WRITING, REPORTING, STORY TELLING

Berikut tulisan saya yang alhamdulillah dimuat di Majalah Tarbawi Edisi Mei 2008

 

 

BANGSAMORO DI MINDANAO :

ROH ISLAM MELAYU DI JASAD PINAY

 

Oleh : Heru Susetyo[1]

 

 

Hampir semua orang Indonesia yang pernah ke Philippina,utamanya ke Mindanao, Philippina Selatan,  hampir pasti akan disangka sebagai orang Philippina. Lalu akan diajak berbicara dalam bahasa setempat, apakah Tagalog (Philippino) ataupun Visayan. Sama halnya dengan orang Philippina yang ke Indonesia. Kendati bertahan mati-matian mengaku sebagai orang Philippina, tetap saja orang Indonesia tak akan percaya. “You are a hundred percent Filipino,” ujar Ruby, rekan Filipino penulis di Davao, Mindanao. “You look like Pinoy !” ujar Melissa, rekan Filipino lain yang tinggal di Manila.

 

Memang, penduduk Philippina Selatan, seperti halnya warga Thailand Selatan, sebagian Malaysia dan Singapura, Brunei Darussalam, serta  sebagian penduduk Indonesia,  berasal dari rumpun antropologi yang sama yaitu Austronesian/ Malayo Polynesian. Maka, tak heran memiliki kesamaan ciri-ciri fisik dan bahasa (etnolinguistik) yang hampir sama. Dalam bahasa Tagalog (Filipino) yang kini menjadi bahasa nasional Philippina, terdapat kurang lebih 5000 kata-kata yang hampir sama dengan bahasa Melayu (Indonesia) walau kadang artinya berbeda, seperti : pintu, kanan, murah, mahal, gunting, anak, balai, aku (ako), kita, dan hitungan angka (1 sampai 10 yang amat mirip dengan bahasa Indonesia, Jawa, dan Sunda sekaligus).

 

Kesamaan ini semakin kental ketika kebetulan mereka sama-sama beragama Islam.  Ketika muslim Melayu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei dan Philippina berkumpul bersama-sama, katakanlah ketika ibadah haji di tanah suci, maka tak ada yang dapat memastikan asal kewarganegaraan mereka. Selain, ketika mereka mulai berbicara tentunya.

 

Batas negara memang tidak sama dengan batas kultural. Muslim nusantara boleh berbeda kewarganegaraan, namun secara budaya nyaris sama. Di pusat souvenir Aldevinco, Davao City misalnya, mudah dijumpai muslimah Mindanao yang berjualan disana. Di antara barang-barang yang dijual adalah sarung Samarinda dan batik asli Solo dan Pekalongan. “Saya sering pergi ke Tanah Abang di Jakarta dan juga ke Bangkok untuk berbelanja barang-barang kebutuhan muslim,” ujar Aminah, salah seorang pedagang di Aldevinco.

 

Sayangnya, eksistensi dan status muslim nusantara tersebut tidaklah sama. Muslim menjadi mayoritas di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Namun menjadi minoritas di Thailand, Singapura, dan Philippina. Memang, menjadi mayoritas tidak menjamin hidup lebih baik, namun terlebih lagi ketika menjadi minoritas. Demikianlah yang terjadi dengan minoritas muslim Moro di Mindanao Philippine.

Apa dan Siapa Bangsamoro

Salah Jubair dalam bukunya Bangsamoro : A Nation Under Endless Tyranny (1999) menyebutkan bahwa istilah Moro atau Bangsamoro (“bangsa” disini memiliki arti yang sama dengan “bangsa” dalam bahasa Indonesia) adalah istilah yang berasal dari penjajah Spanyol (Spaniards). Sama halnya dengan sebutan etnis lain di Philippina seperti ‘Indio” dan “Filipino”.  Kata “Moro” sendiri diadopsi dari bangsa Mauri atau Mauritania di Afrika yang kemudian juga dikenakan kepada bangsa Berbers di Afrika Utara dan juga kepada kaum muslimin yang datang dan menaklukkan Spanyol berabad-abad silam.  Maka, istilah Moro akhirnya tidak merujuk kepada kelompok etnis, ras, waktu dan geografis tertentu, namun lebih merujuk kepada kelompok orang yang berafiliasi kepada agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.

 

Muslim di Philippina terdiri atas 13 kelompok etnolinguistik, masing-masing  Iranun, Magindanaon, Maranao, Tao-Sug, Sama, Yakan, Jama Mapun, Ka'agan, Kalibugan, Sangil, Molbog, Palawani and Badjao.  Ada pula muslim di kalangan penduduk pribumi (indigenous people) Mindanao seperti Teduray, Manobo, Bla-an, Higaonon, Subanen, T'boli, dan lain-lain.  Selain itu penduduk Muslim juga dapat diketemukan di Luzon maupun Visayas  kendati tidakdalam jumlah yang signifikan. Muslim yang mendiami Mindanao, pulau Basilan, Palawan, Sulu dan kepulauan Tawi-Tawi kemudian disebut sebagai Bangsamoro (Lingga, 2004). Data tahun 2005 menyebutkan total muslim di Philippina berjumlah 5% (4.5 juta jiwa) dari total penduduk Philippina.

 

 

Peran Pendakwah Minangkabau, Makassar dan Ternate

Indonesia, tepatnya warga Minangkabau, Makassar dan Ternate patut berbangga. Penyebaran Islam di Mindanao tak lepas dari peran pendakwah Minangkabau masa silam. Salah Jubair (1999) menyebutkan sejarah keislaman Bangsamoro berakar sejak tahun 1310 M dengan ditemukannya nisan seorang pemimpin dan pendakwah Islam generasi awal di Mindanao. 

 

Penyebaran Islam di Sulu dan Mindanao diyakini berasal dari para pedagang, guru-guru dan sufi keturunan Arab yang berlayar hingga ke Sulu dan Mindanao (hampir sama dengan model penyebaran Islam di Indonesia). Mereka kemudian mengislamkan dan menikahi penduduk setempat. Masjid pertama di Philippines tercatat berada di Tubig-Indangan di Pulau Simunul. Didirikan oleh Makhdum Karim alias Sharif Awliya, keturunan Arab, sekitar tahun 1380. Berikutnya para musafir keturunan Arab secara berturut-turut membangun kesultanan Sulu pada 1390, dan kesultanan Maguindanao dan Buayan pada akhir abad ke 15

 

Abhoud Syed M. Lingga (2004) menyebutkan bahwa Sultan pertama Sulu (Paduka Mahasari Maulana al-Sultan Sharif ul-Hashim) yang memerintah tahun 1450 – 1480 adalah berasal dari Sumatra. Sultan ini menikah dengan putri Rajah Baguinda yang berasal dari Minangkabau (‘Menangkabaw’ dalam istilah di Mindanao). Di Mindanao, Sharif Muhammad Kabungsuwan, pendiri kesultanan Maguindanao tiba di Mindanao pada 1515.  Ayahnya berasal dari Arab dan ibunya adalah keluarga kesultanan Johor (kini bagian dari Malaysia).  Sementara itu, Sultan Sulu ke -7 adalah memiliki darah Brunei (kini Brunei Darussalam).

 

Kesultanan Makassar dan Ternate masa silam turut memainkan peranan penting di Mindanao. Ketika Gubernur Spanyol Corcuera menyerbu Sulu pada 1638, Rajah Bongsu, Sultan Sulu, mendapat bantuan dari para prajurit Makassar. Sementara itu, kesultanan Ternate kerap membantu Sultan Buisan di Maguindanao dalam perangnya melawan kolonial Spanyol (Lingga, 2004).

 

Sampai kini masih cukup banyak keturunan Indonesia yang tinggal di Mindanao. Namun kini lebih banyak berasal dari Sulawesi Utara, utamanya kepulauan Sangir Talaud dan Miangas (Pulau Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang berjarak sangat dekat dengan Mindanao dan sebaliknya amat jauh dari Manado).  “Saat ini ada sekitar 8000 orang Indonesia yang masih berkewarganegaraan Indonesia di Mindanao. Belum lagi mereka yang tak terdaftar dan mereka yang telah berkewarganegaraan Philippina,” ujar Bernard Loesi, konsul Indonesia di Konsulat Jenderal RI di Davao City.

 

Tak puas menyebarkan Islam di Mindanao, pergerakan Islam kemudian melaju ke utara, merambah area Visayan, yaitu Cebu, Mactan, kemudian Palawan, hingga Luzon, pulau dimana metropolitan Manila berada.  Salah Jubair (1999) mensinyalir bahwa Metropolitan Manila pada abad ke 16 adalah di bawah kekuasaan raja muslim yaitu Rajah Sulaiman Mahmud. Sama halnya dengan daerah Tondo, Cebu dan Mactan di Visayan.

 

Datangnya penjajah Spanyol (Spaniards) pada tahun 1521 kemudian mengubah semuanya. Ekspansi dakwah Islam dari Selatan (Mindanao dan Sulu) terhambat dan pertempuran terjadi di banyak tempat selama tiga abad lebih kekuasaan kolonial Spanyol. Perang dengan Spanyol baru mereda pada tahun 1898, yaitu saat beralihnya kekuasaan negeri Philippines dari Spanyol ke Amerika Serikat melalui perjanjian Paris 10 December 1898.

