas lalu, tak banyak perbedaan antara Aisyah dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Ponsel-nya, kendati bukan i-phone ataupun Blackberry, namun juga bukan Nokia seri jadul. Laptop-nya, kendati bukan Sony Vaio atau Fujitsu, namun tetap Acer seri terakhir. Penampilannya, kendati bukan ala fifth avenue New York ataupun Ginza Tokyo, namun juga tetap nyambung untuk bergaul di sepanjang Causeway Bay, Hong Kong. Camera digitalnya, kendati bukan Nikon atau Canon DSLR, namun juga bukan Olympus tahun jadul.

Singkatnya, Aisyah adalah juga manusia Indonesia masa kini dengan segala kesederhanaannya. Dengan segala mimpi-mimpinya. Dengan segala keterbatasannya. Dengan segala keinginannya. Imajinasinya tak mampu dibendung oleh bilik kecil ruang tidurnya. Kreativitasnya tak mampu dibelenggu status domestic worker-nya.

Nyaris sepuluh tahun Aisyah tinggal di Hong Kong. Dan ia belum dapat dikatagorikan senior. Karena di dalam bis E11 menuju Hong Kong airport dari Wan Chai area, saya mendapati seorang PMI (pekerja migran Indonesia) yang sudah tinggal 11 tahun di luar negeri. Tujuh tahun di Singapore dan empat tahun di Hong Kong. Alias lebih senior dai Aisyah. Rekan Aisyah yang lain bahkan sudah menyandang status sebagai permanent resident Hong Kong, karena sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di negeri ini.

Namun, di luar penampilan modisnya, Aisyah tetaplah perempuan Jawa dengan segala keluguannya. . “Saya minder mas, melihat Mas dan teman-teman penulis yang lain.” “Mas sempat sekolah tinggi-tinggi dan pengetahuannya banyak,” “Saya hanya anak orang biasa dan sekolah-pun tak sampai SMA.”

Saya mencoba membangkitkan kepercayaan dirinya. “Mbak, yang penting bukanlah siapa kita, tapi apa yang telah kita hasilkan. Mbak sudah banyak menulis dan karya-karyanya konkrit. Saya sudah melihat banyak orang yang nasibnya, maaf, jauh lebih baik dari Mbak, tapi belum menghasilkan apa-apa,”. Lagian, di mata Allah SWT kita semua sama kok,” ujar saya. Mencoba bersikap arif.

“Iya sih Mas, tapi kadang saya ragu dengan tulisan saya sendiri. Takut bahasanya jelek, atau pandangannya terlalu sempit, maklumlah saya anak orang susah, tak sempat juga sekolah tinggi-tinggi. Enak ya jadi Mas, bisa kemana-mana,” sahut Aisyah datar.

Saya tercekat. “Lha, Mbak tinggal di luar negeri jauh lebih lama daripada saya. Saya juga baru kali ini menginjak Hong Kong, Mbak kan sudah bertahun-tahun. Tentunya pengalaman Mbak jauh lebih banyak daripada saya!”

“Iya sih Mas, tapi saya kan lama di luar negeri sebagai PRT, visa saya aja bunyinya domestic helper. Sampeyan kan nggak!”

Kontan saya terdiam. Speechless. Bingung mau bicara apa lagi.

Lalu sayapun teringat lagu “Aisyah Adinda Kita” karya Bimbo tahun 1970-an. Aisyah yang sopan dan jelita. Aisyah yang angka SMP dan SMA sembilan rata-rata. Aisyah yang pandai mengarang dan organisasi. Aisyah yang memakai jilbab, menutup rambutnya, Aisyah yang Indek Prestasinya tertinggi tiga tahun lamanya. Aisyah yang calon insinyur dan bintang di kampus. Aisyah yang tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini tak mengenal istilah Indeks Prestasi, karena ia tak sempat kuliah. Kendati ia amat menginginkannya. Terngiang-ngiang dalam telinga saya ia berkata, “bagaimana sih caranya dapat beasiswa kuliah, Mas? Harus lulus SMA dulu ya?” tanyanya polos.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini juga bukan calon insinyur dan bintang di kampus. Bahkan kata-kata ‘kampus’ terkesan amat asing baginya.

Namun, persamaan antara Aisyah Bimbo dengan Aisyah Hong Kong ini adalah, mereka berdua sama-sama sopan, sama-sama pandai mengarang dan organisasi. Sama-sama memakai jilbab dan menutup aurat. Sama-sama tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Aisyah Hong Kong amat sibuk dengan organisasi. Organisasi kepenulisan hanyalah salah satunya. Di luar itu, ia sibuk juga dengan organisasi kedaerahan, organisasi pengajian, hingga organisasi bisnis (ia berbisnis juga di luar kegiatan domestic worker-nya). Setiap pekan, ketika banyak rekan senasibnya menghabiskan waktu tak karuan di Victoria Park, Aisyah juga pergi ke Victoria Park. Namun untuk diskusi ilmiah dengan teman-teman sehobby, ataupun ikut pengajian rutin setiap Ahad siang.

Ketika banyak rekan-rekan seprofesinya berdandan tak karuan, mengenakan celana pendek, kaos pendek ketat dan high heels shoes, serta rambut warna-warni, Aisyah tetap konsisten berbusana muslimah.

Dan ini bukanlah perkara sederhana. “Banyak majikan yang melarang kami mengenakan busana muslimah, Mas. Rata-rata tak mengerti dan takut dengan perempuan berjilbab. Kami juga terkadang susah shalat dan puasa. Bukannya dilarang, tapi mereka sering khawatir. Majikan baik sih tapi sering takut kalau kami mati kelaparan akibat puasa. Rekan saya ada yang mulutnya sengaja dijejalkan nasi oleh sang majikan supaya ia tak mati kelaparan. Majikan khawatir kalau ia mati kelaparan akan menjadi tanggungjawab majikan”, ujar Sarah, bukan nama sebenarnya, rekan Aisyah.

“Banyak dari kami yang berjilbab hanya setiap hari Minggu saja. Di hari biasa ada majikan yang melarang, karena tak mengerti kenapa juga di rumah masih pakai jilbab. Bahkan, beberapa dari kami untuk shalat dan puasa-pun harus nyolong-nyolong. Teman saya ada yang sampai harus shalat di WC atau di depan majikan mengesankan tidak sedang puasa, padahal ia tengah puasa,” lanjut Sarah lagi. “Sebenarnya majikan kami banyak yang baik, tapi ya itulah, sukar mengerti ajaran dan tradisi Islam.”

“Yang paling sulit adalah ketika kami harus berbelanja dan memasak daging babi. Majikan tahu sih kami tak makan daging babi atau daging apapun yang tak ada logo halal-nya. Tapi tetap saja kami harus masak daging babi juga. Beruntunglah, belakangan ini ada sabun khusus buatan Malaysia yang dapat dengan mudah menghilangkan najis dari daging tersebut,” tambah Sarah.

Maka, Aisyah menjadi pribadi yang lain di malam hari dan juga di hari Ahad. Karena, ketika Senin menjelang ia kembali menekuri pekerjaan rutin di rumah tangga. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga khas domestic worker. Namun, tak pernah sekalipun lontaran “I don’t like Monday!” keluar dari mulutnya.

Dari Aisyah saya belajar banyak. Maksud hati ingin memberikan pencerahan, malah saya yang tercerahkan. Bahwasanya kata kunci dari kemajuan adalah kemauan. Banyak orang memiliki kesempatan namun kurang memiliki kemauan. Sebaliknya, banyak orang memiliki kemauan namun kurang mendapat kesempatan. Ketika kemauan bertemu dengan kesempatan, maka kreativitas akan lahir.

Aisyah memiliki kemauan keras namun kesempatannya minim. Mimpi-mimpi indahnya sudah terpenggal jauh hari setelah tamat SMP. Cita-cita kanak-kanaknya segera buyar begitu menjumpai kenyataan sang ayah tak sanggup mensekolahkannya ke bangku SMA. Adik-adiknya yang berjumlah banyak lebih menyedot perhatian ayahnya. Walhasil, Aisyah muda sedari usia SMA telah melenggang ke luar negeri. Menjadi pekerja migran. Bukan semata-mata karena ingin keluar negeri, tapi karena tak ada pilihan lain.

Kini, sedikit kesempatan yang dimiliki Aisyah tak satupun dilewatkannya. Perbendaharaan gadgets-nya juga sudah lumayan komplit. Laptop, handphone, digital camera, etc. Yang hebatnya, di tangannya semuanya jadi bermakna lebih. Sedikit waktu yang dimilikinya, miring komentar orang tentang profesinya, heran majikan mensikapi konsistensinya berbusana muslimah, namun toh ia tetap kreatif dalam menulis dan berorganisasi.

Saya jadi semakin percaya, bahwa setiap orang memiki potensi untuk maju selama memiliki kemauan dan kesempatan. Kalau mereka tak memiliki kesempatan, berilah mereka kesempatan. Karena, bukan salah mereka apabila mereka jarang memiliki kesempatan…tak ada manusia yang ingin miskin…dan tak ada anak yang bisa memilih dari orangtua seperti apa dan di tempat seperti apa ia dilahirkan…

Menjelang tidur di malam hari bulan suci Ramadhan ini, sayup-sayup untaian lagu “Aisyah Adinda Kita” Bimbo kembali merobek dinding telinga saya…
Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah…yang kurang beruntung…yang menjadi pekerja migran…yang hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara karena tak ada pilihan lain…namun tetaplah Aisyah Adinda Kita….


Salaya, penghujung Agustus 2009

Myanmar : Tips Menyelinap dari Thailand dan Kesan Pertama

Dari sepuluh negara ASEAN, Myanmar alias Burma barangkali adalah negara terakhir yang masuk daftar untuk dikunjungi para traveler. Masuk akal juga sih. Negeri ini dua puluh tahun terakhir kondang memproduksi catatan-catatan seram tentang pelanggaran HAM, kekerasan politik, kesewenang-wenangan junta militer, dan lain sebagainya. Ingatan orang tentang Myanmar melulu adalah nasib tragis Aung San Suu Kyi, kekerasan terhadap buddhist monk pada September 2007, dan Cyclone Nargis yang menelan banyak korban di Delta Irawadi pada Mei 2008 silam.

"It's dangerous country, I don't want to go there, I prefer to go to Bali or Ho Chi Minh City," ujar seorang supir taxi asal Krabi Thai yang saya tumpangi di Bangkok. Sang supir dengan bahasa Inggris patah-patah namun penuh semangat menjelaskan bahwa Thailand memang berbagi border ribuan kilometer panjangnya dengan Myamar, namun toh ia tidak mau pergi kesana.

Padahal, Myanmar adalah negeri indah dengan peradaban tua yang really worth visiting. Dengan luas 676,578 km2, ia adalah negeri terluas kedua di ASEAN setelah Indonesia. Juga, hingga kini, adalah satu-satunya negara ASEAN yang penduduknya (U Thant) pernah jadi Sekjen PBB selama sepuluh tahun, 1961 - 1971. Hebat kan?