 

 

Identitas Filipino dan Bangsamoro

Selain mengenakan istilah “Moro” untuk menyebut kelompok muslim di Mindanao, penjajah Spanyol juga menciptakan istilah Philippines. Pada pertengahan abad ke -16 rombongan ekspedisi Spanyol mendarat di Sarangani Mindanao Selatan dan mencoba untuk membangun pemukiman baru. Namun di daerah baru tersebut mereka berbenturan dengan kemiskinan Bangsamoro sehingga rombongan berbalik pulang. Dalam perjalanan pulang ketika melewati gugus kepulauan Samar-Leyte, Bernardo de la Torre, salah seorang kru kapal, memberikan nama kepulauan tersebut sebagai Filipinas, ntuk menghormati Philip, putra mahkota kerajaan Spanyol ketika itu (di kemudian hari menjadi Raja Philip II).  Ketika Amerika Serikat menjajah Filipinas, nama tersebut kemudian di-Inggris-kan menjadi Philippines, sampai saat ini.

 

Apabila Philippines adalah nama negara, maka Filipino adalah sebutan untuk Spaniards yang lahir di Philippines. Namun sejak tahun 1898 istilah Filipino dikenakan juga untuk warga pribumi demi menggalang dukungan warga pribumi dalam melawan Amerika Serikat.  Belakangan, istilah Filipino ini kemudian mendapatkan ‘nickname’ baru yaitu Pinoy (untuk kaum Pria Filipino) dan Pinay (untuk kaum wanita Filipino)

 

Warga pribumi Philippines non Moro sebelum 1898 disebut sebagai Indios. Makna “Indios” adalah ‘native” ataupun “pribumi”. Istilah diskriminatif ala Spaniards kepada penduduk asli Philippina yang bermakna ras yang lebih rendah, primitif dan intelejensia terbatas. Sebenarnya, Indios secara antropologis adalah juga termasuk ras Indo-Malayan sama seperti Bangsamoro. Hanya saja mereka tidak memeluk Islam maka lebih kental dengan sebutan Indios.  

 

Sama halnya dengan etnis Dayak yang memeluk Islam di Kalimantan. Ketika memeluk Islam mereka disebut sebagai Melayu, kendati sebenarnya asal usul etnis tidak berubah. Tetap saja etnis Dayak. Karena ada asumsi bahwa etnis Dayak adalah penganut kepercayaan animism/dinamism ataupun kepercayaan lain di luar Islam.

 

Sebaliknya, Bangsamoro tetaplah Bangsamoro hingga kini.  Roh Islam Melayu jauh lebih dominan daripada Indios apalagi Spaniards.  Secara ras, Bangsamoro adalah ras Indo-Malayan.  Ciri-ciri fisiknya amat serupa dengan Indo Malayan lain yang kini bermukim di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand Selatan.

 

Aksara yang digunakan di Mindanao dan Sulu sebelum datangnya pengaruh kolonial Spanyol adalah dalam huruf Yawi (Arab Melayu). Buku-buku agama ketika itu adalah dalam huruf Yawi, sama halnya dengan tradisi penulisan di Thailand Selatan (Patani) dan juga di kesultanan-kesultanan Islam di Indonesia masa silam. 

 

Secara etnolinguistik, semua dialek pribumi Moro, dan juga Luzon serta Visayas, adalah berhubungan dan memiliki akar yang sama dengan bahasa di rumpun Austronesian/ Malayo Polynesian. Tak heran, kita mudah menemukan banyak kata-kata yang sama antara bahasa Bangsamoro dengan bahasa Indonesia, Melayu-Sumatra, bahkan bahasa Jawa, ataupun Sunda.  Kata-kata seperti Tuhan, Raja, bichara, orangkaya, sultan, memiliki makna yang hampir sama dengan kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia.

 

Secara afialiasi keagamaan, hampir seratus persen penduduk Bangsamoro adalah beragama Islam. Dengan model keislaman yang kurang lebih sama dengan penduduk Asia Tenggara yang lain.

 

 

Problem Bangsamoro

Problem utama Bangsamoro kini adalah  hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination).  Selanjutnya adalah kemiskinan, ketertinggalan pembangunan, rendahnya  pendidikan, minimnya pekerjaan, diskriminasi, dan juga stigma sebagai teroris.

 

Tidak salah kalau dikatakan bahwa Bangsamoro selalu berada dalam tirani dan penjajahan. Lepas dari penjajahan Spanyol selama lebih dari tiga abad (1521 – 1898), Bangsamoro berada dalam kekuasaan Amerika Serikat hampir selama lima dekade (1898 -1942). Berikutnya Jepang menguasai mereka selama tiga tahun sampai akhirnya berada dalam kekuasaan Republic of Philippines per 4 Juli 1946.  

 

Perjuangan menuju kemerdekaan masih berlangsung hingga kini.  Berturut-turut lahir Moro National Liberation Front (MNLF) pada akhir tahun 1960-an pimpinan Nur Misuari dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hasyim (wafat pada 2003) pada tahun 1981. Lahirnya MILF adalah respon dari ketidakpuasan terhadap MNLF yang dianggap kurang tegas dalam memperjuangkan hak-hak Bangsamoro dan terlalu akomodatif dengan pemerintah Philippina.  Belakangan, pada awal 1990-an, lahir Abu Sayyaf Group (ASG) yang dipimpin Abdulrajak Janjalani.  Namun yang terakhir ini lebih cocok disebut sebagai organisasi ‘teroris’(ASG digolongkan sebagai foreign terrorist organization oleh pemerintah AS), karena disinyalir kerap menebar teror di Philippina. Juga, baik MNLF maupun MILF menolak memiliki keterkaitan dengan aktivitas Abu Sayyaf Group.  Keberadaan segelintir pihak yang menempuh jalan radikal ini pada akhirnya amat merugikan Bangsamoro. Terjadi generalisasi dan stigmatisasi bahwa Bangsamoro identik dengan teroris.

 

Negosiasi Bangsamoro dan pemerintah Philippina untuk merumuskan wujud hak menentukan nasib sendiri ini berlangsung berpuluh tahun. Libya, Indonesia dan Malaysia adalah di antara negara-negara OKI (organisasi konferensi Islam) yang rajin memfasilitasi perundingan ini.  Pencapaian terakhir Bangsamoro dalam ikhtiar menuju kemerdekaan ini adalah dicapainya status otonomi khusus dengan nama ARMM (Autonomous Region of Muslim Mindanao) pada 1 Agustus 1989, buah perjanjian antara pemerintah Philippina dan MNLF.  Saat ini ARMM terdiri atas enam propinsi yaitu tiga di daratan Mindanao (Maguindanao, Lanao del Sur, Shariff Kabunsuan) dan tiga di kepulauan Sulu (Sulu, Basilan, dan Tawi-Tawi). Jumlah penduduk di enam propinsi mayoritas muslim tersebut mencapai hampir tiga juta jiwa.

 

Disamping ARMM, bentuk akomodasi lain terhadap Bangsamoro oleh pemerintah Philippina adalah pemberlakuan Code of Muslim Personal Laws of the Philippines pada tahun 1977 yang mengatur urusan hukum keluarga (perkawinan, perceraian, kewarisan) masyarakat muslim Philippine. Selanjutnya, beberapa mahkamah syari’ah dibentuk dan hakim-hakim syari’ah ditunjuk . Di bidang ekonomi Islam, Philippine Amanah Bank, yang beroperasi di kalangan muslim, dibentuk pada tahun 1974 oleh mantan Presiden Ferdinand Marcos.   

 

Masalah krusial Bangsamoro berikutnya adalah kemiskinan. Kemiskinan di ARMM adalah yang paling buruk di Philippina. Pendapatan per kapitanya hanya PhP 3.433 pada tahun 2005 (Phillipines Pesos). Pada saat yang sama-sama, rata-rata pendapatan per kapita di 16 region yang lain adalah PhP 14.186. Bahkan region termiskin kedua di Philippine, pendapatan per kapitanya masih dua kali lebih baik daripada ARMM.

 

Kesulitan dalam memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak adalah cerita yang  yang lain. “Penduduk muslim sukar mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintah maupun di pertanian umum, hanya karena mereka muslim,” tutur Evelyn, muslimah Moro yang tinggal di Mandug Barangay, Davao City.

 

Sejatinya, tak ada kebijakan pemerintah Philippina yang secara terang-terangan mendiskriminasikan penduduk muslim. Namun berhubung mayoritas penduduk Philippina adalah Kristen (Katholik dan Protestan), maka banyak kebijakan yang memang dirumuskan sesuai dengan kehendak mayoritas dan akhirnya merugikan minoritas. Sebagai contoh, kebijakan memindahkan penduduk Filipino non muslim ke Mindanao atas nama pembangunan akhirnya cenderung meminggirkan kaum minoritas di Mindanao, yaitu Bangsamoro.

 

 

Menegosiasikan Masa Depan

Bangsamoro kini hidup di tengah ketidaksinkronan. Ruh-nya adalah Islam Melayu sementara jasadnya adalah Pinoy (Philippines). Hampir sama dengan minoritas muslim Thailand Selatan yang hidup di tengah negeri Buddhist.  Muhammad al Hasan (1978)  menyikapi situasi ini sebagai berikut : “Kami, Moros dan Filipinos adalah dua kelompok manusia yang berbeda, yang memiliki ideologi, budaya, dan sejarah yang berbeda. Kami juga memiliki konsep kedaulatan yang berbeda. Menurut Filipinos, kedaulatan berada di tangan rakyat Filipino, sedangkan kami sepenuhnya percaya bahwa kedaulatan adalah milik Allah SWT.”  Selanjutnya, Muhamad al Hasan mengatakan : “Budaya kami sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, ajaran, dan prinsip-prinsip Islam, yang sangat bertentangan secara diametral dengan kebudayaan Filipino yang sangat terpengaruh budaya kaum kolonial.”

 

Maka, perjuangan Bangsamoro ke depan  adalah perjuangan bernegosiasi. Menegosiasikan masa depannya sebagai minoritas. Menegosiasikan hak-haknya untuk menentukan nasib sendiri di tengah  mayoritas Pinoy yang bersamaan ras, bahasa, dan warna kulit-nya namun berbeda agama, kultur, maupun ideologi.  Perjuangan yang tidak mudah, karena kemiskinan, pengangguran, rendahnya pendidikan, dan stigma sebagai teroris senantiasa melekati mereka.



[1] Kontributor Tarbawi, bermukim sementara di Nakorn Pathom Thailand untuk menyelesaikan studi PhD bidang human rights and peace studies di Mahidol University.  Tulisan ini adalah oleh-oleh dari dua kali kunjungan ke Mindanao, Philippines pada November 2007 dan Maret 2008.

 


Blog EntryKisah Cobra di LP Anak Pria TangerangApr 19, '08 12:58 PM
for everyone
 

KISAH COBRA DI LP ANAK PRIA TANGERANG

 

LP Anak Tangerang 22 Mei 2007

Namanya Cobra.  Bukan nama asli memang.  Nama aslinya adalah Dhani Ahmad. Cobra adalah nama julukan teman-temannya, sesama napi anak di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak Pria di Tangerang.

 

Tapi jangan bayangkan ia ganas ataupun berwibawa laksana ular Cobra ataupun gesit dan cepat seperti motor Yamaha RX King Cobra.  Cobra yang satu ini justru amat mengundang iba. 

 

Cobra adalah napi anak (istilah yang lebih manusiawi adalah ‘andipas’- Anak Didik Pemasyarakatan) yang memiliki cacat berlipat.  Sejak lahir ia memiliki keterbelakangan mental.  Belakangan, didapati pula ia sulit berbicara.  Apalagi ia nyaris tidak memiliki gigi di bagian depan.  Belum lama berselang iapun tertimpa penyakit katarak permanen, yang membuat kedua matanya nyaris tak bisa melihat lagi.  “Kami menyebutnya multiple handicap,” ujar F. Haru Tamtomo, kepala Lapas Anak Pria Tangerang.

 

Derita Cobra yang berujung di LP Anak Pria Tangerang tak lahir dengan sendirinya.  Cobra dilahirkan di Poso, Sulawesi Tengah.  Ketika konflik berlatar etnis dan agama merobek Poso kedua orangtuanya tewas terbunuh.  Jadilah ia hidup sebatang kara.  Gencarnya arus pengungsian mengantar Cobra hingga ke Balikpapan.  Di tanah yang baru dijamahnya ini ia mesti berjuang sendirian.  Tak ada orang tua, tak ada sanak keluarga. Dan hidup semakin tidak mudah bagi Cobra karena iapun memiliki cacat ganda.  Jadilah Cobra mencuri kesana kemari demi menyambung hidup.  Sampai suatu waktu petualangannya berakhir di terali besi.  Kondisi Cobra yang special membuatnya ditransfer ke LP Anak Pria Tangerang.  Pada usia yang amat muda.  Sekitar tiga belas tahun.

 

Di LP Anak Pria Tangerang Cobra hidup ‘relatif lebih baik’ daripada di luar penjara.  Disini ia punya banyak teman.  Bahkan ia dijadikan maskot oleh teman-temannya. Setiap ada kunjungan dari tamu-tamu LP ia selalu didaulat teman-temannya untuk menyanyi ataupun menerima hadiah. Relatif lebih baik?  “Coba Bapak pikirkan, siapa yang memikirkan nasib Cobra sekarang, dia tak punya siapa-siapa.  Kalaupun keluar penjara iapun tak tahu harus pergi kemana,” tambah Haru Tamtomo lagi.

 

Namun penjara tetaplah penjara. Dan Cobra tetaplah anak-anak.  Kendati ia terkesan senang berada di LP Anak namun ia juga sering frustrasi.  “Saya sering melihat dia shalat . Dia rajin sekali shalat.  Namun di saat lain saya juga mendapat laporan bahwa ia sering membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Sepertinya ia frustrasi.  Ia ingin berbicara normal seperti teman-temannya yang lain namun tak dapat berbicara.  Ingin melihat normal seperti teman-temannya yang lain namun tak dapat melihat normal karena katarak permanen,” papar Haru Tamtomo.

penyakit katarak Cobra bukannya belum pernah ditangani.  “Kami sudah membawanya ke Jakarta Eye Center, tapi mereka mengatakan bahwa penyakit kataraknya sudah parah. Retinanya sudah rusak.  Ada memang donor mata dari Sri Lanka, tapi baru siap enam tahun dari sekarang,” sambung Kalapas Bapak Haru Tamtomo.   

 

Mendengar komplitnya kisah duka Cobra tak terasa mata saya mulai basah.  Apalagi menyaksikan ia menyanyi lagu kebangsaan penjara guna menyambut kami, para mahasiswa.  “Apa kabar hari ini?” luar biasa dahsyat, yes yes yes !!! ujar Cobra. Ia berteriak dan bernyanyi penuh semangat kendati tak jelas apa yang digumamkan.

 

LP Anak Tangerang, 19 April 2008

Setahun berselang saya kembali mengunjungi LP Anak Pria Tangerang.  Memang ini sudah kegiatan rutin tahunan kami sebagai bagian dari perkuliahan Hukum Perlindungan Anak dan Viktimologi.  Mengantar para mahasiswa supaya lebih akrab dengan dunia hukum dalam kenyataannya. 

 

Saya kembali bertemu Pak Haru Tamtomo, Kalapas Tangerang yang sangat kebapakan dan ramah tersebut. Di tangannya LP Anak tak terkesan seperti LP. Kini bertaburan warna-warna cerah dan lukisan tembok anak-anak didik disana-sini.  Lalu saya teringat Cobra yang saya temui tahun lalu. “Apa kabar Cobra, Pak?” tanya saya.  “Wah Cobra sudah tidak disini Pak. Sudah kami pindahkan ke Panti Asuhan Tanmiyah di Bekasi.  Memang masa hukumannya masih belum habis, tapi kalaupun disini kamipun tak banyak dapat menolong karena ia menderita cacat berlipat,” papar Pak Haru.  “Tapi ia masih bisa melihat kan, pak, tahun lalu ia masih dapat melihat?” tanya saya lagi penasaran. “Cobra sekarang sudah tuna netra total Pak. Ia menderita katarak parah yang tak dapat disembuhkan. Operasi pun tak dapat menolong dia terkecuali ada donor mata,” jawab Pak Haru. Jawaban yang sama dengan tahun lalu.

 

Saya sedih tak menemukan Cobra. Saya semakin sedih menyadari bahwa kalaupun saya menemukannya saya pun tak banyak dapat menolongnya. Kecuali dengan doa tentunya.  Namun ternyata saya salah.  Setelah kembali menjumpai adik-adik Andipas (Anak Didik Pemasyarakatan) di aula LP Anak siang hari ini, ternyata saya menjumpai ‘Cobra” – “Cobra” baru yang tak kalah menyedihkan nasibnya. 

 

Saya berjumpa dengan Ilham, seorang anak berusia 12 tahun yang berwajah sangat innocent. Berbadan kurus dan bertubuh pendek. Memang masih sangat anak-anak ia. “Mengapa Ilham sampai disini Pak?”  iseng saya bertanya pada sipir LP di sebelah saya.  “Oh dia terlibat pencurian motor bersama dua temannya,” jawab sang sipir.  “Mencuri motor? How come Pak? Kan badannya kecil begitu?” tanya saya keheranan.  “Kenyataannya bisa Pak. Dia tertangkap tangan oleh polisi di Tangerang. Ia sendiri berasal dari Lampung. Sampai sekarang tak ada satupun keluarganya yang mem-bezuknya. Pun sejak ia diperiksa di kepolisian. Tak jelas juga siapa ayah dan ibunya. Ilham sendiri bingung ketika ditanya siapa ayah dan ibunya,” tutur Pak Sipir.  Tak terasa kedua mata saya mulai sembab menahan air mata.

 

Akhirnya air mata di pelupuk mata saya benar-benar jatuh ketika saya menangkap wajah “Cobra” yang lain.  Sama seperti Ilham. Badannya kecil, berwajah innocent (bisa dibilang “culun”),  berkaus warna oranye dan selalu menunduk. Namanya, sebut saja D. Saya duga ia terjebak pencurian motor juga.  Karena penasaran akhirnya saya bertanya juga pada Pak Sipir.  “Kalau dia kenapa sampai disini Pak, mencuri motor juga?” tanya saya hati-hati takut terdengar D.  “Oh tidak Pak, dia mah kena pasal 289, korbannya anak umur sembilan tahun. Dia sendiri masih berusia sebelas tahun,” jawab Pak Sipir tenang. 