Panorama Myanmar terbilang lengkap, mulai dari kecantikan laut dan pantai sepanjang Laut Andaman dan Teluk Bengal, peninggalan kolonial Inggris yang masih berjejak jelas di kota-kota besarnya, sisa-sisa kerajaan dan peradaban masa silam yang masih terekam kuat di Bagan, Mandalay, dan sekitarnya, hingga sajian alam perbukitan, pegunungan, hingga atap dunia Himalaya yang ekornya mampir juga ke sisi utara Myanmar.

Myanmar berbatasan darat dengan banyak negara. Bangladesh, India, China, Lao PDR, dan Thailand. Tak heran, ciri-ciri fisik penduduknya bervariasi. Mulai yang bertampang ala Melayu, China, India-Bengal, Thai-Lao PDR, ataupun gabungan kesemuanya. Tak heran, saya yang konon berwajah Melayu, sering disangka orang Myanmar disana. Kalau saja saya tidak ngomong, diam saja, orang mesti mengira saya orang Myanmar. Beberapa kali saya ditegur paksa : "You are not Burmese? how come? you look like Burmese!" Dan ini menguntungkan, karena dengan 'Burmese Lookalike' ini saya dapat masuk ke spot-spot tourist dengan tarif khusus penduduk lokal. Lumayan menghemat US $ 5 per visit !

Kendati beragam, penduduknya tidak bisa disebut banyak. Hanya berkisar 47 - 52 juta. Masih kalah dengan penduduk Vietnam ataupun Thailand yang dari segi luas wilayahnya lebih kecil dari Myanmar.

Pintu masuk utama Myanmar adalah Yangon (Rangoon) dan Mandalay. Keduanya adalah mantan Ibukota Myanmar. Sejak November 2005, junta militer memindahkan ibukota ke Naypyidaw. Kota sepi di tengah hutan dan padang belantara berjarak 320 km utara Yangon. Banyak pengamat mengatakan alasan kepindahan ini tak rasional. Lebih karena kepercayaan terhadap takhayul dan paranoid para junta.

Penerbangan internasional amat sedikit yang menyinggahi Yangon dan Mandalay. Hanya tiga kota internasional yang ikhlas menerbangkan pesawatnya dengan frekwensi agak sering ke Yangon, yaitu dari Singapore, Kuala Lumpur, dan Bangkok.

Bagaimana menyelinap ke Myanmar dari Thailand? perbatasan darat Myanmar dengan Thailand luar biasa panjang sebenarnya. Mulai dari daerah Golden Triangle di Mae-Sai/ Tachilek, hingga menjejak ke selatan ribuan kilo panjangnya hingga laut Andaman- Semenanjung Kra. Tak heran, pantai barat Myanmar di sisi semenanjung Kra turut terlibas tsunami Aceh pada tahun 2004.

Pintu masuk darat menuju Myanmar cukup banyak. Mae Sai di ujung utara Chiang Rai, Mae Sot dan Three Pagoda Pass di sisi barat laut, Kawthaung- Victoria point di sisi selatan berbatasan dengan Ranong province, Thailand.

Bagi warga Indonesia di Thailand, cara paling baik menjejak Myanmar adalah lewat udara. Thai Airways dan Air Asia menerbangi rute Bangkok - Yangon setiap hari. Tiket Air Asia juga lumayan murah. Tak lebih dari USD 100 pp. Sayangnya, untuk masuk Myanmar warga Indonesia perlu visa. Dan inilah negeri ASEAN satu-satunya dimana warga Indonesia perlu visa yang harus di apply di Myanmar embassy beberapa hari sebelumnya! Mengunjungi Lao PDR dan Cambodia memang perlu visa juga, tapi cukup on arrival visa.

Myanmar embassy di Bangkok berlokasi di daerah Sathorn, persisnya 132 Sathorn Nua rd. Kalau menumpang BTS dari Siam ambillah jurusan Saphan Taksin/ Wongwian Yai dan turun di Surasak. Cari exit no 3 dan berjalan kaki ke arah timur sampai bertemu Bangkok Christian College di sebelah kiri dan Catholic Hospital di seberang kanan. Myanmar embassy terletak persis di corner. Visa dan consular section terletak di kanan belakang. Loket visa buka mulai pukul 08 - 12 dan 13-15. Lalu pengambilan visa dan passport pada pukul 15 - 16.

Syarat-syarat mengajukan visa cukup sederhana. Apalagi bagi yang menyandang visa turis ke Thailand. Cukup pas foto passport size dua buah, mengisi form, copy passport sisi depannya dan juga copy visa Thailand, plus membayar non refundable visa fee 850 THB (kenapa ya dimanapun visa fee selalu non refundable?). Bagi penyandang visa kerja dan studi mesti melampirkan dokumen tambahan seperti keterangan tempat kerja atau keterangan dari kampus (atau cukup kartu pelajar sahaja).

Bagi turis asing, biasanya dalam sehari visa sudah bisa di pick up. Tapi dalam kasus saya, mesti menunggu dua hari kerja. Dimasukkan Rabu siang dan baru bisa diambil Jum'at sorenya. Alhamdulillah dapat visa juga.

Cara lain menjejak Myanmar adalah via darat dari pintu Mae Sai di Chiang Rai (Golden Triangle). Disini tak perlu visa. Cukup membayar 500 THB, beri copy passport dan persis di border Myanmar passport kita akan ditahan. Silakan masuk Tachilek - Shan State tanpa passport ! Nah, dalam keadaan tanpa identitas penting ini jelas kita tak bisa pergi jauh-jauh dari kota ini. Dan memang border pass ini hanya valid untuk kota ini dan sekitarnya. Tak boleh menyeberang ke provinsi lain.

So bagaimana? masih ingin ke Myanmar? Lonely Planet, buku panduan traveler kesohor, memiliki dua advis unik untuk mereka yang ingin ke Myanmar. Dan tak biasanya Lonely Planet memberikan pilihan ini. Sang penulis bilang, pertama-tama kalau anda ingin ke Myanmar anda harus bertanya : Should you go? to go or not to go? Reasons not to go adalah bla bla bla... Reasons to Go adalah bla bla bla....alasan untuk pergi adalah karena negeri ini indah dan uang para turis dapat membantu mempertebal kantong penduduk lokal yang amat tipis... alasan untuk tidak pergi adalah karena Aung San Suu Kyi pernah minta turis untuk tidak datang, karena uang turis akan memperkaya para junta..juga karena banyak turis spot dibangun melalui keringat para forced labors..de el el

Blog EntryJun 25, '09 2:00 PM
for everyone
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengijinkan hambanya yang dhaif ini untuk mengunjungi negara-negara ASEAN.  Dengan berkunjungnya saya ke Saigon - Vietnam pada pekan ketiga Juni 2009 maka tamat sudah sepuluh negara ASEAN saya kunjungi sejak tahun 2000.  Mungkin bagi seorang diplomat atau mereka yang berkarir di foreign services hal ini amatlah biasa. Bahkan mereka bisa menamatkan sepuluh negara hanya dalam bilangan bulan ataupun kurang dari setahun. Namun untuk seorang dosen dan peneliti seperti saya, menamatkan ASEAN sungguh suatu berkah dan karunia...

Negara ASEAN yang pertama saya rambah (tentunya di luar Indonesia) adalah Singapore pada tahun 2000, lalu menyusul Brunei Darussalam (2004), Malaysia (2005), Philippine (2005), Thailand (2006), Lao PDR (2008), Myanmar (2008), Cambodia (2009) dan Vietnam (2009). 
 
Dari segi bilangan kunjungan, negeri ASEAN di luar Indonesia yang paling sering saya kunjungi adalah Thailand (di atas 15X, bahkan saya masih tinggal di Bangkok sampai sekarang), lalu Malaysia (antara 10 - 15 X), Singapore (antara 8 - 10 X), Philippine (4X), Brunei Darussalam (2X), Myanmar (2X), Lao PDR dan Vietnam (masing-masing 1X) 

Bagi pejalan-pejalan seperti  Ibnu Batutah, Marco Polo, James Cook, Magelhans, Perry, Amundsen, Naomi Uemura, Alexander the Great, dll, pencapaian ini mungkin tak ada apa-apanya.  Karena saya cukup menumpang pesawat, kereta api, ataupun bis untuk menuju sepuluh negara tersebut.  Sementara mereka menggunakan mode transportasi yang amat sederhana pada jamannya. Maka, salut untuk para explorer dan traveller tersebut !

Apa yang membuat negara-negara ASEAN ini dapat saya tuntaskan? Selain rahmat Allah SWT, faktor berikutnya adalah karena saya berdomisili di Bangkok.  Bangkok adalah the real hub bagi ASEAN countries dan negeri Thailand adalah berbatasan darat dengan empat negara ASEAN.  Pula, merambah negara-negara di Mekong River states (Burma, Lao PDR, Vietnam, China, Cambodia) adalah cukup mudah dan murah dari Bangkok.   Credits for Air Asia and all affordable public transports in ASEAN !





Presiden pacaran dan menikah dengan fotomodel telanjang seperti Nicholas Sarkozy di Perancis sudah ada, PM enam tahun menjabat tanpa istri sudah ada, yaitu Junichiro Koizumi van Japan,  Presiden Perempuan sudah banyak, seperti di Chile, Liberia, Ukraina, Philippines,  Germany dan pernah juga di Indonesia (entah beliau terpilih lagi atau tidak) . Presiden kulit hitam di negeri kulit putih pun ada, Barrack Obama di US. Tapi Perdana Menteri Lesbian?  ini baru ada di Iceland, negeri pulau termakmur di dunia (memiliki Human Development Index tertinggi) yang terletak di Atlantik Utara.  Sang PM openly declared bahwa ia lesbian dan bahkan kini hidup bersama domestic partner-nya,  Jonina Leosdottir.

Kisah selanjutnya ada disini :

http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/europe/article6175547.ece


From
April 27, 2009

Iceland chooses Johanna Sigurdardottir as world's first gay leader

A left-wing coalition under the world’s first openly gay national leader has swept to power in Iceland after voters punished conservatives for driving the country towards bankruptcy.

“Our time has come!” said the Social Democrat Jóhanna Sigurdardóttir, 66, who will lead a coalition with the Left-Green party. Together they have an absolute majority, a first for a left-wing government in Iceland.

Her victory is seen as a return to left-wing policies after almost 18 years of conservative Independent party domination and a sign too that women are going to take a stronger role in running the country. More women than ever before were returned to parliament and Icelandic media claimed that the island’s ancient assembly was now fourth in the world in terms of female participation.

The Independent party — which privatised the banks and allowed the financial sector to balloon out of all proportion to the GDP — recorded its worst result of modern times. Some of the disaffected conservatives, frustrated at the increasing number of corruption stories emerging from party headquarters, switched their allegiance to another centre-right party, the Progresives.






Blog EntryJun 3, '09 12:37 PM
for everyone
Ini masih tentang pernikahan yang tidak umum.  Ketika teman kuliah saya, F, declared bahwa dia akan menikah bulan depan dengan pasangan sesama jenisnya, yang bukan kebetulan seorang Indonesian muslim, rekan saya yang lain, sebut saja M, seorang gadis Amrik, tak mau kalah mengatakan, I'll get marry too, maybe this June !