Innalillahi wa ina ilaihi raajiiunn... Pasal 289 di KUHP adalah pasal perkosaan! Anak sekecil itu melakukan perkosaan?

 

Tiba-tiba saya menjadi begitu bersyukur karena masa kecil saya begitu indah, sekaligus bersedih bahwa mereka tak sempat mengecap keindahan masa kecil seperti saya, ataupun seperti anak-anak saya yang seusia mereka...fabiayyi alaa i Rabbikumaa tukadzzibaan...

 

 

Jakarta, 19 April 2008

- Heru Susetyo-


Blog EntrySehabis Wisuda Lalu Apa ?Apr 14, '08 1:35 PM
for everyone
Kamis 10 April 2008,  untuk kesekiankalinya saya turut mewisuda Mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul-Jakarta Barat, tempat dimana saya menjadi pembantu dekan bidang akademik di fakultas hukum lima tahun terakhir, sekaligus salah seorang anggota Senat Akademik Universitas.

Rasa senang menyelimuti saya. Dosen mana sih yang tidak senang mahasiswanya lulus studi dan diwisuda? Namun, di sela-sela keriaan itu ada juga rasa galau. Galau karena masa depan para lulusan baru ini penuh ketidakpastian.  Apalagi salah seorang teman berbisik : "Iya elo sekarang senang diwisuda, tapi besok nganggur lo !"

Memang, nasib dan masa depan tidak sepenuhnya ditentukan manusia. Ada Zat Maha Rahman yang menentukan segalanya. Namun , tetap saja hati ini galau. Karena lulusan-lulusan tahun sebelumnya (tidak hanya di kampus ini) belum juga mendapat pekerjaan, ataupun belum juga dapat menciptakan pekerjaan.

Terkadang ada semacam kegelisahan. Bahwa universitas hanya membekali ilmu seorang mahasiswa namun tidak menyiapkannya untuk mengimplementasikan ilmu tersebut. Universitas hanya mencetak sarjana, namun 'gagal' mencetak profesional atau entrepreneur yang siap kerja atau siap meng-create pekerjaan.

Dan tidak hanya mahasiswa yang baru lulus. Para sarjana-pun sama.  Sebagai pembantu dekan bidang akademik, sudah tak terhitung banyaknya saya menerima lamaran untuk menjadi dosen di kampus ini.  Padahal, semua juga paham bahwa pendapatan sebagai dosen saja seringkali juga tak mencukupi.

Di sisi lain, angka pengangguran di Indonesia terus meningkat. Angka kemiskinan meningkat. Harga-harga meroket, sebaliknya daya beli semakin melemah. Human Development Index Indonesia masih terpuruk (urutan 107 dari 177 negara) dan prestasi korupsinya masih tinggi (ketiga terkorup di Asia versi PERC 2008). Di  sisi lain kriminalitas dan kemaksiatan tak kunjung berkurang.  Climate change, global warming dan bencana alam serta bencana transportasi turut menambah duka bangsa.

Memang, tak guna bersikap pesimis. Lebih baik berkepala tegak dan memandang optimis masa depan bangsa dengan segala potensi dan kesempatan yang dimiliki. Seperti yang diajarkan juga oleh buku-buku self help, personal development, dan achievement motivation.
Banyak negeri yang tak seberuntung Indonesia dalam hal SDA, sebutlah Korea, Taiwan, Jepang, New Zealand dan Nordic Countries,  namun toh jauh lebih maju dari Indonesia.

Maka, bersenang-senang saat wisuda saja tak cukup. Hadapi masa depan dengan tiga hal : kerja keras, kerja keras dan kerja keras (dan tentu saja do'a).

Jadi teringat masa lalu, saya pernah dua kali menolak ikut wisuda. Pertama saat diwisuda Diploma Politeknik Universitas Indonesia tahun 1996 (ini karena alasan sosiologis dan ekonomis) dan kedua saat wisuda program Master of Law -LL.M di Northwestern Law School Chicago tahun 2003 (ini karena alasan ideologis, bentuk penentangan terhadap invasi USA ke Irak).

wallahua'lam



Pengantar :
Berikut tips menarik memperoleh beasiswa berdasakan pengalaman dan pengetahuan Dr Chusnul Mar'iyah, pengajar Ilmu Politik FISIP UI dan mantan anggota KPU (sumber : ISNET mailing list)

wassalam,

Heru Susetyo

------------ --------- ------

Chusnul Mariyah <cmariyah2004@ yahoo.com> wrote:

Menjemput Beasiswa (3 tulisan)

Dari beberapa diskusi ada beberapa pertanyaan tentang beasiswa. Saya
ingin membagi pengalaman menjemput beasiswa. Paling tidak sejak SPG
(Sekolah Pendidikan Guru) sampai mengambil pendidikan Ph.D saya selalu
mendapatkan beasiswa.

1. Pada saat SPG (setingkat SMA) saya menerima beasiswa selama 2 tahun
terakhir. Kualifikasi mudah sekali selama kita bisa menunjukkan ranking
1 sampai 3, kita mendapatkan beasiswa. Ada juga scheme beasiswa untuk
orang miskin.

2. Pada saat pendidikan Sarjana di FISIP UI, saya menerima beasiswa
 dari
Diknas sejak tingkat 2, setelah tentu saja kita menunjukkan prestasi
akademik.

3. Pada saat saya menjadi anggota Senat Mahasiswa FISIP UI, dengan
 Ketua
Senat sdr. Imam Prasodjo, kebetulan saya memegang posisi ketua bidang
pendidikan. Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses
transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan
beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu
rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah
 saja).
Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya
langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke
mahasiswa. Akhirnya saya dapat pindah beasiswa ke Toyota Foundation.
Maka saya sangat kaya saat menjadi mahasiswa waktu itu. Penguasa,
termasuk di universitas, biasanya tidak memberikan informasi jauh hari
kepada mahasiswa. seringkali tinggal beberapa hari, sehingga kita tidak
dapat mengurus beasiswa tersebut karena sudah ditutup.

4. Pada saat yang sama saat di SM FISIP UI, saya juga menjadi
 Sekretaris
Komisariat HMI FISIP UI. Saya melihat bahwa banyak anggota HMI ternyata
miskin-miskin. Bersamaan dengan program SM FISIP UI, saya yang miskin
dan sudah dapat beasiswa, saya panggil orang-orang miskin tsb dan
membuat strategi untuk mendapatkan beasiswa. Belajar diperbaiki,
kualifikasi akademik diperbaiki. Alhamdulillah kita yang miskin-miskin
akhirnya menjadi pinter-pinter dan mendapatkan beasiswa.

5. Pada saat selesai kuliah saya ingin ke luar negeri. Posisi
 Sekretaris
Jurusan Ilmu Politik FISIP UI saya manfaatkan untuk membangun relasi
dengan berbagai lembaga beasiswa. Saat itu juga saya memiliki teman
 anak
Menteri Pendidikan. Saya bilang bahwa saya membutuhkan beasiswa. Dia
 mau
bantu, tapi saya menolaknya. Saya katakan kalau 3 kali saya menjemput
beasiswa dan gagal barulah saya akan meminta katabelece dari teman yang
anak Menteri Pendidikan tsb.  

6. saya mendapatkan beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk
mengambil MPhil Houners Degree di Sydney University. AII ini sebetulnya
tidak tertarik untuk memberikan program beasiswa yang lama (2 tahun).
Program AII menurut saya hanya untuk mendapatkan nama di media sehingga
programnya lebih berupa short visit, seperti  memberi beasiswa kepada
Christine Hakim, Gunawan Muhammad dkk mereka. Alhamdulillah saya
mendapatkan beasiswa tersebut selama 2 tahun dan itu satu-satunya
program AII sampai saat ini.

7. Saya menyadari kebencian saya terhadap bahasa Inggris, karena dari
SPG Lamongan, kuliah di FISIP UI, teman-teman saya kalau dilihat tempat
lahirnya, London, Washington, Manila, Maroko, Amsterdam. Nah, sebagai
orang ndeso Babat tembak langsung ke Jakarta, sebel juga saya dengan
Bahasa Inggris, walau di mata kuliah Bahasa Inggris tetap mendapat
 angka
8 (delapan). Sangat disadari bahasa inggris yang pas-pasan tersebut.
Alhamdulillah saya lumayan IELT nya. Setelah 5 bulan benar-benar
konsentrasi belajar bahasa Inggris, meninggalkan aktivitas LSM dan
lain-2nya. Untuk dapat masuk di Sydney University paling tidak harus
 7,5
IELT yang harus didapatkan. Saya termasuk yang tidak mendapatkan 7,5,
saya lupa mungkin hanya 6,5 IElT tapi tetap dapat masuk di Sydney
University (the first university in Australia).

8. Satu tahun di program Department of Government (Politics), saya
ditawari untuk upgrade ke Ph.D Program yang kebetulan ketua
Departemen-nya Prof. Michael Leigh adalah ahli Asia Tenggara (Malaysia)
istrinya ahli Aceh. Saya tinggal dengan keluarga tersebut. Supervisor
saya tidak mengerti Indonesia, karenanya saya menulis tentang Urban
Politics in Australia. Secara administrasi saya tidak mendapatkan surat
dari Dikti. Saya sudah menunggu setiap hari selama 2 minggu tapi Dikti
tidak memberikannya. Saya bilang ya sudah, langsung ke Kedutaan
Australia, saya katakan masalah saya, dan langsung dibuatkan surat.
 Saya
mendapatkan tambahan 5 tahun beasiswa dari AUSAID. Saya tidak memiliki
degree Master tapi langsung mendapatkan Ph.D walau pada awalnya bahasa
inggris pas-pasan.

Bagian 2

Menjemput beasiswa (2): Informasi beasiswa tidak merata

1. Sebagai Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI 2000-2003,
saya mencoba untuk secara afirmatif membantu mahasiswa untuk
 mendapatkan
beasiswa dengan mencarikan melalui kerjasama maupun mencarikan
 informasi
dari lembaga-lembaga beasiswa yang ada. Alhamdulillah, pada periode
 saya
menjadi Ketua Program Pascasarjana, banyak mahasiswa yang mendapatkan
beasiswa. Kalau tidak bisa memperoleh beasiswa, saya punya program
mahasiswa dapat hutang ke Program Pascasarjana dan kemudian membayarnya
secara bertahap. Kalau tidak bisa membayar, saya memberikan pekerjaan
 di
Program Pascarasjana supaya hutangnya bisa dilunasi.
 
2. Beasiswa dari USAID, saya melihatnya sangat elitist. Tapi saya belum
pernah mencoba. Pertama, yang mendapatkan beasiswa adalah mereka yang
memiliki bahasa inggris sangat bagus. Tidak ada program untuk training
Bahasa Inggris, sepengetahuan saya. Mungkin saya salah. Itu info yang
dahulu kala saya akan coba. Kedua, koneksi menjadi sangat penting,
sirkulasi elit sangat penting (sirkulasinya elit terbatas). Silahkan
dari teman-teman yang telah mendapatkan beasiswa dari USAID dapat
 share.
Saya sendiri setelah selesai mendapat Ph.D baru mendapatkan beasiswa ke
Amerika Serikat untuk short course program yang 3 bulanan tentang
Federalism and Scholarly Aproaches pada tahun 1997. Pada waktu itu di
kantor USAID di washington saya katakan perlunya untuk memperluas
 target
beasiswa agar merata untuk Indonesia dari Merauke sampai Sabang.

3. Beasiswa ke Inggris, koneksi menjadi penting, selain Bhs Inggris
 juga
penting. Saya membantu beberapa asisten dosen saya baik yang bahasa
Inggrisnya pas-pasan maupun yang sudah bagus untuk dapat beasiswa ke
Inggris. Alhamdulillah sebagian besar lolos.


4. Beasiswa ke Australia, memiliki model target yang lebih jelas, 50%
untuk perempuan, Bhs Inggris so so, karena Australia memiliki program
untuk memberikan training bhs Inggris sampai 5 bulan di Indonesia.
Bahkan masih dapat ditambah 8 minggu Bridging Course di Australia.
Konteks dari Indonesia Timur dan Aceh (sekarang banyak sekali beasiswa
untuk Aceh baik ke Australia maupun ke Amerika). Walaupun akhirnya
 bukan
orang Aceh yang mendapatkannya. Koneksi atau rekomendasi dari dosen di
Australia menjadi sangat penting untuk keberhasilan beasiswa tersebut.
Bagaimana caranya, tulis email saja langsung dengan professor atau
 dosen
di perguruan tinggi Australia yang topiknya mirip dengan studi yang
 akan
diambil. Kemampuan untuk membuat proposal yang akan dinilai. Apakah
topiknya seksi atau tidak? Contoh, akan mudah mendapatkan beasiswa
 kalau
anda mengambil topik tentang politik Papua, Timor Timur atau Aceh. Ada
kawan saya yang mengambil topik pemikiran politik berkali-kali tidak
pernah bisa lolos. Dengan peta politik isu teorisme menjadi isu
primadona untuk penerima beasiswa. Apalagi sekarang, baik AUSAID maupun
USAID kelihatannya sangat senang untuk memberikan beasiswa dari IAIN
atau kelompok Islam. Anda yang dari HMI dapat menggunakan kesempatan
ini. Di Australia, sebagian besar yang ambil Master dan Ph.D Ilmu
Politik berlatar-belakang dari IAIN.

5. Makanya dalam Miriam Budiardjo Lecture yang diselenggarakan oleh
IAIPI di LIPI bulan lalu, saya dalam lecture tersebut mengatakan bahwa
profesi Ilmu Politik sudah diambil alih oleh IAIN, bahkan anggota KPU
diketuai oleh Doktor dari IAIN (dari dua prof di KPU, satu IAIN satunya
lagi pertanian). Mudah-2an 3 lulusan IAIN di KPU tersebut Iqra terlebih
dahulu. Bagi anda yang lulusan IAIN sekarang sedang seksi sekali karena
Islam dianggap  sumber "teroris" so, mereka akan memberikan beasiswa
untuk topik-2 politik Islam. Itu analisa saya. There is no such a free
lunch. Beasiswa juga demikian. Penerima beasiswa harus percaya diri,
jangan kemudian lupa kepada akar dan bangsanya sendiri.

6. Saya pernah menjadi bagian untuk menentukan beasiswa dari Belanda.
Sayangnya saya harus berhenti karena mereka menganggap saya koruptor di
KPU. Anyway, Belanda juga memiliki program untuk kelompok Islam dari
Ambon, tapi tidak banyak informasi tersebut yang sampai ke kelompok
Islam. Menurut mereka, mereka menyadari memberikan beasiswa hanya
 kepada
kelompok Kristen tidak menjawab persoalan konflik Islam-Kristen di
Ambon. Belanda melalui Studenet-nya cukup banyak memiliki beasiswa
 untuk
program-program pendek yang dapat dirancang sendiri. Walaupun ke
 Belanda
juga harus tetap memiliki bahasa inggris minimal.

7. Dari berbagai Negara, Perancis, Jepang, Jerman, negara Skandinavia
(seperti Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia), keberhasilan studi di
negara-negara yang bukan berbahasa inggris adalah kemampuan kita untuk
secara cepat belajar bahasa setempat. Seperti di Jepang, kalau kita
belajar social sciences, perpustakaan yang ada dalam bahasa Jepang
semua. Tentu saja mereka juga punya bahasa inggris. Kecuali bagi mereka
yang belajar science dan technology. Demikian pula di Jerman, adik saya
yang katanya sebelum berangkat dikatakan 50% akan menggunakan bahasa
inggris, pada prakteknya 75% bahasa Jerman. Silahkan teman-teman yang
lulusan dari negara tersebut berbagi pengalamannya. saya sendiri pernah
ke Jepang ke Hosei University hanya untuk program pendek saja.

8. Dari negara-negara Timur Tengah, saya tidak terlalu tahu, kecuali
saya pernah berbicara dengan kedutaan Iran untuk memberikan beasiswa
untuk mempelajari politik Iran. Sayang belum sempat saya lanjutkan
pembicaraan tersebut.

9. Beasiswa dari lembaga-lembaga dalam negeri, dulu ada OTO Bapenas
(loan sifatnya, tapi negara yang membayar). Saya pernah untuk beberapa
tahun terlibat untuk menentukan beasiswa dari Ford Foundation. OSI
 (Open
Society Institute) juga memberikan beasiswa untuk Master ke Budapest
(Central European University) dsb.

10. Masih ingat beasiswa BPPT dari sejak Lulus SMA? itu sifatnya hutang
atau loan. Negara memang yang membayar bukan penerima beasiswa. Ke mana
lulusannya? Menurut saya mustinya lulusan beasiswa tersebut harus dapat
melakukan kerja dengan disebar ke kabupaten/kota, dan negara memberi
insentif dan program untuk teknologi terapan. Bisa anda bayangkan para
insinyur lulusan luar negeri membangun teknologi di kabupaten/kota di
Indonesia? Dengan demikian kabupaten/kota se Indonesia akan berkembang.
Daripada di kantor BPPT dan di Bandung (perusahaan pesawat terbang yang
selalu demo terus-menerus) . Tidak tahu bagaimana pemerintah
menyelesaikan masalah tersebut? Kenapa tidak ditawarkan ke
 daerah-daerah
saja? Kasihan Pak Habibie terpaksa harus mencarikan kerja bagi mereka
 di
Jerman, Perancis atau Belanda? Padahal mereka dibayar oleh uang rakyat
Indonesia, bukan?

Bagian 3 (terakhir)
 
Sukses mendapatkan beasiswa dan sukses studinya

1. Untuk sukses studi terdapat berbagai factor, di antaranya dapat
memilih topik yang sedang diminati oleh kebijakan dari negara pemberi
beasiswa. Hal tersebut terutama untuk social sciences. Apa yang sedang
diminati dan membuat topik yang sesuai dengan yang diminati serta
 sesuai
dengan minat kita. Paling tidak harus ada kompromi. Menulis proposal
harus pula jelas dan tajam. Jangan malu-malu bertanya.