Sama seperti F,  M juga mengatakannya dengan wajah berbinar-binar.  Ceria pastinya. Tinggal saya terbengong-bengong.  Dalam hati saya mengatakan, lha buat apa nikah wong sudah sering tinggal serumah dengan pasangan yang berbeda-beda? 

Sejatinya M adalah seorang gadis Amrik yang sangat baik.  'Baik' dalam ukuran orang sekarang tentunya.  Sangat sederhana, peduli urusan sesama, tak pernah mau menyakiti orang lain, ramah, supel, dan selalu ingin belajar dari semua orang. Senang turun ke jalan dan berbaur dengan orang yang berbeda-beda dari berbagai macam kultur dan warna kulit.  Tak peduli ia berasal dari kota besar terkenal di negeri Paman Sam dan lulusan dari kampus amat bergengsi di pantai barat Amrik.

Namun, di luar kesederhanaan dan kepedulian sosialnya,  M adalah juga gadis yang amat bebas dalam masalah pergaulan dan maaf, seksualitas.  Bagaimana saya tahu?  ia senang bercerita pada semua orang yang dianggap se-esnya,  termasuk saya.

"Ketika saya tinggal di Eropa, saya tinggal serumah dengan pacar Perancis saya selama lima tahun.  Ketika ke Cambodia, saya travelling berdua dengan American boyfriend saya. Ketika di Thai saya menaruh hati pada guru senam ya dan di Asia Selatan saya terpincut dengan guru yoga saya.  Saya berencana ingin hamil darinya,  sudah waktunya saya punya anak...Demikian kompilasi ceritanya yang masih terekam banyak dalam memori saya  (jadi ingat SBY yang mengaku punya memori banyak tentang lawan-lawan politiknya, jangan galak-galak, he he he).

Yang agak aneh,  ketika cerita bahwa dia ingin hamil dari pacar Asia Selatan-nya, ia tak menyinggung sedikitpun tentang pernikahan.  Mungkin di benaknya hamil dan nikah adalah dua hal yang berbeda ya.  Hamil tak mesti didahului oleh pernikahan.

Atau mungkin juga saya yang konservatif, kolot, dan lupa bahwa dunia telah berubah?  lupa bahwa pernikahan masa kini tidak identik dengan pernikahan heteroseksual, tidak mesti pantang berhubungan seks sebelum menikah, dan tidak wajib bertujuan membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah seperti tertuang dalam UU Perkawinan dan turunan-turunannya.

Pengalaman studi di Amrik, Jepang, dan kini di Thai ternyata tidak membuat saya jadi 'liberal'. Dan saya tetap bersyukur bahwa saya tetap seorang konservatif dalam memandang lembaga pernikahan dan keluarga.  Isyhadu bi ana konservatif...

Kembali ke rencana pernikahan M. Saya jadi berfikir, jika saya sebagai M untuk apa lagi saya menikah.  Wong sudah tinggal bersama, bergaul bebas,  bahkan mengetahui setiap detil dalam tubuh masing-masing hingga panu terkecil sekalipun, therefore, is it necessary to engage in a marriage, folks?

Barangkali ada yang saya belum tahu. Bahwa pernikahan tidak semata-mata seksualitas dan kenikmatan fisik belaka. Bahwa pernikahan adalah juga feeling secure, affection, dignity, social status, and so on and so forth.

Namun terus terang untuk pernikahan model F yang sesama jenis ataupun M yang sudah menghalalkan seks qabla nikah,  saya bingung memberi ucapannya apa.  Masak sih dengan do'a dahsyat  : barakallahu laka wabaraka alaika wajama'a bainakum fi khair... atau cukup dengan langgam standar pernikahan : may you both will live happily ever after...persis kayak di penghujung komik Hans Christian Andersen...

Blog EntryJun 2, '09 8:12 PM
for everyone
Don't get me wrong.  Ini ucapan teman saya, sebut saja F, seorang Chinese, yang sama-sama tengah studi di Bangkok.  "I will get marry soon, Heru, perhaps this June, ujarnya riang dengan mata berbinar-binar.  'Really,  How come?"  sepintas lalu pertanyaan ini berderajat 'kurang ajar' karena memasuki wilayah privacy orang lain.  Tapi ini pertanyaan wajar, wong F dan pacarnya sama-sama laki-laki.

Yang lebih takjub, boyfriend F ini ternyata orang Indonesia yang tengah bekerja di satu negara Asia Tenggara. Semacam expatriate begitu.  Menilik nama 'pacar'-nya, sepertinya juga muslim.

Saya iseng-iseng nanya lagi (sekaligus ngetes),  "why don't you do it in Holland, Spain, Canada, or some states in US which legalize same sex marriage?"

Nggak bisa, jawabnya.  Kita harus menjadi salah satu citizen di negeri itu apabila ingin 'menikah' di negara-negara tersebut.  Lagian, ujarnya lagi, I'm Chinese and he's Indonesian muslim.  Both my country and your country ban same sex marriage !  I have learned Indonesian marriage law as well.  Pantesan ni bocah beberapa bulan terakhir kok sering nanya tentang hukum perkawinan Indonesia ke saya.  Serius pula nanyanya.

Bener juga, ujar saya, dalam hati tentunya.  Jangankan menikah sesama jenis, pasangan heteroseksual hidup bersama tanpa ikatan pernikahan saja sudah berkategori menyeberang aturan agama dan budaya.  Meski sulit dikriminalisasi juga, karena KUHP-nya 'dogol.'

Lalu, kalau kamu ingin menikah di negara kamu, gimana caranya? tanya saya penasaran. Your country will not recognize and legalize your marriage as well, right?

It's not a big deal, ujarnya kalem.  Masih dengan tampang berbinar-binar.  "We have our own way of marriage and celebrate the wedding...

kontan saya jadi speechless...jadi ingat becandaan waktu SMA dulu,  dulu teman-teman suka bercanda seperti ini : nikah atau pacaran itu yang penting kasih sayang, jenis kelamin sih nomor dua...

Blog EntryMar 22, '09 3:35 AM
for everyone
The only avenue towards wisdom is by freedom in the presence of knowledge. But the only avenue towards knowledge is by discipline in the acquirement of ordered fact...

The two principles, FREEDOM AND DISCIPLINE, are not antagonist but should be so adjusted in the child's life that they correspond to a natural sway, to and from, of the developing personality.

(taken from Leonard Roy Frank, Freedom, 2003, page 59)


Blog EntryFeb 24, '09 9:56 PM
for everyone
 
 
Education should have two objects : first, to give definite knowledge, reading, and writing, language and mathematics, and so on, and secondly, to create those mental habits which will enable people to acquire knowledge and form sound judgments for themselves.


Bertrand Russel (English mathematician and philosopher, 1972 - 1970
)

Blog EntryFeb 24, '09 8:42 AM
for everyone

Have you ever been at sea in a dense fog, when it seemed as if a tangible white darkness shut you in and the great ship, tense and anxious, groped her way toward the shore with plummet and sounding-line, and you waited with beating heart for something to happen?
" I was like that ship before my education began, only I was without compass or sounding line, and no way of knowing how near the harbor was. "light! give me light! was the wordless cry of my soul, and the light of love shone on me in that very hour.

Helen Keller (US Writer and Lecturer 1880 - 1868). Keller lost her sight and hearing when she was nineteen months old.


Blog EntryFeb 4, '09 4:49 AM
for everyone
 
MENGGAGAS PERADILAN KEJAHATAN PERANG ISRAEL
 
Heru Susetyo
Staf Pengajar Fakultas Hukum UI/  Mahasiswa PhD bidang Human Rights & Peace Studies Mahidol University
 

Pembantaian Terpanjang di Dunia

Israel kembali menuai darah. Dalam sesi terkini pembantaian di Gaza pada 27 Desember 2008 -  17 Januari 2009 tak kurang dari 1412 warga Palestina tewas. Dari jumlah tersebut 440 jiwa adalah anak-anak dan 110 wanita.  Tidak hanya itu, 2000 anak-anak dan 1000 wanita telah juga menjadi korban luka-luka (www.hidayatullah.com).

Tidak sekedar menjadikannya sebagai ’penjara terbuka’ (open air prison), Israel memang telah menjadikan Gaza sebagai ladang genocide terbuka . Dan Israel tak pilih-pilih. John Mearsheimer (almanar.com) menyebutkan bahwa target serangan Israel adalah universitas, sekolah, masjid, rumah, apartemen, bangunan, kantor-kantor pemerintah, dan juga ambulan.  Logika penyerangan terbuka dan tak pilih-pilih ini dijelaskan oleh seorang pejabat militer senior Israel sebagai berikut : ”There are many aspects of HAMAS, and we are trying to hit the whole spectrum, because everything is connected and everything supports terrorism against Israel,”.  Dalam bahasa Israel, setiap orang adalah Teroris dan segalanya adalah target serangan yang legitimatif (Mearsheimer, 2009).  

Dan ini bukan pertama kalinya. Dapat dikatakan pembantaian, penghinaan, dan penyiksaan Israel terhadap warga Palestina di daerah pendudukan (occupied territories) adalah pembantaian terpanjang dalam sejarah dunia modern.  Karena praktis berlangsung sejak tahun 1948 dan tidak jelas kapan akan berakhir.

Sayangnya, hampir semua kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut luput dari pengadilan. Kejahatan perang yang ditunjukkan Israel di Jenin - Palestina,  April 2002, berakhir seperti biasa.  Tidak ada penindakkan hukum yang signifikan terhadap mereka. Kendati, ratusan warga sipil Palestina telah tewas dan teraniaya secara mengenaskan, namun sampai kini otoritas dan tentara Israel masih tetap tak tersentuh hukum.  

 

Kitapun masih ingat dengan peristiwa berdarah pada hari Sabtu dan Ahad pekan pertama Maret 2008 di Gaza. Tentara Israel kembali menuai darah melalui operasi militer berskala besar ke bagian utara wilayah Palestina tersebut. Sebanyak 67 orang Palestina tewas sementara 320 orang lagi cedera (Republika, 03/03/08).

 
Sejak mentahbiskan diri sebagai ‘negara berdaulat’ pada tahun 1948,  beratus kali Israel melakukan kekerasan yang dapat digolongkan sebagai pelanggaran berat HAM (Grave Breaches of Human Right), genosida (genocide)  dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crime Against Humanity).  Disamping seri pembantaian berkelanjutan di Gaza, pembantaian di Jenin 2002 adalah satu contoh, selebihnya seperti kekerasan di Kamp Pengungsi Balata awal 2002, pembunuhan bocah Muhammad Jamal Ad-Durra (September 2000), penyerangan Shabra Shatilla di Lebanon (1982),  pembunuhan 106 warga sipil di Gedung PBB Qana, Lebanon Selatan, semakin menggenapkan citra Israel sebagai penjahat perang nomor wahid. Sebelum terjadinya serangan ke Gaza bulan Desember – Januari silam, Dr. Sami Abu Zuhri, Dosen Sejarah di Jamiah Islamiyah Gaza menyebutkan kekerasan Israel terhadap bangsa Palestina di awal Maret 2008 adalah tragedi pembantaian Palestina paling berdarah sejak 1967, karena memakan jumlah korban paling banyak. Menurut Abu Zuhri, dari total korban meninggal akibat serangan Israel itu, dua puluh lima persennya adalah anak-anak dan kaum wanita.