2. Bahasa Inggris, menjadi hambatan untuk kita yang biasanya dari
daerah-2. Nah, kita perlu belajar dengan rajin mendengarkan berita
 dalam
bahasa Inggris, misalnya. Juga harus ada keinginan yang besar dan niat
yang kuat untuk bisa bahasa Inggris. Saya yakin kita semua bisa.
 Apalagi
yang memiliki kemampuan multi bahasa, ada bahasa Jawa, bahasa
 Indonesia,
bahasa Arab, atau bhs lainnya. Belajar bahasa Inggris tidak sulit.

3. Saya sendiri berangkat dengan bahasa Inggris pas-pasan. Bahkan ada
professor serta teman mengatakan, kamu berani sekali mengambil Ph.D
dengan bahasa Inggris pas-pasan. Well .. jangan takut, EGP saya dapat
beasiswa kok. Asal anda mau belajar, semua menjadi mudah. Saya punya
strategi sendiri. Setelah di Australia, saya tidak tinggal dengan orang
Indonesia, ya kalau orang Indonesia numpang beberapa waktu di tempat
saya iya juga, tapi tidak lama. Tidak terlalu banyak bermain dengan
orang Indonesia. Maaf, walau sering dianggap sombong, wah ya biarkan
saja. Ini mau belajar, bahasa Inggris yang pas-pasan itu, kalau dengan
orang Indonesia ya bahasa Inggrisnya tidak maju-maju. Termasuk saya
dapat memaksa para ahli Indonesia tidak berbicara bahasa Indonesia
dengan saya. Masuk di kelas malam sebelumnya harus banyak membaca
 supaya
besoknya mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dosennya. Harus ada
minat yang kuat dan mempraktekkan bahasa tsb. Jangan takut salah. Bisa
dihitung satu dua saja orang asing yang menulis tesis dalam bahasa
Indonesia, kita menulis tesis dalam bahasa Inggris. Jadi masih lebih
bagus kan? Percaya diri harus bisa bahasa Inggris. Tapi jangan sok
pinter. Intinya belajar, belajar, dan belajar, baca, baca dan baca.
Bangun pagi alarmnya, news dalam bahasa Inggris. Paling tidak
membutuhkan 6 bulan proses tersebut. Setelah 6 bulan, alhamdulillah
membaca buku, artikel, berteman dengan orang Indonesia dan bicara Bhs
Indonesia, sudah tidak takut bahasa inggrisnya hilang. Bahkan pada
semester 3 saya sudah ditawari untuk menjadi tutor mata kuliah South
East Asian Politics di Sydney University (selama lima tahun) yang
memiliki mahasiswa sampai 70 orang, artinya sampai memiliki 5 kelas
tutorial. Nah, terpaksa harus berbicara bahasa Inggris kan? Gramar
 salah
tidak usah takut, tapi tetap harus belajar.  

4. Menulis disertasi atau tesis itu sendirian, lama dan lonely, makanya
memang harus memilih topik yang menarik. Menulis disertasi di luar
negeri harus mengubah budaya di Indonesia. Mahasiswa kebiasaannya hanya
menulis pada satu tahun terakhir. Di luar negeri, kalau bisa sejak
berada di negeri tersebut imannya harus kuat, topik jangan berubah-ubah
namun boleh terus-menerus dipertajam, menulis langsung dalam bahasa
inggris, jangan bahasa Indonesia terus diterjemahkan. Jangan
 menggunakan
kamus Inggris-Indonesia, tapi gunakan kamus Inggris-Inggris. Hal
tersebut akan membantu anda dalam menulis dan memahami. Cintailah
 bahasa
inggris tersebut supaya lebih cepat dapat mengerti.

5. Rekomendasi menjadi penting. Contoh, kenapa dari kelompok pemuda NU
sekarang banyak yang sekolah ke luar negeri dibandingkan pemuda
Muhamadiyah? Kelompok laki-lakinya tentu lebih banyak dari perempuan?
Kelompok Kristen lebih banyak dibanding Muslim (secara prosentase)?
Sekarang IAIN mendapatkan prioritas diterima. Kesemuanya itu adalah
berhubungan dengan rekomendasi, baik dari Indonesia maupun dari team
dari negara pemberi beasiswa. Saya yakin kelompok HMI memiliki akses
rekomendasi di seluruh dunia. Di sini penting bagaimana rekomendasi
tersebut dapat menarik atau dapat "menjual diri" dengan baik. Saya
dahulu karena rekomendasi dari Prof. Richard Chauvel, bahkan beliau
sampai mencarikan siapa yang akan menjadi pembimbing saya. Prof.
 Richard
Chauvel adalah dosen tamu yang mengajar politik Australia di UI selama
 4
tahun. Pertemanan dengan beliau sudah banyak menghasilkan lulusan
Australia.

6. Menurut saya para alumni harus membangun institusionalisasi beasiswa
dengan membuat lembaga pemberi beasiswa, atau dapat berbicara dengan
negara pemberi beasiswa. Oleh karena itu perlu dimulai pembentukan
lembaga untuk mengumpulkan dana abadi untuk dapat memberi beasiswa.
 Saya
agak risi kalau setiap awal semester harus meyakinkan kepada senior
bahwa mahasiswa ini membutuhkan beasiswa untuk membayar uang SPP kalau
tidak akan di DO.

7. Alumni yang ada di pemerintahan dapat pula bernegosiasi untuk
membangun network dengan negara pemberi beasiswa. Hal ini dapat
dilakukan melalui kegiatan2 selain diskusi-2 seperti biasanya. Contoh,
Wakil Presiden dan para direktur-2nya. Katakan, kalau AUSAID memberi
sampai 500 beasiswa, kenapa tidak Wakil Presiden meminta 10 saja dengan
menentukan scheme sendiri. Untuk Australia bisa ada scheme ADS, ALA,
APS, Alison Sudrajat, atau yang langsung dengan universitas yang
bersangkutan. Ada beasiswa lengkap dengan biaya hidup, ada yang hanya
tuition fee. Demikian pula dengan beasiswa dari berbagai departemen
seperti Departemen Keuangan yang sangat kaya itu. Mustinya semua
departemen melakukannya. Kenapa jadinya Departemen Pendidikan bingung
menghabiskan dana 20% APBN? Saat ini Departemen Pendidikan sedang
memberikan beasiswa yang sangat banyak bagi model Sandwich program 1
tahun di luar negeri untuk S3 atau S2 juga? Lembaga dapat memberikan
fasilitas untuk informasi tersebut.

8. Sebagai Ketua Program Pascasarjana Politik FISIP UI pada tahun
2000-2003 dulu, saya seringkali dikeluhkesahi oleh mahasiswa yang tidak
dapat uang dari senior-seniornya. Saya berfikir kenapa senior lebih
 suka
memberi uang kepada mahasiswa sekali-kali, dibandingkan kepada lembaga
yang memberikan beasiswa tersebut? Mungkin senior akan dapat membangun
konstituen atau klik atau apa saja dengan memberikan uang kepada
mahasiswa tersebut, semacam balas budi? Kenapa tidak dilakukan
institusionalisasi untuk dapat memberikan beasiswa dengan visi dan
misinya? Tentu saja tidak dilarang tetap memberikan zakat berupa
beasiswa kepada mahasiswa tertentu.

9. Beasiswa untuk program jangka pendek sangat banyak sekali. Silahkan
rajin-rajin mengikuti program pendek tersebut. Bahkan saat ini setelah
selesai dengan KPU, saya mendapatkan ALA Research Fellowship di
 Victoria
University, Melbourne. Karena seorang kolega saya (lagi-lagi Prof.
Richard Chauvel) sangat prihatin dengan kondisi saya di KPU pasca
 pemilu
2004. Beliau dengan Prof. Michael Meigh dan Dr. Barbara Leigh
mencarikan jalan untuk dapat mengundang saya ke Australia, untuk
 disuruh
membaca, menulis dan memberi kuliah. Mereka sangat menghargai
 pengalaman
politik kita, walau saya berfikir kok bangsa sendiri malah seringnya
hanya menghujat dan meremehkan ya? Itu namanya nasib dan takdir
barangkali ya?

10. Semua beasiswa dari negara-negara maju dapat diakses melalui
internet. Silahkan cek saja melalui Google, anda akan mendapatkan
informasi beasiswa apapun. Jangan terlambat. Saya yakin banyak orang
yang memiliki pengalaman yang sama dalam hal ini dapat share
pengalamannya. Bagi mereka yang ingin mendapatkan beasiswa dan sekedar
bertanya dengan senang hati dapat langsung beremail kepada saya.
 Selamat
untuk menjemput beasiswa dan selamat belajar.

Salam,
Chusnul Mar'iyah
www.chusnulmariyah. or.id
cmariyah2004@ yahoo.com

     
Melbourne, 13 April 2008
Chusnul Mar"iyah



Sekitar tahun 1992 - 1993 beberapa mahasiswa FHUI yang kerap menginap di sekretariat Yayasan Al Fath jalan Margonda Raya Depok membutuhkan seorang guru bahasa Arab untuk mempertinggi pengetahuan keislaman dan penguasaan bahasa Arab mereka. Ini adalah semacam ekstrakurikuler atas inisiatif para pribadi, tak berhubungan sama sekali dengan urusan per kampus-an. Setelah meminta bantuan beberapa pihak, pada suatu hari datanglah guru bahasa Arab yang kami harap. Ia datang sepekan sekali setiap ba'da subuh. Datang dengan menggunakan motor Honda C 700 putihnya. Yang pada tahun 1992-pun sudah tergolong motor 'jadul.'  Terlepas ke'jadul" -an motornya, Memang bahasa Arab sang ustadz ini  luar biasa. Maklumlah, ia lulusan LIPIA Jakarta.
Setelah kursus informal bahasa Arab ini usai dan kamipun satu demi satu lulus dari FHUI, lama kami tak mendengar kabarnya lagi. Barulah namanya terdengar lagi pada tahun 2004 ketika ia menjadi Wakil Ketua DPRD DKI. Lalu, hari ini, namanya kembali menyedot perhatian publik, karena kemungkinan besar ia akan menjadi Gubernur Jawa Barat 2008 - 2013 berdasarkan data quick count beberapa lembaga survey di pilkada Jabar hari ini. Ya, Namanya Ahmad Heryawan, Lc.