Kejahatan perang yang hampir sama terjadi pada pertengahan Januari 2008. Selama lima hari Israel menyetop suplai listrik, bensin, dan bantuan kemanusiaan ke Gaza, suatu kekejian yang oleh Amnesty International (2008) disebut sebagai collective punishment (hukuman kolektif).

Akibat pemutusan ini, Gaza gelap gulita. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, hingga perumahan hanya mengandalkan lilin dan alat penerang seadanya.  Padahal, di wilayah sesempit 360km2 ini tinggal 1.5 juta rakyat Palestina (1 juta diantaranya adalah pengungsi), dimana hampir 50% diantaranya adalah kaum perempuan dan 48% diantaranya adalah anak-anak berusia kurang dari 14 tahun.

Kekerasan Kolektif untuk Warga Sipil Gaza

Kekerasan dan penderitaan warga sipil di Gaza, utamanya perempuan dan anak-anak telah berlangsung sama tuanya dengan penjajahan Israel di Palestina. Studi yang dilakukan oleh John Hopkins University (USA) dan Al Quds University (Jerusalem) untuk CARE International pada 2002 menyebutkan bahwa warga Palestina memiliki problem kesehatan dan kekurangan gizi yang tinggi. Tujuh belas setengah persen (17.5%) dari anak-anak usia 6 hingga 59 bulan menderita kekurangan gizi kronis (chronic malnutrition). Lima puluh tiga persen (53%) perempuan pada usia reproduktif dan 44% anak-anak didapati menderita anemia.

Kendati demikian, apa yang terjadi dua tahun terakhir ini sungguh luar biasa. Luar biasa karena dilakukan secara kolektif (collective punishment) oleh Israel bersama-sama quartet of Middle East (PBB, Uni Eropa, AS, dan Federasi Rusia) pasca kemenangan HAMAS pada pemilu legislatif 2006 yang menghantarkan pemimpin HAMAS, Ismail Haniya, sebagai PM Otoritas Palestina.

Kuartet Timur Tengah dan Israel menolak mengakui kepemimpinan HAMAS, kendati terpilih dalam pemilu yang demokratis. Dasar utama penolakan ini, menurut mereka, adalah karena HAMAS menolak mengakui Israel, menolak mengakui perjanjian dengan Israel yang dilakukan sebelumnya yang mengatasnamakan otoritas Palestina, dan menolak menghentikan kekerasan.

Akibat penolakan ini, maka kuartet Timur Tengah dan Israel menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap pemerintahan HAMAS dalam bentuk menahan pendapatan pajak (tax revenues) rakyat di dalam Otoritas Palestina, menghentikan bantuan internasional dari kuartet tersebut kepada Otoritas Palestina, Israel membatasi pergerakan barang masuk dan keluar teritori Palestina dan pembatasan oleh perbankan US terhadap otoritas Palestina

Ketika pemerintahan koalisi HAMAS dan FATAH pecah pada Juni 2007 yang berujung HAMAS menjadi penguasa de facto Jalur Gaza dan FATAH menguasai Tepi Barat, maka , sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Jalur Gaza semakin ketat. Sebaliknya, sanksi ekonomi terhadap Tepi Barat yang secara de facto dan de jure dikuasai FATAH diperingan.

Kendati sanksi ekonomi ini ditujukan kepada HAMAS, pada kenyataannya berdampak luas pada warga sipil, utamanya perempuan dan anak-anak.  Dampak yang paling jelas adalah terjadinya darurat kesehatan.  Malcolm Smart dari Amnesty International (2008) menyebutkan bahwa lebih dari 40 pasien telah tewas sejak otoritas Israel menutup perbatasan dengan Gaza pada Juni 2007. Situasi diperburuk oleh Mesir yang juga turut menutup pintu perbatasannya dengan Gaza di daerah Rafah. Akibat penutupan ini, warga Gaza terkunci di negerinya. Tak dapat pergi kemana-mana.  Akses pasien ke rumah sakit di luar Gaza menjadi tertutup. Kesempatan bersekolah ataupun bekerja di luar Gaza menjadi hilang. Sementara itu Israel tetap leluasa mengontrol Gaza, karena perjanjian yang dilakukan sebelumnya memberikan hanya wilayah darat kepada otoritas nasional Palestina. Sebaliknya, wilayah udara dan laut Gaza tetap dikuasai Israel.

Penghentian pasokan listrik dan bahan bakar selama lima hari pada pertengahan Januari 2008 nyata-nyata telah mengancam  kesehatan dan keselamatan seluruh penduduk Gaza. Tidak hanya rumah sakit yang menderita, warga-pun menderita kekurangan air bersih, karena listrik dan bahan bakar diperlukan untuk memompa air.  Wargapun kesulitan menyimpan makanan, karena ketiadaan listrik membuat kulkas tak dapat dihidupkan.  Bisa dipahami bila akhirnya warga membobol tembok perbatasan Gaza dengan Mesir hanya untuk membeli makanan dan barang keperluan sehari-hari (Yahoonews, 23/01/08).

Kekerasan dan sanksi ekonomi yang terjadi membuat warga Gaza kini hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka menggantungkan hidup hanya dari bantuan internasional. Yang itupun turut terjegal oleh blokade Israel.

Amnesty International (2008) berpendapat bahwa Israel memiliki hak untuk membela dirinya dari serangan roket maupun serangan bersenjata lainnya yang diluncurkan dari Gaza, namun adalah suatu kesalahan untuk juga turut mengorbankan orang-orang yang tak turut bertanggungjawab atas serangan roket tersebut, yaitu orang sakit, para orang tua, wanita yang tak ikut berperang, dan anak-anak.


Pelanggaran Hukum Humaniter

Tak diragukan lagi, apa yang dilakukan Israel dan kuartet Timur Tengah dalam bentuk sanksi ekonomi maupun kekerasan terhadap warga sipil non combatants adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.

Hukum humaniter atau hukum perikemanusiaan internasional adalah serangkaian kompilasi hukum dan aturan-aturan yang berusaha untuk mengurangi dampak dari sengketa bersenjata.  Hukum humaniter internasional memberi perlindungan hukum terhadap orang-orang yang tidak ikut ataupun tidak lagi dapat berperang.  Hukum humaniter juga mengatur sarana dan metode dalam berperang. Maka, hukum ini tidak melarang perang namun mengatur bahwa ketika perang tak dapat dicegah maka sedapatpun tetap harus memperhatikan perikemanusiaan, seperti halnya perlindungan terhadap warga sipil, tawanan perang maupun  tentara yang terluka yang tak lagi dapat berperang.  

Konvensi Geneva ke III tahun 1949 mengatur perlindungan terhadap warga sipil yang tak ikut berperang (non combatants), termasuk para tentara yang terluka. Mereka wajib diperlakukan sesuai standar kemanusiaan tanpa memandang SARA. Dalam arti, pembunuhan, penyiksaan, penyanderaan, penghinaan, perendahan martabat (degrading treatment) dan penghukuman sama sekali dilarang dilakukan terhadap mereka.

Konvensi ini telah diratifikasi oleh negara-negara seluruh dunia, termasuk Israel, AS, Rusia, dan negara-negara Eropa Barat.  Disamping itu, Pasal 38 Konvensi Hak Anak (Children Rights Convention) 1989 juga mengatur bahwa anak-anak adalah subyek dari hukum humaniter internasional (Konvensi Geneva III 1949) yang sekali-sekali tak dapat dikorbankan ataupun dijadikan sebagai kelompok bersenjata (combatants).

Penderitaan warga sipil Palestina, utamanya di Gaza, sudah berlangsung terlalu lama. Enam puluh tahun lebih mereka dijajah Israel. Enam puluh tahun lebih mereka menjadi pengungsi di negerinya sendiri. Yang menyedihkan, apabila penyebab penderitaan itu dahulu didominasi oleh Israel, kini ditambah pula oleh AS, negara-negara Eropa Barat, Rusia dan juga PBB. Atas nama sanksi ekonomi. Atas nama perdamaian di Palestina.  Perdamaian macam apa yang kini didapatkan warga sipil di Gaza?

Ironisnya,  sebegitu jelas   pelanggaran yang dilakukan Israel, negeri ini tak kunjung dapat diadili di pengadilan internasional. Sangat berbeda dengan nasib Slobodan Milosevic, ‘jagal Bosnia’ mantan Presiden Yugoslavia, yang tewas di tengah hukuman seumur hidupnya di Den Haag,  ataupun Radovan Karadzic, mantan pemimpin ultranasionalis Serbia yang kini tengah diadili di kota yang sama,  ataupun jagal-jagal Rwanda (konflik suku Hutu-Tutsi di Rwanda 1994) yang juga sudah dan tengah diadili  di Tanzania.
 

Mengapa sulit menyeret Israel ke Mahkamah Kejahatan Perang? Apakah  memang tak cukup bukti hukum ataukah ada faktor-faktor non hukum yang lebih menentukan? Dan, Mahkamah manakah yang paling tepat untuk mengadili kejahatan perang Israel?  Tak cukup-kah landasan hukum untuk memproses kejahatan tersebut ke pengadilan internasional?  Israel telah mengorbankan sekian banyak anak-anak, perempuan non combatant (yang tak ikut berperang), para orang tua, dan orang sakit. Apa salah mereka sehingga harus dikorbankan?  Bukankah ini termasuk pelanggaran hukum perang (hukum humaniter?)

 
 
Beragam Bentuk Mahkamah 
Untuk mengadili suatu perkara internasional, paling tidak ada tiga bentuk mahkamah yang tersedia.  Pertama, adalah Mahkamah Internasional (International Court of Justice). Kedua, adalah Mahkamah Kejahatan Perang ad hoc/ tribunal seperti Mahkamah Nurnberg (1945), Mahkamah Tokyo (1945), Mahkamah Kriminal Internasional untuk mantan Yugoslavia (International Criminal Tribunal for Former Yugoslavia – ICTY) 1993, dan Mahkamah Kriminal Internasional untuk Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda-ICTR) 1994.  Ketiga, adalah Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court –ICC) yang dibentuk melalui Statuta Roma pada tahun 1998.
Mahkamah Internasional (Internasional Court of Justice- ICJ) tak memiliki cukup yurisdiksi  untuk mengadili kejahatan perang. Mahkamah yang berdiri tahun 1946 dan merupakan organ PBB ini, berdasarkan statutanya hanya berwenang untuk mengadili sengketa internasional antar negara (para pihak dalam sengketanya adalah negara-negara) dan memberikan opini ataupun nasihat hukum kepada organ atau badan-badan internasional.. Sehingga, kasus-kasus yang ditangani 
ICJ tak jauh dari perkara pelanggaran perjanjian internasional ataupun sengketa batas antar negara.
  
Mahkamah Kejahatan Perang Ad Hoc
Dalam sejarahnya,  mahkamah kejahatan perang ad hoc mulai dikenal sejak tahun 1474, yaitu dengan timbulnya peradilan atas Peter von Hagenbach di Breisach Austria.  Ia adalah seorang gubernur/ hulubalang Pangeran Charles dari Burgundy yang bertugas di Breisach.  Dalam rangka melaksanakan tugas Pangeran, Hagenbach telah melakukan kekejaman luar biasa terhadap penduduk Breisach berupa pembunuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan. Akhirnya,  persekutuan negara-negara Austria, Berne, dan Perancis sepakat untuk mengadili dan menjatuhinya hukuman mati (Sondakh, 2002).
Pada perang dunia ke II, kejahatan perang NAZI yang melakukan pembantaian terhadap kaum Yahudi dan kejahatan perang Jepang terhadap negara-negara lawannya membuahkan dua mahkamah, yaitu Mahkamah Nurnberg dan Mahkamah Tokyo. Mahkamah Nurnberg diciptakan oleh sebuah persetujuan multilateral yang ditandatangani di London antara pemerintah-pemerintah Amerika Serikat, Uni Sovyet, Inggris, serta pemerintahan sementara Perancis. Sedangkan mahkamah Tokyo ditetapkan oleh Proklamasi khusus dari Jenderal Mc Arthur selaku komandan tertinggi sekutu di Timur Jauh, yang kemudian mendapat limpahan kewenangan dari Amerika Serikat, Uni Sovyet, Inggris, dan Cina (Sondakh, 2002).
Mahkamah Nurnberg dan Tokyo adalah mahkamah militer yang sifatnya ad hoc. Hanya mengadili kejahatan perang kaum militer di Eropa dan Asia Timur-Pasifik  yang terutama dilakukan oleh Jerman dan Jepang pada perang dunia II.  Iapun mempunyai sifat internasional karena dibentuk melalui perjanjian antar negara, kendati sponsor utamanya tetap Amerika Serikat.
Mahkamah Kriminal Internasional untuk Rwanda (ICTR) dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 955 tanggal 8 November 1994.  Yurisdiksinya adalah kejahatan genosida (genocide) kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against Humanity) dan pelanggaran Konvensi Geneva , yang terjadi di Rwanda dan negara-negara tetangganya, antara tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 1994. 
Sedangkan, Mahkamah Kriminal Internasional untuk Mantan Yugoslavia (ICTY) dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi No. 687 tahun 1991. Yurisdiksinya adalah mengadili pelanggaran terhadap hukum humaniter yang terjadi dalam konflik Balkan (Mantan Negara Yugoslavia : Serbia-Bosnia-Kroasia, dll) sejak 1 Januari 1991.  Seperti kita ketahui,  konflik Balkan telah berakibat tewasnya ribuan nyawa, pemerkosaan massal, dan penganiayaan berat yang utamanya terjadi pada rakyat Bosnia.  Tak kurang dari Slobodan Milosevic, mantan presiden Yugoslavia, Radovan Karadzic, dan Ratko Mladic (belum tertangkap), telah dan akan dihadapkan ke Mahkamah yang berbasis di Den Haag atas tuduhan manjadi ‘jagal’ etnis Bosnia.
Berbeda dengan Mahkamah Nurnberg dan Tokyo, Mahkamah mantan Yugoslavia dan Rwanda ini dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB.  Persamaannya,  keduanya dapat mengadili individu-individu dan bersifat Ad Hoc.
 
Mahkamah Pidana Internasional   
Mahkamah yang lahir belakangan adalah Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court –ICC).  Ia adalah badan peradilan independen permanen yang bermarkas di Den Haag, Belanda, dan dibentuk oleh negara-negara anggota masyarakat internasional melalui Statuta Roma 1998.  Tujuan ICC adalah untuk mengadili tindak pidana yang mengancam jiwa manusia berdasarkan hukum internasional seperti (1) Genocide (2) Crime Against Humanity (3) Kejahatan terhadap hukum humaniter (4) Kejahatan Agresi
Tidak seperti Mahkamah Internasional (International Court of Justice-ICJ) yang menangani sengketa antar negara, ICC menangani masalah-masalah individu dan memiliki kewenangan untuk melakukan penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan. ICC menangani tindak pidana yang dilakukan oleh individu-individu baik sebagai bagian dari rezim pemerintahan ataupun sebagai bagian dari gerakan pemberontak.  Dalam hal ini, ia memberlakukan yurisdiksi internasional terhadap tindak pidana-tindak pidana tersebut. Dasar pendirian ICC adalah (1) kegagalan masyarakat internasional dalam menangani kejahatan genosida. crime against humanity, kejahatan perang, dan kejahatan agresi  (2) Banyaknya pelaku kejahatan yang tak dihukum (impunity).
 
Mengadili Kejahatan Perang Israel
Chibli Mallat -seorang pengacara yang menjadi kuasa hukum 23 korban kejahatan perang Israel di Shabra Shatilla, Lebanon 1982, yang akan menggugat Ariel Sharon di pengadilan Belgia-  mengatakan bahwa kesulitan menyeret Israel ke mahkamah kejahatan perang utamanya adalah menentukan tindakan Israel sebagai suatu kejahatan perang (war crimes), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) ataupun sebagai pembantaian massal  (genocide) (Ummahnews.com, 2002).  Karena, kendati tersedia cukup saksi dan cukup bukti prosesnya teramat sulit.
Sebutlah kasus Jenin, April 2002.  Harian The Independent, terbitan Inggris, menyebutkan bahwa 50 orang tewas di Jenin termasuk warga sipil, perempuan,
orang tua dan dan anak-anak.  Bahkan,  utusan PBB, Terje Roed Larsen, yang sempat datang ke Jenin mengaku sangat ‘shock’. “Saya melihat dua orang anak
mengangkat jenazah ayahnya dari reruntuhan dan sayapun melihat seorang anak berumur 12 tahun-an tertimbun tanah dan nyaris gosong.   Para pekerja kemanusiaan yang ada di Jenin semuanya nyaris tak mempercayai penglihatannya. “They have never seen anything like it,” ujar Larsen (ummahnews.com, April 2002).
Israel melarang Tim Pencari Fakta PBB untuk datang ke Jenin, kecuali tim tersebut diperlengkapi dengan ahli militer dan pakar anti teroris. Pula, Israel melarang Tim Kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional (ICRC) untuk datang ke Jenin.  Wajarlah kalau U.S. Secretary of The State, Collin Powell, mengatakan bahwa tak tersedia cukup bukti untuk menuntut Israel. Tak ada kuburan massal dan tak ada ratusan warga sipil yang tewas (ummahnews.com, April 2002). 
Pembangkangan Israel terhadap PBB ini bukan pertama kalinya.  Pada 18 April 1996 Israel menewaskan 106 pengungsi sipil yang bermukim di dalam gedung PBB di Qana, Lebanon Selatan. Mereka menyerang gedung tersebut dalam suatu operasi yang disebut “Operation Grapes of Wrath”.  Majelis Umum PBB menyatakan bahwa tindakan Israel ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional yang mengatur tentang perlindungan  warga sipil dalam peperangan (Konvensi Geneva ke IV tahun 1949 dan Protokol Tambahan ke I tahun 1977).
Buntutnya, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi no. 50 tanggal 25 April 1996 yang intinya membentuk satu tim investigasi untuk kasus Qana. Tim tersebut menyimpulkan bahwa penyerangan tersebut adalah suatu kesengajaan dan kecil kemungkinannya hanya suatu kecelakaan belaka.  Namun, ketika mantan Sekjen PBB Boutros Boutros Ghali akan menerbitkan laporan investigasi tersebut, serentak pihak Israel mengancam bahwa Ghali akan kehilangan jabatannya dan ia terpaksa harus menerbitkan laporan revisi. Israel tetap bersikap bahwa penyerangan tersebut adalah ‘kesalahan teknis dan kesalahan prosedur’ (ummahnews.com, April 2002).  
Arogansi dan lobby politik tingkat tinggi Negara Yahudi tersebut memang merupakan kendala yang menyebabkan kejahatan perang Israel sulit untuk dapat diseret ke mahkamah kejahatan perang.  Disamping itu, persoalan berikutnya yang tak kalah pelik adalah : mahkamah mana yang paling layak digunakan?
Menilik statuta masing-masing mahkamah, sudah cukup jelas bahwa Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) adalah yang paling sesuai. Pasalnya,  Mahkamah Internasional (International Court of Justice) tak memiliki cukup kewenangan.  Mahkamah Kriminal Internasional Ad Hoc seperti mahkamah Rwanda dan Yugoslavia juga tidak, karena ia bersifat sementara (ad hoc) dan hanya memiliki yurisdiksi sejauh di wilayah yang diatur dalam statutanya. 
Untuk membuat mahkamah ad hoc tersendiri (Sebutlah Mahkamah Kriminal Internasional untuk Israel) juga agak sulit.  Sebab, merujuk mahkamah Yugoslavia dan Rwanda,  kedua mahkamah tersebut dibentuk oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB atas tekanan dan ‘persetujuan” dari Negara-negara besar.  Di sisi lain, tidak mudah untuk mendesak Dewan Keamanan PBB yang para anggotanya belum memiliki kesamaan pensikapan (dan kesamaan kepentingan) terhadap konflik Israel –Palestina, untuk bersikap tegas kepada Israel.
Persoalan berikutnya,  mahkamah Rwanda dan Yugoslavia lahir sebelum Mahkamah Pidana Internasional (ICC) lahir melalui Statuta Roma pada tahun 1998.  Kini, setelah ada ICC, tentunya misi mengadili penjahat perang paling tepat dilakukan oleh ICC.  
 