Blog EntryGABRIELLA, Partai Politik Perempuan PhilippinaApr 7, '08 12:27 PM
for everyone
Gerakan perempuan di Philippina sungguh maju dan dinamis. Tak sekedar memasuki ranah publik namun sekaligus mempengaruhi policy making. Tak sekedar memantapkan quota 30% di parpol tertentu, namun membuat partai politik perempuan sendiri. Parpol perempuan? ya anggotanya semua perempuan, caleg dan aleg-nya perempuan (kendati pemilihnya tak harus perempuan). Inilah GABRIELA (the General Assembly Binding Women for Reforms, Integrity, Equality, Leadership, and Action) parpol perempuan Philippine berdiri pada April 1984.  Kini Gabriela telah menempatkan dua anggotanya untuk  parlemen di Manila.Satu mewakili  Luzon dan yang lainnya Mindanao. Kisah Gabriela dapat dilihat disini :  http://www.gabrielaphilippines.org/index.php




History

Filipino women have a long struggle against oppression, foreign control and male domination. They fought for better jobs and the rights to vote and go to school. One of them led a regional revolt against Spanish colonizers. She was Gabriela Silang.

Primed by the anti-dictatorship campaign and the drive for economic and political change in the Marcos years, women's organizations established the national women's coalition, GABRIELA the General Assembly Binding Women for Reforms, Integrity, Equality, Leadership, and Action.

Starting from 42 when we organized in April 1984, we are today a center of over a hundred women organizations, institutes, desks, and programs. Our ranks include women workers, peasants, urban poor, housewives, professionals, religious and students across the country.

We believe that the freedom women seek will be brought about by the resolution of the problems of foreign domination, landlessness and political repression and in the changing of patriarchal value systems and structures in Philippine society.

We focus on issues that affect women: the effects of militarization and women's landlessness; the International Monetary Fund-World Bank and the debt crisis; denial of women's reproductive rights and gross neglect of health care for women; violence on children, wife abuse and family life; development aid; prostitution and trafficking of women.

Filipino women have a long history of struggle against foreign domination and women oppression. They fought for better jobs and the right to vote and go to school. One of them led a regional revolt against the Spanish colonizers. She was Gabriela Silang.

Primed by the anti-dictatorship struggles and the drive for significant economic and political change in the Marcos years, women from all walks of life banded together and established a national women's coalition. We called ourselves GABRIELA in honor of Gabriela Silang. It was the call of the time and Filipino women, like their predecessors in history, valiantly responded to the challenge of struggling for liberation.

From being a coalition of only 42 organizations in 1984, we are, today, a grassroots-based national alliance of 250 organizations, institutions, desks, and programs.

We believe that the freedom women seek will be brought about by the resolution of the problems of foreign domination, landlessness and political repression, and in the changing of patriarchal value systems and structures in Philippine society.

We work against issues that adversely affect women: landlessness, militarization, the foreign debt crisis and the IMF-WB impositions, GATT-WTO, anti-people development projects, the denial of women's health rights, violence against women and children, prostitution, trafficking in women and migration, and many more.

Likewise, we work to promote a positive social attitude toward women through cultural means and consciousness-raising.

 





















Cebu Pacific Air, the low cost carrier of Philippine, might be considered as the most "gaul" airline in the world. The flight attendants wear polo shirt, selling good on board by wearing black glasses and distributing souvenirs for passengers who can answer the quiz,
what an airline !

Blog EntryCecilia dan Duka Timor LesteApr 1, '08 1:36 PM
for everyone





































Bahasa Indonesianya masih sangat baik.  Jelas dan memenuhi kaidah EYD. Logatnya amat mirip dengan perempuan Indonesia asal Papua. Namun ia bukan orang Papua. Namanya Cecilia Fonseca. Asli Timor Leste (ini nama resmi negara mantan propinsi ke 27 Indonesia ini, bukan East Timor apalagi Timor Timur).  Ia datang ke Davao, Philippine untuk Womanhood Conference. Sama seperti saya. Bedanya,ia bercakap tentang duka dan pemberdayaan wanita Timor Leste pasca konflik dalam bahasa Inggris yang lancar. Saya bicara masalah hukum perceraian di Indonesia.

Cecilia datang mewakili Alola Foundation, NGO yang di ketuai oleh istri PM Xanana Gusmao dan bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Alola alias Juliana adalah nama asli seorang perempuan Timor Leste yang menjadi korban perkosaan milisi pasca kerusuhan 1999, saat masih berusia 14 tahun.

Cecilia bertutur bahwa Timor Leste saat ini tidak bertambah baik. Penembakan Ramos Horta, konflik sipil antar pendukung Mari Alkatiri dan Horta/ Xanana kian meruyak. Diperburuk dengan konflik antar polisi Timor Leste yang berasal dari dua sisi yang berbeda, Barat dan Timor pada tahun 2006 yang berujung pada lengsernya PM Mari Alkatiri dan tertembaknya Horta.

Elit politik bertikai rakyatlah yang menjadi korban. Rakyat Timor Leste, utamanya perempuan dan anak-anak, kini hidup dalam kesengsaraan. Mata uang yang digunakan adalah US Dollar ($). Beras susah didapat. Dulu diimpor dari Indonesia, kini dari Thailand dan China dengan harga yang melambung.

Untuk membeli baju layak pakai, penduduk menanti second hand clothes dari Australia atau Singapore, atau dari barang2 jualan Mas-Mas asal Jawa yang harganya, tutur Cecilia, di atas Rp 50.000,-

"Saya biasa belanja ke Bali. Saya tahu tempat belanja yang baik di Bali. Sebaliknya, saya jarang ke Jakarta. Terakhir tahun 2003. Kalau saya ke Jakarta, biasanya orang mengidentifikasi saya sebagai orang Papua," ujar Cecilia.

"Saya nyaris kuliah di Jogja kalau tidak terhalang peristiwa 1999. Kakak saya dulu studi di Jogjakarta. Saya sendiri lulusan Universitas Timor.

Selama conference, Cecilia lebih banyak mingle dengan partisipan asal Indonesia yang berjumlah lima orang. Kendati negara sudah berbeda dan batas fisik sudah tersedia antara Indonesia dan Timor Leste, namun batas kultural adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan. Betapapun kultur Timor Leste pernah cukup kuat dipengaruhi oleh Indonesia. Iapun berbatasan alam dengan NTT. 

Rakyat Timor Leste masih cukup banyak yang berbahasa Indonesia. Kami pernah mengikuti seminar di New Zealand pada tahun 2004, seminar mana dihadiri pula oleh dua orang jurist Timor Leste, satu advokat dan satu lagi hakim. Satu lulusan UGM yang lainnya lulusan Udayana. Uniknya, dalam conference tersebut, sang jurist membawa kamus Inggris-Indonesia, bukan Inggris-Tetun atau Inggris-Portuguese.  Cecilia menambahkan, bagaimana tidak berbahasa Indonesia, wong anak-anak Timor Leste saat ini lebih sering menonton sinetron2 Indonesia di TV mereka...


Blog EntryHarga Lima Tahun Perang IrakMar 20, '08 5:58 AM
for everyone

HARGA LIMA TAHUN PERANG

 

Heru Susetyo

Mahasiswa Program Doktor

Bidang Human Rights & Peace Studies

Mahidol UniversityThailand

 

 

“Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.”

(Condoleeza Rice, mengutip George Bush 11 Maret 21008)

 

Tanggal 20 Maret 2008 ini, invasi Amerika dan sekutunya ke Iraq menginjak tahun kelima. Joseph Stiglitz, peraih Nobel bidang ekonomi tahun 2001 dan professor di Columbia University, menyebutkan bahwa pemenang sejati dari perang Iraq bukanlah Amerika, bukan sekutu, apalagi rakyat Irak, namun para perusahaan minyak dan para kontraktor.

 
Dalam artikelnya di The Nation (12/03/08) berjudul `The Three Trillion Dollar War` Stiglitz menyebutkan bahwa pihak yang paling menderita kerugian akibat perang Irak adalah rakyat Irak sendiri. Dari 28 juta penduduknya, 4 juta jiwa menjadi pengungsi di negeri sendiri (Internally Displaced Persons –IDPs) dan 2 juta jiwa mengungsi ke negara lain. Sebanyak 450.000 penduduk dan tentara Irak telah tewas pada 40 bulan pertama dari Perang Irak. Jumlah korban tewas saat ini telah mencapai 600.000 jiwa. Data lain dari jusforeignpolicy.org (2008) menyebutkan total warga Irak (sipil maupun tentara) yang tewas berjumlah 1.189.173 jiwa.