Kelemahan Mahkamah Pidana Internasional
Kendati menjadi ‘harapan satu-satunya’ untuk  menyeret kejahatan perang Israel, tak urung Mahkamah Pidana Internasional (ICC) –pun memiliki sejumlah kelemahan.  Antara lain, pertama, Statuta Roma sebagai dasar pembentukan ICC tidak berlaku surut, artinya kejahatan perang sebelum Statuta ini lahir (1998) besar kemungkinan sulit untuk diadili.  Kedua, ICC hanya bisa dijalankan setelah Statuta dinyatakan berlaku (minimal 60 negara telah meratifikasi). Ketiga, meskipun bukan organ PBB, namun Dewan Keamanan berperan penting dalam operasional mahkamah ini. Keempat, otoritas hukum nasional didahulukan dan
dihargai. Jerry Fowler (2000) menyebutkan bahwa peran Dewan Keamanan PBB sangat besar dalam operasional mahkamah. Peran mana menimbulkan protes dari negara India yang menyebutkan bahwa pemberian peran kepada Dewan Keamanan dalam Statuta Roma adalah melanggar hukum internasional. Karena, di bawah Statuta Roma, Dewan Keamanan dapat mensponsori ataupun merujuk pada sebuah situasi yang melibatkan wilayah atau bangsa dari suatu negara yang menjadi pihak dalam piagam PBB (berdasarkan mandat pada bab VII piagam PBB)  juga untuk menunda penyelidikan dan penuntutan sampai setahun lamanya (pasal 16 Statuta Roma).
 Dewan keamanan merupakan sebuah badan politis yang seringkali dilumpuhkan oleh hak veto para anggota tetapnya. Dewan ini terdiri atas  15 anggota PBB, 5
anggota tetap (RRC, Inggris, AS, Rusia, dan Perancis) dan 10 anggota tidak tetap yang dipilih setiap dua tahun.  Hak veto para anggota tetap ini menurut De
Rover (2000) menimbulkan masalah penting dan ketidakjelasan dalam prosedur pemungutan suara. 
Dalam kasus Israel, misalnya,  Dewan Keamanan sangat memiliki otoritas untuk membentuk mahkamah kejahatan perang ad hoc, ataupun sekedar menjadi sponsor untuk pembentukan ICC bagi Israel. Namun, apakah hal tersebut sudah dilakukan Dewan Keamanan? Tidak jelas. 
Kelemahan mendasar  lainnya dari ICC adalah otoritas hukum nasional didahulukan dan dihargai.  Padahal, dalam kasus Israel, sudah sangat jelas bahwa berdasarkan apa yang terjadi selama ini, hukum Negara Israel cenderung malah melindungi para jagal dan penjahat perang tersebut dengan dalih yang dicari-cari. Bagaimana mungkin otoritas hukum nasional didahulukan dalam kondisi demikian?
 
 
Penutup
Keadilan haruslah ditegakkan.  Belajar dari Kabinet Belanda pimpinan Wim Kok yang membubarkan diri karena bertanggungjawab atas perilaku pasukan PBB asal Belanda yang membiarkan terjadinya pembantaian terhadap etnis Bosnia di depan mata mereka di Srebrenica (1995),  Israel sebagai negara yang mengaku ‘berdaulat’ dan telah melakukan langsung sejumlah kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, semestinya berada di garda terdepan dalam menindak para penjahat perangnya.  Apalagi Israel telah meratifikasi begitu banyak perjanjian internasional di bidang Hak Asasi Manusia (HAM).   
Karena sikap unable dan unwilling dari Israel),  tanggungjawab berikutnya tentunya terletak pada PBB, utamanya Dewan Keamanan, untuk mensponsori penyelidikan, penuntutan, dan mahkamah kejahatan perang untuk Israel. 
Dewan Keamanan memiliki cukup otoritas untuk membentuk mahkamah kejahatan perang ad hoc, ataupun –setelah lahirnya ICC-  untuk mensponsori mahkamah pidana internasional untuk Israel. Segala saksi dan alat bukti sudah tersedia, kendati untuk membuktikannya perlu perjuangan keras.  Yang belum ada, barangkali, adalah kemauan dari Dewan Keamanan.  
Tanggungjawab ketiga, tentunya dari masyarakat internasional, utamanya negara-negara berpenduduk muslim, untuk mendesak Dewan Keamanan agar bersikap fair sekaligus tegas dalam konflik Israel-Palestina. 
Apabila kesemua upaya tersebut sulit diwujudkan,  artinya bangsa Palestina dan masyarakat dunia memang tak perlu terlalu bergantung  dan berharap pada PBB.  Sehingga, jangan salahkan mereka kalau mereka memilih jalan perjuangannya sendiri. Dengan intifadhah, bom bunuh diri, peluncuran roket-roket, perjuangan bersenjata, dan sebagainya.
 
Wallahua’lam
 


 

BERWISATA MUSLIM KE SIEM REAP & PHNOM PENH

                                                     by Heru Susetyo 

 

Anda jenuh dengan Thailand? ingin merambah negeri lain yang berbatasan langsung dengan Thailand, yang tak terlalu jauh, visanya tak sulit, dan tetap mudah menemukan makanan halal dan masjid? Ada  empat alternatif. Bisa ke Malaysia, Myanmar, Laos, dan Cambodia.  Malaysia mungkin tak terlalu aneh, dari segi kultur dan bahasa tak terlalu jauh dengan Indonesia. Myanmar? Sangat cantik dan menarik namun ada resiko keamanan, mengingat negeri ini masih diperintah junta militer. Laos? Juga tak kalah cantik, bisa dirambah dari pintu Nong Khai, Chiang Sen dan lainnya. Tapi ini negeri sepi, enam juta saja penduduknya, hanya ada dua masjid di Vientiane.  Cambodia? Ini sangat patut diperhitungkan.  Dekat jaraknya, indah alamnya, banyak masjid dan komunitas muslim, dan suasana kesehariannya agak mirip dengan Indonesia.

 

Cambodia ataupun Kampuchea ataupun Khmer ataupun Kamboja, negeri yang punya banyak nama, namun sepakat dalam satu nasib : menderita.  Menderita akibat penjajahan Perancis, menderita akibat sengketa tak berkesudahan dengan Siam, menderita akibat kekejaman Khmer Merah (1975 – 1979), menderita akibat konflik sipil, yang semuanya berkontribusi kepada penderitaan masa kini : kemiskinan.

 

Begitupun Cambodia tetap indah dipandang dan perlu. Bahasa Sunda-nya adalah : worth visiting. Alamnya memang tidak sehijau Thailand.  Irigasinya tak sebagus Thailand. Kebersihannya masih di  bawah Thailand. Namun di negeri ini bermukim sekitar 560.000 muslim yang punya sejarah hebat sejak masa silam, lebih dari 10 abad silam, yang sampai kini jejak peninggalannya tetap dapat dinikmati. Maka, di luar tiga landmark Cambodia : Angkor Wat-Angkor Thom, Danau Tonle Sap, dan kota Phnom Penh, wisata muslim ke Cambodia bisa jadi pilihan menarik.

 

Paling tidak ada empat pintu masuk darat Cambodia dari Thailand.  Via Aranyaprathet/ Poipet, via Trat/ Koh Kong, via Pailin/ Phsa Prom, dan via O’Smach/ Anlong Veng. Namun bagi turis asing, sepatutnya masuk via Aranyaprathet ataupun Trat, karena dua pintu masuk yang terakhir tidak terlalu baik akses transportasinya.

Pintu Aranyaprathet digunakan untuk mereka yang ingin terlebih dahulu ke Siem Reap/ Angkor Wat, pintu Trat untuk mereka yang ingin ke Sihanouk Ville dan Phnom Penh sambil menikmati dahulu keindahan pantai Thailand di sekitar Rayong/ Trat.

 

Visa untuk ke Cambodia bisa diperoleh di konsulat Cambodia di Aranyaprathet.  Setelah ber-bus ria lima jam dari Mo Chit (Bangkok Northern Bus Terminal) bus akan mendarat di terminal Aranyaprathet. Dari sana banyak tuktuk yang ikhlas mengantar hingga ke border setelah terlebih dahulu singgah di Konsulat. Biaya tuktuk sekitar 80 baht.   Berlama-lama di Aranyaprathet juga tak salah.  Disana ada pasar besar yang menggelar barang-barang denga harga yang luar biasa murah.

 

Biaya visa Cambodia adalah 1000 baht. Denda 1000 baht apabila anda tak membawa serta foto. Sebenarnya tarif resmi (paling tidak menurut versi internet) adalah USD 20 (sekitar 700 THB). Namun korupsi memang ada dimana-mana. Kita tak mendapat receipt dari biaya visa ini. Pun aplikasi kita langsung jadi  dalam dua menit, petugas seperti tak membaca lagi, bahkan kitapun tak perlu membubuhkan tanda tangan.  Formalitas betul.

 

Border Cambodia di seberang Aranyaprathet adalah Poipet.  Namun sebelum tiba di imigrasi Cambodia, di antara kedua imigrasi ini ada casino besar dan mewah. Sangat mewah untuk ukuran Cambodia. Mengapa di antara kedua border?  Bisa jadi untuk menghindari hukum. Bisa jadi untuk menghindari pajak. Suatu trik usang.

 

Dari Poipet menuju Siem Reap dapat ditempuh dalam 2.5 – 3 jam dengan menggunakan taxi atau lebih lama lagi apabila menggunakan bus.  Mobil taxi-nya cukup keren, Toyota Camry.  Di Indonesia mobil jenis ini digunakan oleh Menteri dan pejabat eselon tinggi.  Sayang, Camry Poipet ini sangat tidak  dirawat.  Setirnya pun aneh, di kanan. Padahal mobil  di Cambodia berjalan di sisi kanan. Terbayang kan betapa sulitnya apabila akan menyalip. Inilah akibat terlalu tergantung dengan Thailand.  Mobil Thailand digunakan di Cambodia.  Jangan pula aneh apabila tiga orang duduk di depan. Bukan di kursi penumpang depan, tapi di kursi supir diduduki dua orang. Bisa pasangan sang supir, bisa broker-nya, atau sekedar menemani sang supir saja.

 

Sekitar lima km dari Poipet di sebelah kanan akan dijumpai sebuah masjid. Cukup besar untuk ukuran Cambodia. Dari masjid itu, menjorok tujuh kilometer selatan akan berjumpa dengan pondok Al Qur’an Darul Ulum.  Ada sekitar 200 KK muslim di sekitar pondok tersebut. Sebagian bisa berbahasa Melayu, sebagian tidak. Pengasuhnya, Ustadz Ibrahim Yusuf, pandai berbahasa Melayu Malaysia.

 

Tiba di Siem Reap, mencari guest house yang dekat masjid bisa dengan menyebut ‘Vihear Islam” ataupun “Vihear Cham”,  alias kuilnya orang Islam ataupun Muslim Champa.  Nama sebenarnya adalah masjid An Nikmah.  Satu-satunya masjid besar di Siem Reap, disamping empat surau kecil yang tersebar di propinsi ini.   Ada tiga ribuan muslim Champa (dahulu berasal  dari Vietnam kemudian terusir hingga ke Cambodia) di sekitar Siem Reap dari total 560.000 di seluruh Cambodia.  Muslim Champa memang mayoritas disana, kendati ada juga muslim keturunan Melayu (Malaysia-Indonesia) yang menikah dengan warga Cambodia (mereka menyebut dirinya Yuwi/ Jawi).

 

Sayangnya, masjid tak memiliki guest house.   Menurut cerita sang Imam, Ustadz Haji Musa, ia tengah mempersiapkan rumahnya untuk jadi guest house. Tapi tak juga masalah, banyak guest house murah di sekitar masjid. Dan masjid inipun tak terlalu jauh dari downtown Siem Reap, dari wilayah sekitar Psar Cha. Hanya 10 menit saja berjalan kaki.

 

Kendati tak ada guest house namun Masjid ini memiliki madrasah, pekuburan, dan juga restoran muslim.  Yang terakhir ini menarik karena tempatnya bersih dan menunya sedap.  Menu andalannya adalah Daging Lembu Naik Bukit . Ya itu memang nama aslinya, karena kokinya pandai berbahasa Melayu.  Ini adalah daging sapi (beef) yang dijerang dan dipanggang ala Yakiniku.  Sedap betul, kata orang Melayu.

 

Di luar muslim family restaurant milik masjid, di depan masjid ada sekitar tiga atau empat penjual makanan halal.  Semuanya adalah warga muslim yang tinggal di sekitar masjid. Sayangnya, tempatnya tak begitu bersih.  Di depan masjid bertengger beberapa sapi dan kerbau yang siap disembelih. Di sela-sela kedai halal terkadang menyelinap anjing dan kotoran binatang.

Mencari makanan halal di Siem Reap adalah petualangan sendiri.  Disamping di sekitar masjid, paling tidak ada dua restoran halal yang lebih “berkelas”.  Yang pertama adalah Malaysian Kitchen Restaurant yang terletak dekat Canal yang menuju Angkor Wat dan satu lagi adalah Sour Phon Villa yang terletak di 0275 National Road 6 Banteay Chas.  Yang terakhir ini adalah restoran halal sekaligus Guest House. Sangat mungkin pemiliknya adalah muslim.  Malaysian Kitchen Restaurant amat cocok bagi pelancong yang berlidah Melayu, karena menu seperti Nasi Lemak, Roti Canai, dan Teh Tarik dengan rasa kurang lebih sama dengan di Malaysia, tersedia disini.

 

Mengunjungi Cambodia apabila tak menjejakkan kaki di Phnom Penh amat kurang lengkap. Ibarat ke Padang tanpa makan rendang. Ibarat ke Bandung tanpa mampir warung batagor. Dari Siem Reap, ibukota Cambodia ini dapat ditempuh dalam lima – enam jam perjalanan.  Jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar 290 km, namun berhubung jalan raya penghubung keduanya (National Road No. 6) relatif sempit dan tak melulu mulus pula, maka perjalanan terasa panjang.  Berbeda memang dengan jirannya Thailand, dimana jalan antar propinsi biasanya amat mulus dan terdiri atas dua jalur.

 

Tiga moda tersedia untuk menuju Phnom Penh, pesawat terbang, jalan darat dan sungai. Sungai? Ya ini cukup menarik.  Sekitar 15 km di selatan Siem Reap ada danau bernama Tonle Sap. Danau besar tersebut adalah hulu sekaligus muara dari aliran sungai yang mengalir hingga ke Phnom Penh dan bertemu dengan sungai Mekong.  Ketika musim hujan,  curah air menggenangi danau dan permukiman di sekitarnya, sebaliknya di musim non hujan air agak menyurut sehingga pelancong yang hendak ber-boat ria harus menggunakan moda darat untuk menuju pelabuhan terakhir yang masih digenangi air, kemudian menggunakan boat kecil menuju bagian danau lain yang berair dalam, untuk kemudian menuju Phnom Penh.

 

Pemandangan sepanjang jalan lumayan menyejukkan mata.  Mirip pedesaan di Jawa. Banyak sawah, ladang, pemandangan petani mengolah padi  dan menumpuk jerami di pekarangan rumah.  Sayang, rata-rata sawahnya berwarna hijau kusam.  Seperti kekurangan air. Tak seperti di Thailand yang pada bulan yang sama sawah tetap menghijau.  Di sela-sela pematang sawah banyak berdiri pohon kelapa dalam formasi yang cukup teratur.  Teman saya Rottanak mengatakan bahwa sawah yang berselang seling dengan pohon kelapa ini adalah ciri khas Cambodia. So, jika masih melihat pemandangan tersebut berarti anda masih di Cambodia, dan juga sebaliknya.

 

Lagi-lagi, menurut teman saya Rottanak Theam, Phnom Penh adalah ibukota kedua Khmer.  Sebelumnya Siem Reap adalah kota utama kerajaan Khmer. Berabad-abad silam ibukota dipindahkan ke daerah pertemuan tiga sungai, Tonle Sap, Bassac, dan Mekong di tenggara Siem Reap, yang kemudian diberi nama Phnom Penh.  Nama Phnom Penh sendiri berasal dari nama bukit kecil yang kini menjadi salah satu icon Phnom Penh. Bukit yang kini terletak di sisi timur US embassy dan sisi barat dari gedung PLN Cambodia.  Di puncaknya, ada sebuah kuil (wat) dengan monumen menjulang ke atas.

 

Phnom Penh adalah juga rumah bagi ribuan muslim Cham. Salah satu ‘rumah’ terbesar bagi muslim Cham.  Walau belum menandingi Kompong Cham, propinsi yang terletak 120km timur laut Phnom Penh, yang dari namanya saja menandakan memang “kampungnya orang Cham”.

 

 Paling tidak ada dua masjid besar dan puluhan surau di Phnom Penh.  Surau adalah sebutan khas Melayu untuk menyebut masjid yang berukuran lebih kecil. Kebanyakan surau berada di seberang sungai (Tonle Sap dan Mekong). Bangsa Cham memang dikenal lekat dengan kehidupan sungai. Tidak di Cambodia tidak di Vietnam.  Bangsa Cham yang tinggal di Vietnam sampai kini banyak berhimpun di sisi delta sungai Mekong, mengarah ke Laut Cina Selatan.

 

Masjid terbesar di Phnom Penh bernama Masjid Jami.  Terletak di tengah lapangan luas bertanah lempung di daerah Baeng Kak (dibaca : “bengko”). Di belakang masjid adalah perkampungan masyarakat yang agak kumuh.  Masyarakat campuran. Sebagian muslim dan sebagian bukan. Di belakang perkampungan tersebut terhampar luas danau Baeng Kak.  Sehingga, apabila dipandang dari ketinggian, panorama masjid tersebut sungguh indah.  Masjid yang kubahnya mirip Al Aqsha ini, berwarna kuning keemasan, dan latar belakangnya danau luas dengan perkampungan kumuh sebagai sempadannya.  Panorama yang indah, minimal untuk ukuran muslim minoritas di Cambodia.  Tetap indah kendati warna coklat di  tembok-tembok masjid mulai banyak terkelupas dan halaman luasnya hanya tanah lempung yang dijamin becek ketika hujan.

 

Salah satu keuntungan menghampiri masjid adalah disekitarnya berhimpun pedagang makanan halal dan guest house muslim.  Paling tidak ada dua penyedia penganan halal di depan masjid.  Berdagang dalam kios sederhana dan menggunakan gerobak yang mudah di dorong. Bukti kehalalan mereka terdapat pada tulisan halal dalam bahasa Arab dan busana muslim yang dikenakan sang penjual.  Busana sederhana, penutup rambut khas muslimah Champa dan baju berlengan panjang.

 

Apabila menginginkan kedai yang lebih bersih, harga sedikit lebih tinggi, namun tetap halal, silakan mengunjungi Mekong Guest House.  Berjarak 50 meter saja dari pintu gerbang masjid di sisi kanan arah kedatangan. Tak sekedar makanan halal, tempat ini menyediakan penginapan dengan harga murah (dibawah USD 10/per malam) dan juga sekaligus travel agent. Menyediakan jasa transportasi di dalam dan keluar Cambodia. Relatif murah, melalui travel agent ini, biaya bus sekali jalan ke Bangkok hanyalah USD 17.

 

Dan bagi anda orang Indonesia , bersyukurlah.  Di kota bernuansa kolonial Perancis, berpenduduk mayoritas Buddhist, dengan 500-an saja orang Indonesia,  ternyata ada restoran Indonesia bernama Warung Bali.  Terletak di ruko dua tingkat, di lokasi sangat strategis. Sisi kanan dari National Museum, dan 200-an meter saja dari Mekong River di Street 178 No. 25Eo.  Pemiliknya adalah putra Karawang bernama Pirdaos (ataupun Firdaus) yang telah tinggal lima belas tahunan di Phnom Penh.  Dahulu ia adalah koki utama di Kedubes RI Phnom Penh sebelum memutuskan hijrah bekerja di Café Indonesia dan akhirnya membangun warung sendiri.  Maka, di tengah-tengah hiruk pikuk lalu lintas Phnom Penh yang tak beraturan, anda tetap bisa menyantap sop buntut, soto ayam, sayur asam, ataupun nasi goreng, Subhanallah.  Maha Suci Allah SWT yang telah memperjalankan umatnya ke segenap penjuru.

 


KOMUNITAS MUSLIM DI SIEM REAP CAMBODIA (II)

Kalau di Gaza pernah hidup tokoh legendaris Syekh Ahmad Yasin dan kini orang banyak mengenangnya ketika Gaza membara lagi akhir 2008 ini,  maka di Siem Reap isu Gaza tak begitu terdengar.  Namun disini-pun ada 'Yasin" yang lain, yaitu Surat Yasin yang dibacakan setelah usai shalat.  Berbeda memang dengan di Indonesia yang rata-rata Yasin dibacakan setiap malam Jum"at, di Masjid An Nikmah Siem Reap, jama"ah membaca surat Yasin secara berjama"ah seusai shalat subuh.  Paling tidak itu yang saya alami di subuh hari Ahad 4 Januari 2008.

Shalat subuh berjama'ah di Masjid An Nikmah berlangsung pada pukul 05.20.  Ketika itu dua shaf-an makmum mengikuti shalat.  Tak banyak memang, karena memang tak banyak pula jama"ah yang tinggal di sekitar masjid. Alasan kedua, barangkali, adalah karena udara dingin.  Maklumlah, Siem Reap di awal Januari tengah memasuki musim dingin.  Kendati suhunya masih di atas 10C namun cukup membuat badan mengigil juga.

Busana shalat jama'ah prianya nyaris sama dengan di Indonesia. Rata-rata menggunakan baju koko dan sarung. Sarungnya juga tak lain dan tak bukan : SARUNG SAMARINDA (ataupun merk lain yang rata-rata produksi Indonesia).

Usai shalat, jama"ah otomatis duduk bersila dan membentuk lingkaran. Sebuah truk masuk ke lingkaran.  Membawa senjata?  Tidak.  Truk mainan kecil tersebut memuat buku-buku kecil berisikan Surat Yasin yang ternyata terbitan Malaysia, dan karenanya menggunakan bahasa Melayu. Mengertikah mereka bahasa Melayu? sebagian mengerti karena pernah belajar atau bekerja di Malaysia, sebagian lagi tidak.

Truk didorong kesana kemari, mengantarkan Surat Yasin bagi jama"ah yang belum memperolehnya. Seorang ustadz kemudian memimpin pembacaan tersebut yang ternyata usai tak lebih dari 15 menit.  Tampak betul mereka telah terbiasa dan bahkan hafal dengan bacaan surat tersebut.

Usai yasinan, jama'ah kemudian berdiri, masih dalam lingkaran, kemudian shalawatan dan saling bersalaman. Sangat mirip dengan tradisi muslim Indonesia. "Memang muslim Cham dari sisi ubudiyahnya amat mirip Nahdlatul Ulama," ujar Ustadz Haji Musa, Mufti wilayah Siem Reap dalam bahasa Melayu Malaysia yang amat fasih.