 
Akibat invasi AS tersebut, setengah dari total dokter di Irak telah tewas ataupun meninggalkan Irak. Angka pengangguran kini mencapai 25% dan kota Baghdad kini hanya menikmati delapan jam listrik saja dalam sehari.

 
Bagi negara Amerika Serikat sendiri perang Irak adalah bencana. Baik bencana politik, sosial, maupun ekonomi. Jumlah tentara AS yang tewas di Irak per Februari 2008 telah mencapai 3990 jiwa. Sementara 29395 jiwa lainnya mengalami luka-luka (
www.antiwar.org). Bandingkan dengan jumlah korban tewas pada peristiwa WTC 9/11 yang berjumlah 2978 jiwa (Washington Post 26/12/06).

 
Bencana selanjutnya adalah bencana ekonomi. Biaya perang selama lima tahun adalah sejumlah US $ 2 trilyun. Padahal di awal perang, pemerintahan Bush hanya menganggarkan US $ 50 milyar saja.  Angka lima puluh milyar dollar AS kini hanya cukup membiayai perang selama tiga bulan saja. 

 
Kendati biaya perang ini tidak sepenuhnya ditanggung AS, namun tak tak dapat dipungkiri bahwa generasi mendatang rakyat AS dan juga warga dunia mesti menanggung biaya tersebut. Hutang nasional AS saat ini adalah US $ 5.7 trilyun dan akan bertambah US $ 2 trilyun setelah perang.

 
Amerika Serikat juga harus menanggung biaya kesehatan dari tentaranya yang bertugas di Perang Irak. Sebanyak 52.000 dari veteran perang Irak telah didiagnosa mengidap PTSD (post traumatic stress disorder) dan 40% di antara 1.65 juta tentaranya harus diberikan kompensasi karena menjadi cacat (disability).

 
Joseph Stiglitz menyebut mahalnya biaya, baik ekonomi maupun sosial, yang harus dibayar akibat perang Irak ini adalah buah dari ketidakmampuan dan ketidakjujuran. Tidak jujur karena alasan utama invasi AS ke Irak adalah dalam rangka pre emptive strike untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) sekaligus menggulingkan Saddam Hussein yang ditengarai memiliki hubungan dengan Al Qaida, pelaku terorisme 9/11.

 
Saddam Hussein memang kemudian terguling dan belakangan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan boneka AS. Namun hingga digantungnya, tetap saja AS dan sekutunya tak dapat membuktikan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal dan pemerintahan Saddam Hussein memiliki hubungan dengan Al Qaida. Sebaliknya, mesin perang AS dan sekutunya justru menjadi senjata pemusnah massal yang menewaskan ratusan ribu rakyat Irak.


Perang yang Bermasalah

Sedari awal perang ini memang bermasalah. Statusnya adalah ilegal di mata hukum internasional. Karena tak mendapatkan otorisasi dari Dewan Keamanan PBB (UN Security Council). Suatu perang hanya dapat dijustfikasi oleh hukum internasional ketika ada persetujuan dari UN Security Council, baik karena alasan membela diri (self defense) ataupun karena adanya ancaman yang nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional (threat to international peace and security), sebagaimana yang disebutkan dalam Bab VII piagam PBB (UN Charter).

 

Permasalahan yang kedua adalah begitu banyaknya pelanggaran hukum humaniter (hukum perang) yang dilakukan oleh AS dan sekutunya di  Irak. Begitu banyak rakyat sipil yang tewas, termasuk diantaranya adalah wanita, anak-anak, orangtua, dan tentara yang tak ikut berperang yang semestinya harus dilindungi berdasarkan konvensi Geneva 1949. Suatu konvensi dimana AS turut menjadi penandantangan dan pihak (party).

 

Pelanggaran hukum humaniter yang lain adalah penganiayaan dan penyiksaan terhadap tawanan perang. Dunia masih cukup ingat dengan penganiayaan dan penghinaan terhadap tawanan perang Irak di penjara Abu Ghraib pada tahun 2004. Tawanan perang, yang semestinya juga wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 nyatanya dipermalukan dan disiksa dengan cara yang sangat merendahkan. Padahal, AS adalah juga peserta dari Konvensi Anti Penyiksaan PBB (Convention Against Torture).   

 

Pelanggaran selanjutnya adalah hancurnya dan dijarahnya ratusan situs budaya dan peninggalan masa silam (cultural heritage) di Baghdad dan sekitarnya akibat perang.  Padahal, situs yang berusia sama tuanya dengan era Babylonia itu wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Warisan Budaya di Masa Konflik Bersenjata. 

 

Laporan HAM versi AS tahun 2007

Begitu banyak kecaman terhadap perang Irak yang dilontarkan warga dunia. Termasuk di dalam negeri AS sendiri. Juga oleh para kandidat presiden AS dari partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton. Namun toh belum nampak tanda-tanda bahwa kesengsaraan rakyat Irak akan segera berakhir. Karena nyatanya pasukan AS dan sekutunya masih bercokol disana.

 

Alih-alih mengecam perang Irak, pada 11 Maret 2008, Condoleeza Rice, menteri luar negeri AS, mengumumkan laporan tahunan HAM semua negara di dunia (Country Report on Human Rights Practice 2007 –www.state.gov).  Dalam laporan tersebut, kementerian luar negeri AS mengkritisi kondisi HAM di hampir seluruh negara di dunia. Namun anehnya, tidak memberikan laporan tentang kondisi HAM di AS sendiri .

 

Laporan tersebut menyebutkan pemerintah Cina sebagai otoriter dan penegakan HAM-nya cenderung lemah. Pemerintah Indonesia secara umum dianggap respek terhadap HAM, namun kelembagaan hukumnya dan kemauan politiknya lemah. Uniknya, pada bagian tentang HAM di Irak, laporan tersebut lebih banyak menyoroti sisi perang saudara di Irak, timbulnya gerakan separatis bersenjata, adanya kelompok yang berkomplot dengan Al Qaida, teror bom dan serangan bunuh diri disana sini. Tak menyebut peran AS dan sekutunya dalam pelanggaran HAM di Irak.

 

Satu keunikan lagi, di awal pidato untuk mengumumkan laporan HAM seluruh negara dunia 2007 ini menteri Condoleeza Rice mengutip kalimat Presiden George Bush : “As President Bush has said, “Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.” (kemerdekaan dapat ditahan, kemerdekaan dapat ditunda, namun kemerdekaan tak dapat ditolak).


Pertanyaannya, kemerdekaan seperti apa yang kini didapatkan sejuta lebih rakyat Irak dan ribuan tentara AS dan sekutu yang tewas di Irak?  Bukankah pemenang sebenarnya perang Irak adalah, seperti analisis Joseph Stiglitz, adalah para perusahaan minyak dan perusahaan kontraktor pembangunan Irak?


Blog EntryCar Bomb Attacked My Hotel in PattaniMar 16, '08 7:14 AM
for everyone

On 7 - 8 December 2007 I attended peace building conference in CS Pattani Hotel, represented Indonesian activist. The hotel is among the best in three Southernmost provinces of  Thailand (Pattani, Yala, Narathiwat), but please do not compare it with the same class hotels in Bangkok or Phuket. The conference, itself, tried to find solution for peace building process among the warring parties, government officials, informal and traditional leaders, as well as common people  living in three southernmost provinces.  All the participants enjoyed the discussions and shared common objective, which is to attain peaceful living in three southernmost provinces.  However, on March 15th 2008, a car bomb blasted inside this lovely hotel. Killed two persons and injured fourteen others.  I`m really sad to hear the news. The more violences, the more people suffer. Please let the people smile and run their lifes peacefully !

 


http://www.nationmultimedia.com/2008/03/16/national/national_30068277.php

2 killed, 14 injured in car bomb attack at Pattani hotel

Pattani - A powerful bomb exploded Saturday at Pattani's popular CS Hotel, killing two and injuring at least 14, including owner Anusas Suwanmongkhol and Nation Multimedia Group journalist Pares Lohasen.



A smaller bomb had exploded at 8pm in a groundfloor restroom, causing little damage. Then 20 minutes later another was detonated outside the hotel coffee shop.

A security guard was killed instantly, and a hotel driver died later in hospital. Of the injured, five were taken to hospital. The explosion broke all the eightstorey hotel's windows.

Anusas is an appointed senator.

The bomb was hid inside a car parked in front of the hotel about 15 metres from the lobby.

Two of the injured were in critical condition.

The injured were rushed to the provincial hospital.

A security official said the car bomb might be linked to a failed car bomb attempt in Yala in which the alleged insurgent was killed in the afternoon because the two cars were from the same make and colour.

The security source said the insurgents chose the spot because leading figures often came to drink coffee and chat at the lobby.

The hotel is about 1 kilometre away from another hotel where the Thai Journalist Association was holding a seminar.

The source said while security officials stepped up protection of the hotel where the seminar was being held, security measures at CS Hotel might lax, allowing the attack to be made.

The Nation

Blog EntryDi Negeri Makmur Ikan-pun Senang HidupMar 14, '08 7:52 AM
for everyone


Saya bukan ahli ikan apalagi peneliti masalah perikanan. Hanya pengamat dan penikmat (makan) ikan. Di negara m