Mendapati ada seorang "asing" dalam jama"ah shalat subuh, seorang sesepuh menawarkan minum teh di beranda masjid, di pagi hari yang dingin itu.  Namanya Umar.  Beliau sudah berumur namun sangat ramah. Dan juga sangat pandai berbahasa Melayu. "Saya bukan orang Cham (Muslim Champa), saya orang Yuwi ataupun Jawi.  Campuran orang Melayu Malaysia ataupun Indonesia yang menikah dengan orang Khmer/ Cambodia berabad-abad silam..."    Saya bersyukur dalam hati,  alhamdulillah akhirnya terjawab juga salah satu pertanyaan saya, tentang mengapa tradisi beribadah muslim Cambodia nyaris sama dengan di Indonesia dan Malaysia.

Pagi di masjid An Nikmah sama dengan semua pagi di Siem Reap.  Bedanya, di muka masjid mudah ditemukan anak-anak berlarian di muka madrasah, ibu-ibu menggelar dagangan makanan halal, dan sapi serta kerbau bertebaran di sisi timur masjid, siap untuk disembelih. Ya, mereka menyembelih sendiri binatang ternaknya demi menjaga kehalalan daging yang akan dijualbelikan.   Paling tidak ada sekitar empat warung yang menjual penganan halal. Hampir semua dijaga kaum ibu. Sebagian bisa berbahasa Melayu sebagian tidak.  Rata-rata mereka menutup rambutnya, kendati tak dapat disebut menggunakan jilbab juga.

"Mau makan apa, ada nasi ayam", ujar seorang Ibu penjaga kedai yang dapat berbahasa Melayu. Tempatnya memang tak begitu bersih. Sesekali ada kotoran binatang di terlihat di sekitar kedai. Namun, karena kehalalan adalah prioritas utama maka ketidakbersihan-pun akhirnya "dapat ditolerir."  Harganya juga lumayan murah. Nasi dengan ayam tak lebih dari US $ 1 alias 34 Thai Bath alias 4100 Riel (ya di Cambodia USD digunakan secara luas sebagai alat pembayaran disamping mata uang Riel). 

Kehidupan muslim di sekitar masjid, kendati tidak sangat miskin, namun juga tidak dapat dibilang berkecukupan. Sebagian bekerja sebagai pedagang atau membuka kedai, yang pria sebagai penarik tuktuk atau pemandu wisata amatiran, dan usaha kecil-kecilan lainnya.

Mencari rezeki yang halal dan thoyyib memang menjadi tantangan di Cambodia. Tak hanya bagi penduduk muslim namun juga untuk segenap penduduk. Negeri ini negeri miskin.  Plus menderita. Belum sembuh luka Cambodia akibat penjajahan Perancis nyaris satu abad yang dilanjutkan kekejaman Khmer Merah (1975 - 1979) dan konflik sipil yang terus berlangsung hingga kini.

Di tengah kesulitan mencari nafkah tersebut, muslim Siem Reap mesti bertahan untuk tetap dalam jalur keimanan.  Mudah sebenarnya mencari uang apabila mereka bersedia menjadi broker penyedia "bem bem" (istilah supir tuktuk untuk menyebut "wanita panggilan"), karena memang tak sedikit turis yang datang untuk mencari "bem-bem", lebih daripada daya tarik Angkor Wat dan Angkor Thom. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


KOMUNITAS MUSLIM DI SIEM REAP CAMBODIA

Di negeri mantan komunis yang lekat dengan citra sadis Khmer Merah dengan Pol Pot-nya (dalam empat tahun kekuasaannya pada tahun 1975 - 1979 empat juta jiwa tewas karena kebiadabannya),  azan dari masjid jelas adalah suatu hal yang mahal. 

Tapi itulah yang saya dengar ketika menginap di guest house murah Garden Village, Siem Reap. Suara azan sayup-sayup merobek telinga.  Pertama saya pikir something must be wrong with my ears. Namun, alhamdulillah ternyata benar. Telinga saya masih sehat. Benar azan tersebut mengalun dari bangunan masjid yang ternyata hanya berjarak 200 meter dari guest house.

Namanya Masjid Ni"matul Iman. Sesuai dengan namanya, masjid ini bak memberikan kenikmatan bagi orang-orang yang mendamba keimanan di kota Siem Reap. Bak oase sejuk di tengah terik padang pasir.  Kenikmatan yang takkan terpenuhi dengan hanya mengunjungi Angkor Wat dan Danau Tonle Sap, dua icon utama yang memaksa turis datang membanjiri Siem Reap, propinsi cantik yang terletak tiga jam perjalanan dari Thailand (melalui pintu Aranyaprathet/ Poipet) dan lima jam perjalanan dari Phnom Penh, ibukota Cambodia. 

Terletak di tengah-tengah perkampungan Muslim Cham (Champa), tiga ratus meter saja dari downtown Siem Reap (Psar Cha), sebenarnya letak masjid ini amat strategis. Sayang, tak banyak yang mengetahuinya. Wajar saja, denyut nadi muslim tak terasa di kota ini. Hanya ada tiga ribuan saja muslim Champa di kota ini (dari sekitar 500 ribuan di seluruh Cambodia).  Namun, begitupun alhamdulillah. Karena, tak hanya masjid, di sekitarnya ada pula restoran muslim dengan nama muslim family restaurant (dengan menu dahsyat andalannya : Daging Lembu Naik Bukit), sebuah sekolah muslim dan juga pekuburan muslim.  Maka, disamping azan dan masjid, restoran muslim dengan makanan halalnya adalah juga bak rembulan di tengah kegelapan. 

Yang menarik lagi, khususnya bagi pelancong asal Malaysia dan Indonesia, alih-alih mendapatkan sapaan 'susdei"ataupun "sawasdee", sapaan akrab yang pertama saya dapatkan dari imam masjid ini adalah :  äpa kabar, darimana "?  Lho kok?  tak salah lagi. Sang imam, yang masih seusia saya, bernama Haji Musa, ternyata adalah lulusan dari Malaysia. Dan bukan hanya Imam, begitu banyak muslim Champa yang berhijrah (karena kebengisan Khmer Rouge) ataupun bersekolah di Malaysia sejak berpuluh-puluh tahun silam.  

Ikatan bangsa Cham dengan Malaysia memang amat kuat. Sudah menyejarah malah. Bahkan sebelum era Khmer Rouge. Berabad silam, yang dianggap membawa Islam hingga ke Cham adalah bangsa Melayu (versi lain adalah pedagang Arab). Di Siem Reap juga ada satu restoran Malaysia dengan nama Dáuw yang amat mengandalkan Malaysian Kitchen.  Menu andalannya nyaris sama dengan rata-rata makanan Malaysia : Nasi Lemak, Roti Canai, Teh Tarik, Nasi Goreng, dan lain-lain.  Harganya memang sedikit mahal, namun kehalalannya memaksa urusan kantong harus dinomorduakan.  Tak cukup itu,  sudah beberapa waktu ini ada flight langsung Air Asia dari KL ke SIem Reap dan Phnom Penh dari Kuala Lumpur (sumpah saya bukan marketing Air Asia, he he he).

Maka, tak heran pula, bahasa Melayu adalah bahasa populer kedua bagi Muslim Cham selain bahasa Khmer. Di pondok mereka, bahasa  Melayu dipelajari karena kebanyakan buku-buku Islam mereka berasal dari Malaysia.

Menurut Ustadz Haji Musa (ini memang nama aslinya, ia tak punya nama lain), hanya ada satu masjid dan tiga surau di Siem Reap.  Ia sangat berkompeten bicara masalah Islam karena memang menjabat sebagai mufti untuk propinsi Siem Reap. Jabatan yang luar biasa untuk orang semuda dia.  Kantong pemukiman utama Muslim Cham ternyata memang tak di Siem Reap, melainkan di Kompong Cham (120 km dari Phnom Penh ke arah timur laut), Kompong Chnang, Phnom Penh dan juga Poipet.

Yang terakhir ini, Poipet, cukup menarik. Karena di daerah yang berbatasan langsung dengan Aranyaprathet - Thailand ini ada sebuah pondok Al Qurán dengan nama Darul Ulum dengan begitu banyak santri.  Pondok ini terletak 7 km dari jalan utama yang menghubungkan Poipet dengan Sisophon - Siem Reap. Di jalan utama tersebut berdiri pula sebuah masjid yang dikitari oleh perkampungan 200 KK muslim. Menurut Ibrahim Yusuf, mudir ataupun pengasuh dari pondok tersebut, banyak juga pengajar dan santri di pondok tersebut yang lancar berbahasa Melayu. 

(bersambung)

 

 

 


Blog EntryJan 1, '09 10:00 AM
for everyone

Sawasdee Pee Mai (Selamat Tahun Baru) ataupun Suksan Wan Pee Mai (Selamat Hari Baru) adalah ucapan khas warga Thai menyambut Tahun Baru.  Apakah mereka merayakan tahun baru?  ya.  Bisa dibilang tahun baru adalah satu hari penting dalam titian hidup orang Thai disamping hari-hari agung terkait Buddhisme dan Kerajaan Thailand (ulang tahun Raja, Ulang Tahun Ratu, hari naik tahta raja, dll).

Cobalah tengok tahun baru kemarin.  Persis pada malam 31 Desember 2008 saya menuruni Thailand dari Chiang Rai di ujung utara menuju Bangkok dengan menggunakan bus malam. Apa yang saya lihat?  luar biasa. Jalanan macet, pom bensin dan tempat peristirahatan di highway yang menuju Thailand Utara penuh dengan kendaraan.  Di Mo Chit, Northern Bus Terminal di Bangkok, pada pukul 6 pagi saja antrian panjang orang sudah mengular memadati terminal.

Di banyak rumah, termasuk yang saya inapi di Khun Tan  50 km dari kota Chiang Rai, digelar pesta semalam suntuk.  Rumah dihiasi dengan pernak-pernik dan umbul-umbul.  Ada yang berhuruf Thai ada juga berlafaz Happy New Year.  Karaoke digelar. Bir Singha dan Chang tak lupa menjadi menu tak resmi. Anak pulang ke rumah orang tuanya. Perantau pulang ke kampung halamannya. Banyak toko di Bangkok tutup karena orang Thai tak rela bekerja di hari libur. Tak sekedar sehari ternyata, libur tahun baru ini bisa berlangsung selama tujuh hari.  Cuti bersama secara tak resmi.

Bedanya dengan tahun baru di negeri lain,  penanggalan Thai menggunakan tahun sendiri yang terkait dengan lahirnya Buddha, maka tahun baru ini bukannya tahun baru 2009 tapi 2552 (diperhitungkan sejak kelahiran Buddha).  Hampir mirip dengan Jepang,  penanggalan disana memperhitungkan usia kekaisaran,  tak berjudul 2009 tapi Heisei 21.

Maka, sawasdee Pee Mai Ajarn Somboon!  Ajarn Somboon? ya. Sejak sebulan silam saya diberi nama Thai oleh Pasit, kawan baik saya orang Chiang Rai.  Ajarn berarti guru atau dosen ataupun Professor.  Somboon?  bisa berarti sempurna, atau terpenuhi, atau bisa juga bermakna orang yang gembul, he he he

 

 


Pages:1234